Banjir Bandang Terjang X Koto Singkarak


Sabtu, 02 April 2016 - 04:36:01 WIB
Banjir Bandang Terjang  X Koto Singkarak BENCANA banjir bandang yang melanda nagari Koto Sani kec X Koto Singkarak, Jum’at (1/4) dini hari, juga mengakibatkan longsor di sejumlah titik hingga menutup akses jalan penguhung antara jorong di nagari itu. (YUTISWANDI)

AROSUKA, HALUAN — Hujan deras yang mengguyur Kab. Solok, Kamis (31/3) malam lalu membuat sejumlah wilayah di Nagari Koto Sani kec. X Koto Singkarak terkena luapan air bah yang berasal dari bukit kemuning yang berada di pinggir Nagari itu. Luapan air bah yang disertai material lumpur dan batu itu praktis membuat, sejumlah rumah masyarakat tertutup material lumpur sedalam mata kaki.

Dari informasi yang dihimpun Haluan di lokasi kejadian menye­butkan, kondisi ini diperparah oleh saluran irigasi yang melintasi daerah itu tak mampu lagi menampung datangnya air bah akibat saluran dan gorong-gorong yang ada tertutup

material batu yang dibawa oleh arus air.  Setidaknya  ada tiga jorong yang terkena luapan air bah ini. Yaitu Jorong Limo Niniek, Jorong Kasiek, Jorong Padang Belimbing sementara  Jorong Ujung Ladang saat ini masih terisolasi karena jalan yang menghubungkan ke jorong tersebut tertimbun longsor. Se­tidaknya ada 15 titik longsor menuju jorong tersebut.

“ Setidaknya, ada sekitar 1600 jiwa yang tinggal di Jorong Ujung Ladang, yang kini masih ter­isolasi,” jelas Camat X Koto Singkarak, Irwan Effendi kepada Haluan, Jum’at (1/4).

Disebutkannya, dari data se­mentara yang diterimanya di posko darurat bencana, untuk jorong Limo Ninik ada sekitar 212 rumah yang  terdiri dari 979 jiwa dan 247 KK terkena tim­bunan material banjir bandang serta longsor di 5 titik. Kondisi ini juga mengakibatkan sekitar 17 hektar sawah pertanian juga ikut teren­dam material banjir bandang.

Sementara untuk Jorong Ka­siak, ada sebanyak 92 Rumah yang dihuni oleh sebanyak 454 Jiwa dan 108 KK dan 9 titik longsor serta 32 hektar sawah terendam dan tertimbun ma­terial.” Meski tak ada korban jiwa, namun saat ini kita belum bisa menghitung berapa kerugian yang alami akibat musibah ini,” kata Irwan.

Sementara terkait Jorong Ujung Ladang, masyarakat ber­sama pemerintah nagari, camat, Polsek, BPBD dan Kodim 0309 Solok  masih berusaha mem­bersihkan material longsor de­ngan menggunakan peralatan seadanya.

“Kita saat ini butuh alat berat untuk memindahakan material longsor dan membuka akses jalan menuju daerah itu. Karena kalau hanya mengandalkan tenaga manu­sia sangat terbatas,” tambah Irwan.

Irwan menyebutkan, bencana alam yang terjadi yang diawali sekitar pukul 23.30 WIB malam itu, praktis membuat warga tak mampu berbuat banyak, karena selain hujan turun cukup deras. PLN juga memadamkan aliran listrik ke daerah itu, karena kabel instalasi listrik yang ada di daerah itu tertimpa oleh pohon tumbang di beberapa tempat.

“Banyak warga yang belum tidur sejak semalam, karena was-was akan bencana yang lebih besar. Kondisi malam yang gelap gulita membuat warga juga tak mampu berbuat banyak,” ungkap­nya.

Walinagari Sumani, Des­wandi menambahkan, banjir bandang juga merendam 51 hek­tar  lahan sawah produktif dan satu unit sepeda motor. “Lahan sawah warga yang terkena ben­cana banjir  itu di antaranya 17 HA, di Jorong Limo Niniek,32 HA di Jorong dan 2 HA di Jorong Padang Belimbiang,”ujar Deswandi.

Lebih jauh ia mengatakan,air memangtelah surut,tetapi me­ning­galkan lumpur bercampur batu dan kayu. Saat ini petugas BPBD Kabupaten Solok,jajaran Polres Solok,Kota, TNI, dan masyarakat, bahu membahu mem­bersikan lumpur yang ma­sih  tersisa di rumah warga.

Sementara itu, tokoh mas­yarakat Koto Sani H. Syafri Dt Siri Marajo memastikan, puncak bencana banjir bandang yang terjadi sekira pukul 00.30 Wib ditengarai berasal dari bukit Kemuning yang mengeluarkan air bah. Bukit yang sebelumnya mengalami retak dengan keda­laman hampir mencapai 30 meter, tidak kuasa menampung curahan hujan yang begitu lebat sepanjang kamis malam hingga jum’at dini hari. “ Sekitar pukul setengah satu dinihari, aliran air dari Bukit Kemuning yang me­ngalir ke banda (kali) nagari menjadi meluap,” ujar mantan ketua DPRD Kab. Solok ini.

Bahkan kata Syafri, yang akrab disapa Angku Datuk ini, bencana ini merupakan yang terparah melanda kampung ha­lamannya sejak 60 tahun silam. Jalan-jalan yang biasanya men­jadi jalur lintas kendaraan masya­rakat, kini berubah menjadi aliran air bercampur lumpur, batu dan potongan kayu yang menganak sungai. “ Selama hi­dung di tampuah angok (sejak saya hidup-red) inilah bencana terparah yang melanda daerah ini,” beber Ketua LKAAM Kab. Solok ini. (h/ndi/eri)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]