Pemimpin Gen Y, Pemimpin Perubahankah ?


Selasa, 05 April 2016 - 03:09:41 WIB
Pemimpin Gen Y, Pemimpin Perubahankah ?

Suksesi kepemimpinan sudah selayaknya dilakukan. Tak hanya pada korporasi, pun demikian dengan pemerintahan. Jika pada korporasi dikenal sebagai Generasi Baru atau Generasi Milenial yang kemudian menjadi lokomotif perubahan dari generasi sebelumnya. Mari kita bawa istilah Generasi Milenial itu pada dunia kepemimpinan politik.

Generasi Milenial atau Gen Y menjadi fenomena yang unik. Dikala pemimpin-pemimpin yang usianya tak lagi muda masih memegang tampuk kepemimpinan, ma­ka kemudian suka tak suka akan muncul generasi-gene­rasi yang menandingi hege­moni pemimpin senja ini, ya itulah Gen Y. Gen Y meru­pakan wadah bagi orang-orang yang lahir antara tahun 1980-1999. Rentang usia tersebut masuk kedalam kate­gori produktif untuk zaman kini. Dan diatasnya, ada Gen X (1965-1979). Masing-ma­sing generasi tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan berbicara kelebihan, masing-masing generasi akan menang di zamannya. Dan dalam dunia kepemimpinan politik, perlahan namun pasti, Gen Y mulai menandingi dan mengikis dominasi Gen X.

Era Pemimpin muda per­la­han mulai muncul keper­mukaan. Mereka tak lagi sungkan untuk bersaing de­ngan senior-seniornya dalam kontestasi pemilu, khususnya Pemilukada. Kon­­tes­ta­si Pilkada Serentak lalu menyisakan beragam hal yang menarik, diantaranya adalah kemenangan pemim­pin-pe­mim­pin muda, yang berhasil mengalahkan incum­bent yang notabene adalah senior mere­ka. Beberapa daerah yang telah melak­sanakan Pilkada kemarin, telah resmi dipim­pin oleh pemimpin muda, diantaranya adalah Bupati Kabupaten Dharmasraya (Su­tan Riska) dan Gubernur Jambi (Zumi Zola) yang nota­benen tahun kelahirannya berada dalam rentang waktu Gen Y tadi. Bahkan Sutan Riska tersebut menjadi Bupa­ti Termuda Se-Indonesia.

Ya, kedua pemimpin ter­se­but menjadi sedikit contoh dari pemimpin-pemimpin muda dinegeri ini, dan mere­ka bersaing dengan incum­bent didaerah masing-masing pada kontestasi Pilkada terse­but. Artinya, masyarakat kini telah mulai melirik generasi-ge­nerasi baru yang akan men­jadi pemimpin daerah terse­but. Para incumbent yang didominasi generasi Lawas, dianggap kurang mampu me­ngimbangi kondisi zaman, atau setidaknya harapan ma­syarakat yang kian lama kian besar. Besarnya harapan ter­sebut tentu tak lepas dari perkembangan zaman. Ge­nerasi lawas yang di­indika­sikan kon­ser­vatif, membuat me­reka “gagap” ketika zaman menuntut ke­adaan tersebut di­ru­bah. Sehingga, ke­ga­gapan ter­se­but me­nga­ki­bat­kan ide-ide atau ke­­bi­ja­kan yang mun­cul ti­dak­lah kreatif, dan out­put­nya je­las, bah­wa ke­ti­dak­pua­­san ma­­­­­sya­rakat be­ra­­da di­depan ma­­­ta.

Beda hal­nya d­e­ngan da­rah muda atau pemimpin mu­da, yang umum­­nya di­kenal an­ti-kon­­ser­vatif atau me­nen­tang kebiasaan la­ma. Kebiasaan-kebia­saan seperti kurangnya ide kreatif, biro­krasi lama atau bahkan ku­rang merasa dekatnya ma­sya­­rakat dengan pemimpin lan­taran jarang bertemu, men­jadi sesuatu yang membudaya bagi gene­rasi lawas, dan itulah yang tentunya menjadi hal yang mesti dihindarkan bagi pemimpin muda. Sikap anti konservatif nya terlebih dahu­lu harus ditunjukkan dengan aksi nyata membuang jauh-jauh kebiasaan yang tidak disukai atau bahkan meru­gikan rakyat. Karena, biro­krasi yang berbelit-belit serta adanya jurang pemisah antara pemimpin dengan rakyatnya sudah tentu menjadi celah ketidak harmonisan antara pemimpin dan rakyat, dan cikal bakal konflik vertikal didaerah tersebut.

Rasa Baru

Pasca terpilih dan dilan­tiknya mereka (Pemimpin muda- red), tentu mereka harus menunjukkan tajinya. Serta, khususnya mengenai perbedaan pemimpin muda de­­­ngan yang lama. Karena, ji­ka pemimpin muda masih sa­ma saja dengan yang lama, atau “rasa”nya masih sama, tentu akan hambar untuk dikemudian hari. Dan untuk kedepannya perlahan masya­ra­kat tentu tidak ingin berjudi dengan memilih pemimpin yang relatif muda, karena minim pengalaman.

Pemimpin-pemimpin mu­­­da ini tentu harus meman­faatkan keunggulan-ke­ung­gulan yang ada pada mereka. Pemimpin muda harus me­nun­jukkan semangat mu­danya. Mulai dari keuletan, kedinamisan, mudah bergaul kepada generasi muda lain, serta kreatif dan mendobrak kebiasaan lama. Bahkan, di media-media sosial telah tersebar ucapan terima kasih kepada Bupati Kabupaten Dharmasraya yang baru (Su­tan Riska) atas apa yang telah beliau lakukan beberapa bu­lan menjabat ini. Apa yang beliau lakukan pada dasarnya sederhana untuk kategori pemimpin, hanya saja beliau konteks nya mendobrak ke­bia­saan lama, bahkan mem­buat sesuatu baru atau rasa baru, terutama per­soalan birokrasi.

Perubahan zaman men­jadi sesuatu yang mengun­tungkan bagi pemimpin mu­da. Karena, pemimpin-pe­mimpin muda tersebut cen­derung lebih kreatif, serta lebih mengikuti per­kem­ba­ngan tek­no­logi, ke­mudian lan­taran tidak begitu terkon­ta­minasi dengan za­man-za­man lama. Se­men­tara, mi­salnya para generasi lawas atau gen X, mereka telah merasakan era orde baru, telah bekerja saat orde baru berkuasa, se­men­tara pe­mim­pin-pemim­pin muda ini cen­derung ma­sih kuliah ke­tika orde baru berkuasa. Se­hingga, watak dari pe­mim­pin lama akan lebih konservatif, karena sedikit banyaknya akan men­jadikan apa yang terjadi di zaman lalu menjadi indikator apa yang akan ia kerjakan. Seder­hananya, ke­bia­saan or­de-orde sebelum­nya, apakah itu lama atau baru telah men­darah daging. Akibatnya, kebiasaan yang top-down, membuat mereka tidak krea­tif. Beda halnya dengan pe­mim­pin muda, yang ketika orde baru ber­kua­sa mereka masih maha­siswa. Sehingga, kebiasaan-kebiasaan men­dobrak pe­nge­kangan, men­do­brak ke­bia­saan lama men­jadi plus­nya. Mereka tidak terkon­ta­minasi kebiasaan orde-orde se­belumnya. Se­hing­ga, apa yang akan mereka lakukan saat era sekarang, tidak men­contoh kepada orde sebe­lumnya, namun lebih kreatif. Menyeim­bang­kan perkem­ba­ngan zaman dengan kebu­tuhan bangsa dan negara. (*)

 

IKHSAN YOSARIE
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP
Analis Sosial Politik Litbang HMJ-IP FISIP Unand) 
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 21 Desember 2016 - 01:06:15 WIB

    Kepemimpinan Ekonomi dan Birokrasi Malas

    Kepemimpinan Ekonomi dan Birokrasi Malas Mengapa kebijakan deregulasi dan debirokratisasi pada saat ini tidak tidak seperti deregulasi tahun 1980-an dan tidak mampu men­dongkrak pertum­buhan ekonomi lebih tinggi? Mengapa kinerja ekspor terus menurun, kinerja fiska.
  • Selasa, 15 November 2016 - 23:45:26 WIB

    Cerdas Memilih Pemimpin

    Tulisan ini terinspirasi dari dialog antara seorang nenek dengan cucunya terkait Pilkada yang dikirim sahabat saya di media sosial. Awal dialog sang nenek bertanya perihal sehelai jilbab yang diterimanya dari salah satu pasan.
  • Selasa, 21 Juni 2016 - 05:46:28 WIB

    Karena Pimpinan Bukan Pemimpin

    Karena Pimpinan Bukan Pemimpin Saya kaget membaca judul berita Republika daring pada Selasa, 14 Juni 2016: Pimpinan KPK Beda Pendapat Soal Kasus Sumber Waras. Yang mengejutkan saya bukan soal kasus tersebut, melainkan kata pimpinan. Apa maksud kata pimpina.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]