Adakan Kontes dan Pameran

KBAM Kenalkan Aksesoris Wanita dari Batu Akik


Rabu, 06 April 2016 - 03:12:26 WIB

PADANG, HALUAN — Ko­munitas Batu Akik Mulia (KBAM) Sumatera Barat akan mengadakan kontes dan pameran batu akik mu­lai pada 7 hingga 9 April ini di Gedung Serba Guna La­nud, Tabing, Padang. Kon­sep kegiatan itu adalah batu akik mulai untuk aksesoris wanita, dengan tujuan mem­perkenalkan aksesoris wa­nita yang terbuat dari batu akik mulia.

Ketua KBAM Sumbar, Attila Majidi mengatakan, selama ini, batu akik hanya dikenal sebagai aksesoris laki-laki. Padahal, batu akik mulia juga bisa diolah men­jadi berbagai aksesoris wa­nita seperti gelang, kalung, anting, dan cincin, dengan berbagai bentuk yang indah, seperti yang dilakukan peng­rajin perak di Koto Gadang, Agam.

Ia mengakui, “demam batu akik” pada 2013 hingga 2015 lalu juga melanda wa­ni­ta, namun jumlahnya ha­nya sedikit. Hal itu dilatar­belakangi karena batu akik identik dengan perhiasan laki-laki. Jadi, ia bersama rekan-rekannya sesama pen­cita batu akik, akan mem­perlihatkan kepada masya­rakat, khususnya wanita, berbagai bentuk aksesoris wanita yang terbuat dari batu akik, dalam kontes dan pameran bertema “Seribu Kemilau Bersatu di Ranah Minang” itu nantinya.

Pria yang akrab disapa Al Datuak Sibungsu ini menuturkan, pihaknya me­nar­getkan 500 pengunjung dalam pameran ini, dari yang biasanya berjumlah ribuan, dan menargetkan 15 peserta yang ikut dalam pameran, dari yang biasanya berjumlah 50 hingga 60 peserta.

Kurangnya jumlah target pengunjung dan peserta pameran dari pameran yang pernah digelar KBAM sebe­lumnya, Al menjelaskan, karena kini tak lagi “demam batu akik”. Sementara batu akik tak lagi menjadi perbin­cangan dan tren di tengah masyarakat, karena ber­kurangnya jumlah batu akik yang beredar di masyarkat. Kurangnya jumlah batu akik di pasaran karena deposit batu akik juga sudah habis di sumber penambangan.

“Deposit batu akik yang selama ini ditambang oleh masyarakat adalah deposit sekunder. Kini deposit se­kunder itu yang sudah habis. Kalau batu akik di deposit primernya masih banyak, tapi penambangannya tak bisa digunakan dengan cara tradisional seperti yang dila­kukan masyarakat selama ini,” ujar Al di Padang, Selasa (4/5).

“Kini susah mencari ba­tu Sungai Dareh (idocrase) di Solok Selatan dan Dhar­masraya, yang biasanya dite­mukan oleh penambang emas. Batu Lumuik Suliki (moss agate) juga sudah sulit ditemukan di Payakumbuh karena deposit sekundernya sudah habis dan berada di tanah masyarakat, sehingga tak bisa ditambang sem­barangan oleh orang. Ido­crase yang beredar di Indo­nesia kini adalah idocrase dari Pakistan, sementara moss agate dari India. Ne­gara kita dijadikan pasar batu oleh negara luar. Pada­hal, deposit batu Indonesia banyak, tapi tak bisa ditam­bang karena depositnya primer,” ungkap Al didam­pingi oleh Natalia, ketua panitia kegiatan tersebut.

Oleh karena itu, ia me­min­ta pemerintah daerah untuk memerhatikan per­soalan ini, karena batu akik memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, terbukti saat “demam batu akik” selama tiga tahun tersebut.

Terkait kontes, Al men­jelaskan, kontes batu akik tersebut akan memer­tan­dingkan 33 kelas batu akik, yang akan dinilai oleh 6 juri. Juri-juri tersebut berasal dari KBAM Sumbar dan Asosiasi Batu Mulia Indo­nesia (ABMI) Pengda Sum­bar. Sesuai dengan konsep dan tujuan kegiatan terse­but, salah satu jurinya ada­lah wanita.

“Dalam kontes dan pa­meran ini nantinya aka nada edukasi mengenai batu akik kepada masyarakat dan cara mengolahnya menjadi ak­sesoris wanita,” tambah Al. (h/dib)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]