PKL dan Ketertiban


Rabu, 06 April 2016 - 03:17:56 WIB

Dimana ada gula, disitu ada semut. Sebuah pepatah lama yang akan tetap kita jumpai fenomenanya dimana-pun kita berada. Pepatah lama ini dikait-kaitkan dengan aktivitas ekonomi. Contoh secara global adalah negeri-negeri kaya minyak di arab sana yang jadi sasaran negara berpengaruh. Berbagai alibi mereka lakukan untuk bisa mendapatkan manfaat ekonomi atas potensi minyak di negara-negara tersebut.

Jika dilokalkan, aktivitas ini akan kita jumpai dari penggiat pedagang kreatif lapangan (PKL) yang sebelumnya disebut pedagang kaki lima. Sebutan kreatif ini menjadikan posisi mereka lebih terhormat. Namun sayangnya, beberapa di antara mereka ada yang kebablasan.

Pada edisi 14 Januri 2015, Haluan per­nah membuat liputan berjudul Jem­batan Ta­kambang Jadi Lapak yang meng­gam­barkan “keuletan” PKL memanfaatkan pe­luang dan ruang di sejumlah jembatan. Saat itu, dila­porkan jembatan Siti Nurbaya dan Jem­batan baru Danau Cimpago dijube­li pe­dagang. Padahal, jembatan yang nilainya mi­liaran rupiah itu dibangun untuk melan­car­kan lalu lintas, tapi karena kehadiran me­reka yang berjualan di atas jembatan dan se­kitar jembatan, justru menepis rencana ter­sebut.

Belum lagi soal jembatan Fly Over di Bukittinggi dan Kelok Sembilan, Kabu­paten Limapuluh Kota saat itu. Di Bukit­tinggi, begitu fly over rampung, ruas jalan yang ada di bawah jembatan kembali dijubeli pedagang. Alhasil, arus kenda­raannya yang telah terurai, tetap saja macet. Lalu di jembatan mega proyek Kelok Sembilan-pun demikian. Lihat saja jemba­tan mahal itu, PKL malah menjamur. Tampak kumuh kawasan yang sebenarnya bisa menjadi icon.

Salahkah mereka? Saya yakin tidak. Mereka diyakini tak punya niat untuk tak mendukung proses pembangunan yang bertujuan menyejahterakan. Mereka hanya­lah sekelompok kecil masyarakat yang coba bertahan hidup dengan berjualan di tempat yang tidak seharusnya mereka berada. Tapi karena kebutuhan hidup, ketertiban yang harusnya dirasakan banyak orang, harus mereka abaikan.

Karena menyangkut kepentingan pu­blik, makanya ada penertiban. Sejak kema­rin, media di Padang kembali dihiasi dengan aksi demo pedagang. Protes dengan sikap dengan aksi petugas yang melarang mereka berjualan di lokasi publik.

Hal ini seperti tercampur aduk. Ada larangan berdagang karena kepentingan yang lebih luas dan ada protes. Larangan itu hendaknya sikapi dengan lebih arif, baik oleh eksekutif maupun legislatif.  Bagi eksekutif, ketika melakukan larangan, tentu harus ada jalan keluar, minimal mem­per­sempit peluang warga untuk berdagang di tempat publik. Jalan keluarnya, carikanlah mereka tempat harus berdagang, lebih layak dan tertata. Di sisi lain, jangan tunggu warga menyemut untuk berdagang di sebuah kawasan baru, lalu ketika sudah ramai, mereka digusur. Selagi masih sedikit, tegaskan larangannya sehingga “korban” tak makin ramai.

Lalu, pihak legislatif hendaknya juga mencarikan jalan keluar yang lebih arif, dan tidak asal mempersalahkan eksekutif, karena terkait dengan urusan politik. Legislatif perlu juga memberikan pema­haman kepada pedagang bahwa langkah pemerintah kota saat ini, begini, jadi, langkahnya seperti ini. Bukan sebaliknya. Me­manfaatkan momen untuk mencari sim­patik karena memperjuangkan sesuatu yang tak seiring dengan rencana pemerin­tah.

Sinergi eksekutif dan legislatif inilah nantinya yang dapat membawakan progress kota menjadi lebih baik. Coba saja jika rencana pemerintah selalu terganjal, bisa tak maju-maju kota ini. Tapi jika memang keliru, tak salah untuk diingatkan, bukan menjegal. (*)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 13 Mei 2016 - 03:51:56 WIB

    Menguji Efektivitas Penggusuran PKL

    Menguji Efektivitas Penggusuran PKL Berdagang bukan hal baru bagi manusia. Kegiatan yang berhubungan dengan jual beli ini sudah lama dikenal manusia. Bahkan, sebelum mengenal satuan tukar yang resmi (uang), sistem barter menjadi pilihan. Misalnya satu ekor ayam.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]