NelayanTakut Melaut

Nagari Air Bangis Darurat Ekonomi


Rabu, 06 April 2016 - 13:37:45 WIB

PASBAR, HALUAN — Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Pasaman Barat terancam darurat ekonomi. Sekitar 10 ribu jiwa masyarakatnya akan kelaparan. Bahkan ada laporan, sejumlah anak-anak mulai makan sawit, karena tak ada lagi makanan di rumah.

Air Bangis yang denyut ekonominya bergantung pada laut menjadi penyebab utama anjloknya perekonomian war­ga, tak lain sebab, akibat kebijakan pemerintah juga. Tak kurang 80 persen dari jumlah penduduk Kecamatan Sungai Beremas, jika kondisi tetap berlarut-larut akan men­derita nestapa kelaparan. Mulai dari anak-anak hingga orangtua. Mulai dari nelayan hingga masyarakat profesi lain.

Senin kemarin, sejumlah pemegang peran penting lan­carnya ekonomi masyarakat Air Bangis kepada Haluan angkat bicara. Mereka se­per­ti,Yudi Pendra Dt. Magek tagarang, toke ikan di TPI Air Bangis, Pengusaha Kapal dan nelayan, pengolah ikan, Ronal, Ketua KTNA Pasbar, Syam­lidar dan Islahul Abdi, salah seorang pemilik Kapal di Air Bangis.

Menurut mereka, anjlok­nya ekonomi masyarakat Air Bangis saat ini, akibat tidak ada lagi nelayan di Air Bangis yang melaut sejak dua minggu terakhir. Sebabnya, mereka ketakutan untuk melaut. Se­bab, kapal patroli pemerintah pusat terus berkeliaran di laut Air Bangis.

Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, nomor 2 tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela dan pukan tarik. Sementara, 100 persen nelayan Air Ba­ngis, pandainya kelaut hanya dengan menggunakan alat yang dilarang menteri itu yakni jenis waring

Puncak ketakutan nelayan Air Bangis, pasca ter­tang­kap­nya satu kapal milik nelayan Air Bangis beberapa pekan laut di perairan laut Pasaman Barat.

“Kalau kami melaut, sama saja kami pergi menyerahkan diri. Masalahnya, bukan ha­nya waring yang disita, tapi dengan kapal serta para na­khoda. Kami takut, para awak kapal juga takut. Sehingga tidak ada satupun yang me­rani melaut,” kata mereka.

Mereka sampaikan, 43 persen produksi ikan Provinsi Sumatera Barat berasal dari Air Bangis, sejak dua pekan anjlok hingga nol persen. Bahkan, dikampung para ne­layan itu, saat ini beredar ikan yang berasal dari Aceh.

Miris memang kon­di­si­nya, biasanya di Air Bangis geliat ekonomi berjalan bah­kan 24 jam. Kini menjadi lesu, tanpa aktifitas sama sekali. Penjemuran ikan teri kosong melompog, produksi pe­ngo­lahan ikan tutup. TPI hanya dihuni para lalat-lalat. Tukang becak biasa hilir mudik meng­angkut es batangan, kini ter­menung lesu, tukang ojek terlelap dipangkalan akibat tak penumpang, kedai-kedai yang biasa ramai, kini menjadi lengang. Mati suri, kata itu mungkin yang pantas untuk Air Bangis saat ini.

Para tokoh Air Bangis tersebut mengatakan, mereka tidak mengancam atau me­ng­ada-ada. Jika seminggu lagi mereka tak melaut, hampir terpastikan kriminalitas di Air Bangis akan meningkat drastis. Bagaimanpun cara, hidup kata mereka harus terus diperjuangkan. Tak bisa de­ngan jalan halal, demi perut yang haram akan ditempuh.

“Akan terjadi aksi kri­minalitas di Air Bangis, jika kondisi ini tetap bertahan. Akan banyak terjadi pen­curian, perampokan dan lain-lain. Ya bagaimana, kami tidak bisa jamin sekitar se­puluh ribu masyarakat Air Bangis yang menggantungkan jawa selama ini pada laut tidak akan bertindak kriminal demi menyelamatkan perut me­reka. Saya rasa ini akan segera terjadi,” kata Yudi Pendra menambahkan.

“Bukan hanya nelayan, semua macet, mulai dari tukang ojek, tukang becak, hingga pengusaha besar di Air Bangis, sekarang menangis, menderita. Bayangkan, se­muanya itu butuh makan, butuh hidup. Bahkan sudah ada anak-anak yang makan sawit, setelah saya tanya ke­napa makan sawit, rupanya tidak ada nasi di rumah, “ ungkap Ronal menimpali. .

Untuk itu kata mereka, tak ada cara lain kecuali pe­me­rintah provinsi dan pusat turun langsung ke Air Bangis. Men­carikan mereka solusi tentang peraturan pemerintah itu.

Mereka katakan, jika me­reka melaut saat ini, se­men­tara kapal patroli terus me­ngintai. Sudah jelas saja me­reka akan tertangkap. Sebab, alat yang mereka pakai ha­nyalah waring, mulai kapal jenis Bagan, porsen hingga kapal-kapal kecil.

“Kami tahunya dari dulu dan sudah turun temurun berlangsung, alat yang dipakai nelayan Air Bangis hanya waring,” ujar mereka lagi.

Mencoba alat lain, mereka belum pernah lakukan. Se­mentara pemerintah, belum pernah sekalipun melakukan sosialisasi, turun kepada me­reka menyampaikan alat tang­kap lain pengganti waring dan bagaimana proses cara ker­janya. Pemerintah belum per­nah memperlihatkan ben­tuk pengganti dari waring tersebut.

“Waring, sudah menjadi kearipan lokal Air Bangis. Tak pernah kami memakai alat lain,” timpalnya.

Kendati demikian, mereka sebagai warga negara In­do­nesia yang baik, tidak akan mau bertindak gegabah. Jika pe­merintah mereka masih mau memperhatikan mereka segara. Mencarikan solusi dan cara lain untuk mereka di Air Bangis.

Mereka bermohon, agar peraturan pelarangan waring itu direvisi. Atau ditunda dulu pemberlakukannya, sembari pemerintah mengajarkan hal yang baru kepada mereka tentang alat tanagkap pengganti waring itu. (h/dka)

 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]