Dua Keltan Agam Studi Banding ke Patamuan


Kamis, 07 April 2016 - 02:40:03 WIB
Dua Keltan Agam Studi Banding ke Patamuan

PADANG PARIAMAN, HALUAN  —  Dua ke­lom­pok tani dari Nagari Matua, Kecamatan Matur, Kabu­paten Agam melakukan studi banding ke petani pepaya di Nagari Sungai Durian, Kecamatan Pata­muan, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (5/4) ke­marin. Hal ini dilakukan oleh kelompok tani itu ber­tu­juan mencari pengalaman dan tata cara menanam pepaya yang baik, karena selama ini masyarakat Ke­camatan Patamuan pada umumnya sudah bercocok tanam pepaya setelah gem­pa bumi tahun 2009 yang silam. Kedatangan rombo­ngan itu disambut oleh Sek­cam Patamuan, Yoserizal serta petani pepaya, Syam­sul Mardan, Mulyadi serta petani pepaya lainnya.

Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Matur, Lukman, SP mengatakan, kedatangan dua kelompok tani ini me­mang ingin mengetahui tata cara bertani pepaya, karena pepaya yang ada di Sungai Durian, Kecamatan Pata­muan pada umumnya sudah dikenal oleh ma­sya­rakat, karena hasil pepaya itu sudah dipasarkan dibe­berapa propinsi yang ada di Indonesia ini. “Dengan ter­kenal pepaya di kecamatan ini, maka dibawa dua kelom­pok tani yang ada di Nagari Matua untuk belajar,” ujar Lukman.

Dia menjelaskan, ke­lom­pok tani yang dua ini sudah banyak pula me­nanam tanaman yang lain, akan tetapi dengan adanya pepaya, makanya keinginan kelompok tani sangat berse­mangat untuk menanam pepaya di Matua ini. “Untuk study banding ini ada anggota Kelompok Tani Mat­o Aia dan Kelom­pok Tani Tunas Baru yang di­dam­pingi oleh Wali Na­gari Matua serta beberapa staf UPT BP4K2P,” terang­nya.

Dia berharap, perte­muan yang dilakukan seka­rang ini bukan yang per­tama, tapi tentu bisa berlanjut untuk masa-masa yang akan datang. “Selain untuk belajar, kedatangan kelompok tani juga untuk menjalin silaturahmi. Dan anggota kelompok tani juga ingin bekerja sama dalam pemasaran nantinya jika pepaya bisa berhasil,” harap Lukman.

Sementara itu, Sekre­taris Camat Patamuan, Yo­serizal menyebutkan, se­menjak adanya pepaya di kecamatan ini, taraf eko­nomi masyarakat sangat meningkat tajam jika diban­dingkan dengan sebelum­nya. “Di seluruh korong yang ada di tiga nagari dalam kecamatan ini sudah mayoritas bertanam pepaya, karena hasil dari pepaya yang dihasilkan sekarang ini sangat menjajikan jika me­nanam tanaman yang lain, makanya banyak masya­rakat yang menanam pe­paya,” ujar Yoserizal.

Dia menjelaskan, ba­nyak­nya masyarakat yang beralih dari menanam padi menjadi petani pepaya dise­babkan putusnya irigasi akibat gempa bumi 2009, jadi semua persawahan yang ada di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan terlantar akibat air tidak bisa mengalir kesawah para petani. “Jadi, dengan tidak adanya air untuk mengairi sawah para petani, makanya dilakukan oleh salah seorang masyarakat petani mencoba menanam pepaya yang dipasarkan disekitar ini. Bahkan, pepaya yang ditanam itu mendapat eje­kan petani lainnya,” terang­nya.

Lama kelamaan kata­nya, pepaya yang ditanam oleh para petani semakin membaik, karena banyaknya permintaan dari daerah luar. “Untuk sekarang ini, di Kecamatan Patamuan ada sekitar 45 ton pepaya keluar setiap hari, jadi bagi petani ini merupakan sengsara membawa nikmat,” ulasnya. Setelah itu, pertemuan dila­kukan dengan dialog serta berbagi pengalaman dalam menjalani menjadi petani pepaya yang disampaikan oleh petani pepaya yang sukses, yaitu Mulyadi yang akrab dikenal dengan nama Edi Batak. (h/bus)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]