Listrik Pudur Ganggu UNBK SMA


Kamis, 07 April 2016 - 03:58:12 WIB
Listrik Pudur Ganggu UNBK SMA Salah seorang siswi SMAN 1 Sitiung, Dessy, memperlihatkan tangannya yang terbakar kepada Kabid Program Disdikpora Reno Lazuardi dan Kepala SMAN 1 Sitiung Israr Azis, Rabu (6/4). Ia harus mengikuti UN dengan kondisi tangan terbakar akibat lampu teplok meledak karena lampu PLN pudur. (MARYADI)

Pelaksaan UN Berbasis Komputer perlu kesiapan yang lebih matang. Di beberapa daerah pelaksanaanya tak maksimal. Listrik pudur menyebabkan ujian urung digelar.

SAWAHLUNTO, HALUAN — Hari ketiga pelak­sa­naan Ujian Nasional Ber­ba­sis Komputer (UN­BK) se­jumlah sekolah ter­gang­gu de­ngan adanya pe­madaman lis­trik dari PLN, seperti di Sa­wahlunto dan Dhar­mas­ra­ya. Kondisi ini menye­bab­kan pelaksanaan UNBK sem­pat terundur beberapa saat.

Kepala PLN Ranting Sitiung, Gusrianto, yang dikonfirmasi Haluan lewat telpon selulernya, menga­takan bahwa matinya arus listrik PLN karena beban yang tidak seimbang. “Kita matikan arus karena beban tidak seimbang,” katanya.

Informasi yang dikum­pulkan Haluan, akibat gang­gu­an ini, ujian di SMKN 1 Sawah­lunto diundur selama 30 menit. Se­men­tara seorang siswa di SM­AN 1 Sitiung Dhar­masraya, ujian de­ngan kondisi tangan terbakar ka­rena meng­hidupkan lampu te­plok akibat dari lampu PLN pu­dur.

Kepala SMKN 1 Sawahlunto Agus Sri Haryanto saat dikon­firmasi Haluan melalui telepon selulernya, Rabu (6/4) menga­takan, proses UNBK di seko­lahnya sedikit terganggu dengan adanya pemadaman listrik oleh PLN. Sedianya ujian pada sesi kedua yang seharusnya dimulai pukul 10.30 WIB molor sekitar 30 menit, sehingga muncul sedi­kit kekhawatiran oleh siswa lain­nya yang akan mengikuti ujian pada sesi berikutnya.

“Untuk mengantisipasi akan pemadaman listrik sebetulnya kita telah meminta kepada PLN agar tidak melakukan pema­daman selama UNBK ini ber­lang­sung. Dari pihak sekolah sendiri juga telah menyiapkan satu unit generator setting (gen­set) berkapasitas 7800 watt, namun hanya mampu untuk ka­pa­sitas 1 labor komputer saja yakni 35 unit komputer, semen­tara untuk UNBK terdapat 70 unit,” kata Agus.

Dari pihak PLN sendiri lan­jut­nya, tidak ada meminjamkan bantuan genset, kalaupun ada pihak sekolah harus menge­luarkan anggaran untuk menye­wanya, sedangkan sekolah tidak memiliki anggaran untuk itu. Namun mudah-mudahan ke de­pan­nya tidak ada pemadaman listrik itu lagi sehingga tidak mengganggu proses ujian dan konsentrasi peserta ujian.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah­raga Sawahlunto Marwan di­dampingi Kabid Pendidikan Menengah Supar membenarkan adanya kendala pemadaman listrik di sekitar SMKN 1 Talawi Sawahlunto, sehingga menga­kibatkan terganggunya proses UNBK tersebut. Untuk antisipasi selanjutnya pihak sekolah akan mengusahakan mencari genset cadangan yang berkapasitas sama dengan yang ada sekarang ini. Kepada PLN juga diharapkan bisa mengusahakan tidak adanya pemadaman seperti sekarang ini, minimal dalam waktu pelak­sanaan ujian.

Tangan Terbakar

Di Dharmasraya, siswa di SMAN Timpeh dan SMAN 1 Sitiung terganggu dengan adanya pemadaman listrik. Kepala SM­AN Timpeh, Novia yang ditanya Haluan mengatakan, siswa dan siswi kelas XII yang mengikuti UN dengan mata pelajaran Baha­sa Inggris tidak bisa melak­sanakan ujian karena listrik PLN tidak hidup. Ia tidak menyangka lampu PLN akan mati pada saat anak-anaknya mengikuti UN. Tanpa ada arus listrik, maka anak-anak tidak bisa ujian karena ujian Bahasa Inggris, peserta harus mendengarkan soal lang­sung dari kaset.

“Kami harus menunda ujian dan menungu sampai hidup serta melaporkannya kepada pihak dinas,” katanya.

Sedangkan salah seorang sis­wi SMAN 1 Sitiung, Dessy, ia harus mengikuti ujian nasional dengan kondisi tangan habis terbakar, tangannya terbakar akibat menghidupkan lampu teplok akibat lampu PLN yang tidak hidup.

Sementara ia harus belajar atau menghafal mata pelajaran yang akan dihadapi dalam UN, tetapi setelah ia menghidupkan lampu teplok, ternyata lampu tersebut meledak dan mem­bakar tangan kanannya. Ia harus ujian dengan kondisi tangan yang sakit dan hanya bisa me­nunjukkan jawaban, sedangkan pengawas membantu meng­hitamkan bula­tan jawaban ujian tersebut.

“PLN tidak seharusnya me­ma­tikan lampu pada saat UN ini,” katanya lugu.

Kepala PLN Ranting Sitiung, Gusrianto, yang dikonfirmasi Haluan lewat telpon selulernya, mengatakan bahwa matinya arus listrik PLN karena beban yang tidak seimbang. “Kita matikan arus karena beban tidak seim­bang,” katanya. (h/mg-rki/mdi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]