Mental Korupsi di UN


Jumat, 08 April 2016 - 03:49:54 WIB
Mental Korupsi di UN

Korupsi tak jauh dari sikap men­cu­ri. Kegiatan keduanya mengambil se­suatu yang bukan haknya yang di­da­sari sikap tak jujur. Berbagai upaya se­be­narnya sudah dibangun hingga ke level pa­ling bawah. Masih ingat program kantin ke­jujuran pada beberapa sekolah rujukan? Ki­ni, ntah dimana kantin kejujuran itu berada.

Kejujuran itu kini seperti menjadi barang yang mahal. Bayangkan saja, untuk mempropagandakan sikap ini, sejumlah aktivis antikorupsi pernah “bela-belain” menyetak baliho raksasa bertuliskan Berani Jujur Hebat dan membentangkannya di gedung KPK (lama). Berapa biayanya itu?

Tak salah kiranya jika jujur itu menjadi barang mahal. Abdul Gani Isa dalam tulisan opininya pada media Serambi Indonesia menyebut hal itu tidak berlebihan karena ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang.

Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya. Yang lebih berbahaya lagi adalah ada orang yang ingin dan selalu bersikap jujur, tapi mereka belum sepenuhnya tahu apa saja sikap yang termasuk kategori jujur.

Jujur tidaklah dimulai dari “warung kopi”, sebagaimana asumsi sementara orang, jujur sebuah nilai abstrak, sumbernya hati, bukan pada omongannya. Jadi “jujur” sebuah nilai kesadaran “imani”, dimulai dari suara hati, bukan di warung munculnya kejujuran. Kualitas imanlah yang dapat mengantarkan seseorang menjadi jujur. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang.

Seorang praktisi hukum di Palembang, Hifzon Firdaus pernah mengkaitkan ketidakjujuran dengan korupsi. “Titik pangkal terjadinya korupsi karena adanya sikap tidak jujur atau berupaya merekayasa sesuatu dengan tujuan memperkaya diri sendiri dan kelompok tertentu,”katanya.

Apa hubungannya dengan Ujian Nasio­nal? Jika korupsi bertujuan memperkaya diri sendiri dan kelompok tertentu, maka pada ujian nasional yang selalu diwarnai dengan mencontek, kunci jawaban bocor dan lainnya juga sebuah sikap tak jujur. Tujuannya, lulus atau nilai baik melalui sebuah upaya rekayasa.

Karenanya, ujian nasional yang diharap­kan bisa menghasilkan lulusan yang kom­pe­­ten, justru menghasilkan lulusan bermen­tal korup. Tak seluruhnya memang karena ki­ta harus hargai mereka yang berjuang me­la­lui upaya yang fair. Tapi, pola ini seperti teng­­gelam jika dibandingkan dengan lapo­ran kunci jawaban bocor dan lain sebagai­nya.

Muhammad Abdul Tausikal di muslim or.id bahkan menyebut kejelekanyang ditanam siswa yang tak jujur tadi juga berimplikasi pada hasil jelek, kelak. Bila seorang siswa terbiasa menyontek, maka kebiasaan itulah yang akan membentuk diri. Beberapa karakter yang dapat ‘dihasil­kan’ dari kegiatan menyontek antara lain: mengambil milik orang lain tanpa ijin, menyepelekan, senang jalan pintas dan malas berusaha keras, dan kehalalan pekerjaan dipertanyakan.

Hendaknya, mimpi revolusi mental yang diteriakkan rezim musim ini juga me­nyaru pada kegiatan ini, kegiatan ujian penentu nilai akhir seorang pelajar, mulai dari tingkatan dasar hingga menengah. Pembenahan melalui revolusi mental pada pelaksanaan UN tentu tak akan berhasil dalam masa kepemimpinan Jokowi-JK. Prosesnya panjang dan akan dinikmati penerus tong­kat estafet kepemimpinan nantinya. Gene­rasi di pendidikan dasar saat ini, akan meng­hasilkan generasi jujur 20 tahun mendatang, ji­ka memang for­mulasi revolusi mental juga me­nyentuh program nasional bernama UN. (*)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]