Mendayung Konflik Keadilan dan Sejahtera


Jumat, 08 April 2016 - 03:51:18 WIB
Mendayung Konflik Keadilan dan Sejahtera

Kapal politik Partai Keadilan Sejahtera (baca: PKS) nyaris karam, posisi politik yang diambil partai ini sebagai barisan oposisi pemerintahan Jokowi-JK merupakan salah satu penyebab tidak fleksibelnya partai ini membaca situasi politik. Sebagai akibatnya partai ini lebih mudah digoyang ombak samudera politik yang datang dari internal maupun eksternal.

Secara internal, PKS ma­sih sulit menyembunyikan pertarungan Paus dan Hiu  kubu yang sering disebut banyak pihak: keadilan versus sejahtera. Kubu keadilan lebih mengidentikan dirinya de­ngan upaya pengembalian partai kepada “khitahnya”. Sedangkan kubu Sejahtera lebih mengedepankan partai dengan pragmatis, pencarian dana yang besar untuk ins­titusi partai. Banyak yang menyebutkan, Tifatul Sem­biring dan Shohibul Iman berada dibarisan keadilan, Anis Matta dan Fahri Hamzah (FH), kubu sejahtera.

Sikap politik yang telah diambil PKS, kubu sejahtera, saat Anis Matta menjadi Pre­siden PKS. Mendukung Pra­bo­wo-Hatta sebagai calon presiden dan wakil presiden. Dukungan itu niscaya belum berubah, setelah pergantian presiden berpindah ke tangan Shohibul Iman. Ditun­jukan­nya, sikap politik PKS mendu­kung pemerintahan Jokowi-JK secara tegas—masih bera­da diawang-awang. Sebagai tokoh yang pandai mem­bangun komunikasi lintas sektoral, Shohibul Iman sebe­narnya bisa saja dengan cepat mengubah alur partai ini bergabung ke mendukung pemerintah. Tapi, kubu sejah­tera masih menyatakan sikap kerasnya untuk tetap berada di luar kekuasaan, mengkritisi pemerintahan Jokowi-JK.

Kritik-kritik keras itu, ditunjukan dengan refesentatif PKS yakni Fahri Hamzah yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI. Fahri Ham­zah, pernah mengusir KPK yang datang dengan Brimob ke parlemen. Logis tidaknya langkah KPK , FH telah men­des­kripsikan sikap PKS yang anti pemberantasan korupsi. Itu pun sama, sikap FH yang membela mati-matian Setya Novanto, Ketua DPR, saat berkasus dengan polemik Freefort.

FH memberikan citra buruk PKS kepada masya­rakat dengan ucapannya yang niscaya kontroversial. Berbe­da dengan citra PKS yang santun, ramah dan be­retika wujud partai dakwah yang se­cara “khit­tahnya” di­­kenal pu­blik. Ketidaksukaan kubu keadilan terhadap FH yang meledak-ledak menyikapi isu publik, FH lebih loyal men­jadi juru bicara Koalisi Merah Putih (KMP) dibandingkan bicara atas nama partainya. Kesan publik terhadapnya, tetap sama itu semua refre­sentatif PKS, sebaab FH ada­lah kader PKS.

Lelahnya kubu keadilan mengingatkan FH diperjelas dengan dipecatnya ia sebagai kader partai. Surat Majelis Tahkim PKS yang isinya me­ne­rima rekomendasi Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO) PKS yaitu pem­berhentian Fahri Hamzah dari semua jaring keanggotaan PKS. Surat itu tertanggal Jumat 11 Maret 2016 (Sing­galang, 3/4). Konflik internal PKS, yang menghadap-hadap­kan kubu keadilan dan sejah­tera, telah mengalahkan kubu sejahtera. Terusirnya FH dari partai yang ia bangun dengan jejaring Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) dan KAMMI.

Mengingat kembali, tang­gal 25-29 Maret 1998, perte­muan FS-LDK seluruh Indo­nesia di Universitas Muham­madiyah, Malang. Pertemuan tersebut menyepakati Kesa­tuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang diketua Fahri Hamzah, Uni­ver­­sitas Indonesia (Muhamad Im­dadun Rahmad: 2008:­25). FH yang menjadi icon KAMMI, hingga saat ini memiliki jejaring kuat ke kampus-kam­pus se­luruh In­­do­nesia, FS-LDK dengan pe­nguasaan Ba­dan Eksekutif Seluruh In­donesia ( BEM SI).

Sedangkan secara eks­ternal, perpecahan yang ter­jadi antara kubu keadilan dan sejahtera bukan hanya soal pembangunan ideologi partai yang berbeda. Persoalan me­nye­lamatkan partai dari citra yang buruk dan hijrah kepada  seharusnya (baca: Khittah). Penyebab, FH harus diten­dang dari PKS. PKS, yang saat ini dikuasai kubu keadilan ingin mendekat kepada peme­rintah agar serangan yang bertubu-tubi kepada PKS kehawatiran PKS akan diha­bisi seperti Masyumi era Orde Lama dan Orde Baru. FH merupakan batu sandungan yang menyebabkan PKS bisa jadi menjadi target yang me­neng­gelamkan PKS seperti Masyumi. Meruncingkan kon­­flik keadilan dan sejahtera merupakan harapan partai lain dan partai penguasa. Solidnya barisan keadilan dan sejahtera, saat mereka bersatu untuk membangun jejaring yang bergerak di sosial dan kemanusiaan. Men­jadi suatu kedengkian partai lain yang mau bergerak kader­nya ketika uang menjadi bala­san kerja kerasnya.

Dayungan PKS Tanpa Fahri Hamzah

PKS tanpa Fahri Hamzah merupakan kerugian  partai ini, sebagai tokoh pendiri KAMMI dan memiliki jeja­ring yang kuat dengan alumni FS-LDK seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Meng­habisi PKS, sama artinya menjauhkan partai ini dengan anak-anak muda potensial yang telah terlatih sejak di perguruan tinggi.

Kubu Keadilan tidak mem­­baca sejarah secara teliti, pergerakan kubu sejahtera yang menarik kampus sebagai basis politiknya telah mem­besarkan partai ini sebagai wadah politik anak-anak mu­da muslim. PKS mengi­den­tikan dirinya sebagai partai anak-anak muda Muslim, yang ingin melibatkan dirinya dalam gelanggang politik.  Setelah terbuang dari rahim ibu partainya, akahkah Fahri Hamzah membawa jejaring untuk menarik diri dari PKS? dengan mencari partai lain sebagai alternatif.

Gelanggang politik yang sudah menjadi dunia FH sejak dulunya tidak selesai begitu saja, saat ia dibunuh di dalam rumah dan keluarganya sen­diri. Pertarungan keluarga menjadi konflik yang menye­bar kepada penarikan jejaring yang bukan hanya pertaru­ngan sindir-menyindir lewat udara (baca: media massa). Mengu­tip ucapan mantan Perdana Menteri Inggris Winston Chur­­cill, politisi dapat terbu­nuh berkali-kali dalam politik. Setelah terbunuh, politisi terse­but dapat bangkit kembali. FH sedang mengalang duku­ngan kepada jejering yang telah ia bangun sejak lama, yang saat ini masih melaku­kan regenerasi.

Kehadiran FH di Raker­nas IX BEM Seluruh Indo­nesia Tahun 2016 di Au­dito­rium Universitas Ma­taram, NTB. Selain ro­man­tisme ma­sa lalu FH untuk mengingat masa keja­ya­anya. FH juga sedang mem­bangun gerakan yang mem­perkuat dirinya sesung­guh­nya ia memiliki massa  yang secara tidak langsung me­nyindir kubu keadilan saya belum mati.

Dengan menyampaikan beberapa bait sajak. Kawan/Aku datang ke sini untukmu/Membawa cerita tentang kita/Anak-anak muda yang ga­gah/Aku sebetulnya belum tidur/Kakiku masih gemetar/belum jejaki bumi yang kuat/tapi aku melihatmu berse­mangat/Jadilah kalian penye­mangat Indonesia kita yang dingin/Bakarlah hati mereka yang membeku/.Mataram, 6 April 2016 (Akun Facebook: Fahri Hamzah).

FH dengan cepat dan me­ma­hami massa akar rumput yang telah membesarkan na­ma­nya, sedang gelisah me­nung­gu klarifikasi tokoh teladan mereka juga ikut  terli­bat membangunnya. FH me­ne­barkan senyuman optimis kepada anak-anak muda kam­­­pus yang belum mengi­nginkan kematiannya di du­nia politik. PKS sedang men­ja­ga citra jangka pendek, tetapi memotong investasi jangka panjang terhadap regenerasi partai. Kepemimpinan elit yang dominan di PKS, menja­dikan partai ini mengorbakan massa loyal yang setia untuk partai.

Setelah patahnya dayung sejahtera dari kapal politik PKS yang masih belajar me­nye­suaikan di samudera poli­tik yang niscaya lebih kejam dari pada sekadar berdakwah ditepian pantai yang bicara moral dan etika kepada orang-orang yang baik dan mau mengubah diri. Samu­dera politik bukan lah ranah orang-orang baik secara ke­se­­lu­ruhan. Samudara ini orang baik bisa menjadi jahat, dan orang jahat bisa berpura-pura baik. Jadi, berdak­wah­lah da­lam politik dan jangan sekali-kali berpolitik di da­lam dakwah. (*)

 

 ARIFKI
(Pengamat Politik)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2016 - 03:22:46 WIB

    Mendayung Biduk di MEA

    Mendayung Biduk di MEA Walhasil, sudah kita tutup tahun 2015. Hiruk-pi­kuk politik dalam negeri belakangan telah menguras energi publik, membuat agenda politik luar negeri Indonesia ter­alihkan—padahal tertera dalam radius begitu dekat. Masyara.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]