Ibu Berperan dalam Pewarisan Gala Datuak


Jumat, 08 April 2016 - 04:06:27 WIB

PADANG, HALUAN — Jabatan pangulu di Minangkabau diturunkan secara turun-temurun. Dari niniak turun ke mamak, dari mamak turun ke kemenakannya. Dalam pewarisan jabatan ini, perlu terlebih dahulu kandidat yang pantas, meskipun sejatinya yang berhak mendapat atau memakai gelar pangulu adalah kemenakan dekat, kemenakan di bawah dagu, kemenakan yang setali darah menurut gari matrilineal.  Namun jika kandidat belum terlihat menonjol, maka peran ibu turut menentukan disini.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat Sayuti Datuak Rajo Pangulu mengatakan, jika tanda-tanda menjadi pangulu belum tamapak dari para kandidat, peranan seorang seorang ibu dibutuhkan. Tentunya seorang ibu akan mengetahui mana anaknya yang bersifat baik atau kurang baik, yang rajin salat atau yang suka berbuat dosa. Jika keluarga telah memutuskan siapa yang bakal mewarisi gelar, maka akan dibawa bawa ke kaum serta diperkenalkan keseluruh pasukuan yang ada di nagari.

Diarak ka labuah nan bolong, ka balai nan rami, dijamba di bawah nan rimbun. Kok tanduak ditanam, kok dagiang di lapa, kok tulang dicancang, kok darah di kacau. Inilah yang diamaksud dengan kaba baiak dihimbaukan, kaba buruak bahambaun. Sesuai dengan  surat Ad Dhuha ayat terakhir yang artinya lebih kurang; Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. Upacara pewarisan gelar adat harus memangil seluruh pasukuan yang ada di nagari, namun bukan dalah hal ria atau pamer,” jelas Dt Rajo Pangulu kepada Haluan¸Kamis (7/4).

Dari rumah ka halaman sampai ka nan rami dan berakhir di masjid sesuai dengan aturan leluhur kita.  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” tekan Ketua LKAAM  Sumbar tersebut.

Dalam pergantian datuak ini, menurut Sayuti, terdapat dua perbedaan pada dua kelarasan.  Pada kelarasan Bodi Caniagao, atau pewaris kelarasan Datuak Parapatiah Nan  Sabatang, apabila seorang datuak  telah tua, lurah lah dalam, tabiang lah tinggi, maka biasanya datuak tersebut akan melakukan mangalupah atau mawaraih yang bearti hiduik bakarelaan. Hal ini dimana seorang datuak yang telah tua menunjuk seorang pewarisnya yang masih muda untuk membawakan gelar yang menggantikannya dalam menjalakan tugas.

“Sedangkan pada kelarasan Koto Piliang, biasanya memakai sitsem  patah tumbuah hilang baganti, dimana jika seorang datuak telah meningal, maka dicarikan gantinya,” tambah Datuak Rajo Pangulu.

Terkait siapa yang bakal pantas untuk mewarisi gelar tersebut, ia menjelaskan, dari sekian kandidat yang berhak atau yang saparuik, maka secara alami akan akan terlihat siapa yang pantas.

Kok tagak tampak dari jauh, kok dakek jolong basuo. Bak pepatah, ko mancik lah jaleh ikuanyo dari ketek,” tuturnya. 

Klasifikasi Gelar di Minangkabau

Terhadap gelar adat yang disandang oleh laki-laki di Minangkabau ini, menurut Sayuti Datuak Rajo Pangulu, ada tujuh klasifikasi gelar adat tersebut. Terbagi dalam beberapa tingkatan, serta mempunyai makna tersendiri. Gelar tersebut ada yang bisa diberikan kepada siapa saja asal memenuhi persyaratan dan kriteria dan ada yang hanya bisa diberikan secara turun temurun.

Secara rinci, klarifikasi pertama dari gelar tersebut adalah gelar sako.  Gelar ini hanya bisa diwariskan secara turun-temurun. Jika ahli warisnya tidak ada atau kaum tersebut punah,  maka gelarnya akan digantungkan atau disimpan. Kedua, gelar sang sako, gelar ini merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang, hilang kuciang, hilang meong. Artinya, jika si penerima gelar meninggal, maka gelar kembali kepada si pemberi gelar. Gelar sang sako ini diberikan kepada siapa saja yang telah berjasa terhadap masyarakat Minangkabau. Beberapa tokoh nasional seperti SBY dan Sri Sultan Hamengkubuwono X juga dianugerahkan gelar ini karena jasa-jasanya terhadap masyarakat Minangkabau.

Berikutnya adalah, gelar perangkat adat. Gelar ini dipakai atau digunakan oleh selain dari pada para datuak.  Manti, Dubalang atau Malin yang biasanya menyambung gelar datuknya masing-masing.

“Seperti Malin Rajo Pangulu, Dubalang Rajo Pangulu dan lain sebagainya,” jelas Sayuti.

Keempat adalah gelar mudo. Gelar ini diberikan kepada laki-laki yang akan menikah, ketek banamo, gadang bagala. Tentunya bagi orang Minangkabau yang telah dewasa (sudah menikah) tidak lagi disebut namanya, melainkan harus dipangil gelarnya guna menghormati orang tersebut.

Kelima,  gelar kesultanan,  gelar ini diberikan oleh keturunan kesultanan-kesultanan yang pernah ada di Minangkabau, seperti Kesultanan Aceh, Malaka, dan lainnya dan mereka berhak memberikan gelar sultan kepada anaknya. Keenam, gelar kerajaan, gelar ini diberikan oleh pihak kerajan Pagaruyung untuk wilayah darek, seperti gelar tuanku. Terakhir adalah  gelar cekatan atau gelar keterampilan, gelar ini diberikan kepada ahli bela diri silat. Seperti gelar pandeka mudo, pandeka tup, pandeka putiah dan lain sebagainya. (h/mg-ysn)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 08 Juli 2020 - 09:50:32 WIB

    Hari Ini, Harga Emas Antam Tetap Dikisaran Rp 934 Ribu Per Gram

    Hari Ini, Harga Emas Antam Tetap Dikisaran Rp 934 Ribu Per Gram HARIANHALUAN.COM - Harga logam mulia Antam untuk emas dirilis Rp 934.000 per gram pada perdagangan Rabu (8/7) ini. Angka ini tidak mengalami perubahan dibanding harga jual pada Selasa (7/7) kemarin. Namun dibanding Senin (6/7.
  • Selasa, 23 Juni 2020 - 11:13:33 WIB

    Satpol PP Padang Periksa Sejumlah Tempat Hiburan Malam dan Kafe

    Satpol PP Padang Periksa Sejumlah Tempat Hiburan Malam dan Kafe HARIANHALUAN.COM - Jajaran Sat Pol PP Padang memeriksa sejumlah kafe dan tempat hiburan malam, Senin malam hingga Selasa dini hari (23/6/2020). Pemeriksaan itu dilakukan pasca penutupan beberapa bulan belakangan karena pember.
  • Senin, 15 Juni 2020 - 17:19:45 WIB

    Pisang Langka Berbuah Seribu Ditemukan di Padang

    Pisang Langka Berbuah Seribu Ditemukan di Padang HARIANHALUAN.COM - Pisang langka kembali ditemukan di kawasan Surau Balai, Kecamatan, Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. Pasalnya, batang pisang berukuran pendek itu memiliki buah banyak tidak selayaknya pisang-pisang bias.
  • Senin, 01 Juni 2020 - 15:41:14 WIB

    Ajak Dua Anak Jadi Pengemis, Ibu di Padang Ini Diamankan Satpol PP

    Ajak Dua Anak Jadi Pengemis, Ibu di Padang Ini Diamankan Satpol PP HARIANHALUAN.COM -- Sat Pol PP Padang kembali menertibkan sejumlah orang yang diduga berprofesi sebagai pengemis sedang meminta-minta di sejumlah lokasi di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Penertiban dilaksanakan bertuju.
  • Ahad, 31 Mei 2020 - 18:08:55 WIB

    Masjid Taqwa Muhammadiyah Padang Kembali Dibuka untuk Salat Berjamaah

    Masjid Taqwa Muhammadiyah Padang Kembali Dibuka untuk Salat Berjamaah HARIANHALUAN.COM -- Setelah sekian lama ditutup, Masjid Taqwa Muhammadiyah Pasar Raya Padang kembali melaksanakan salat berjamaah harian dan Jumat. Meski demikian, pengurus dan jamaah masjid wajib menaati protokol kesehatan y.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]