Menanti Kabar Nasib Korban Penyanderaan di Filipina

Menyandarkan Info dari Layar Kaca


Jumat, 08 April 2016 - 04:21:05 WIB
Menyandarkan Info dari Layar Kaca ORANGTUA darri Wendi Rakhadian korban dari penyanderaan kapal Indonesia di Philipina menunggu kepastian keselamatan anaknya di rumahnya di RT 01 RW 1, kelurahan Pasar Ambacang Kecamatan Kuranji, Padang, Kamis (7/4). (RIVO SEPTI ANDRIES)

Nasib dari 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditahan oleh kelompok teroris Abu Sayyaf di per­airan Filipina semakin bera­da di ujung tanduk. Betapa tidak, kelompok teroris tersebut memberikan batas waktu kepada pemerintah Indo­nesia untuk menebus sandera hingga hari ini, Jumat (8/4).

Sama hal nya dengan nasib 10 WNI yang saat ini was-was dan khawatir mereka hanya pulang nama, begitu juga dengan ke­luarga para Anak Buah Kapal (ABK) tersebut. Salah satunya adalah keluarga Wendy Rakha­dian (29) yang merupakan warga Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji.

Sesekali, orang tua Wendy, Aidil (55) dan Asmizar (54) sesekali hanya terdiam di depan televisi menunggu perkembangan terakhir kondisi 10 WNI yang disandera. Mata Asmizar bahkan berkaca-kaca begitu mengetahui hari ini adalah batas waktu ter­akhir pembebasan 10 WNI yang disandera. Ia hanya terduduk lemas dan tidak banyak bicara seperti biasanya, seakan kehila­ngan semangat hidup, seperti kehilangan separuh jiwanya.

Aidil yang biasanya bertugas sebagai seorang pamong di Kelu­rahan Cupak Tangah Kecamatan Pauh ini belakangan selalu pu­lang lebih cepat dari biasanya, melayani berbagai pihak yang peduli dan rekan-rekan wartawan yang silih berganti datang me­nyambangi kediaman bapak enam orang putra tersebut. Tak jarang pula, ia mengotak-atik telepon pintarnya untuk me­ngetahui perkembangan dari Wendy melalui media sosial.

Bagi Aidil dan Asmizar saat ini, keselamatan anaknya dan sembilan WNI yang lainnya adalah prioritas baginya. Ia rela tidak tidur, makan kurang dan meninggalkan sementara waktu pekerjaannya asalkan anaknya selamat dari sekapan kelompok teroris tersebut. Dimata Aidil, Wendy merupakan anak yang tidak banyak bicara dan ber­tangung jawab terhadap keluarga. Ia menilai, Wendy merupakan tipikal pria yang mandiri dan tidak mau bergantung banyak dengan orang tuanya.

“Ia sadar, bahwa ia anak sulung dan memiliki lima orang adik laki-laki yang akan dibim­bingnya, ia rela bekerja serabutan hingga bekerja di kapal milik PT. Patria Maritim Line ini sebagai ABK. Kami sudah pernah mengi­ngatkan Wendy untuk berhati-hati dan memilih pekerjaan lain. Namun ia bersikeras untuk be­kerja di sebuah kapal sebagai ABK, karena ia menyukai pe­kerjaan ini,” tutur Aidil.

Aidil berharap Pemerintah RI agar serius dan mengambil tindakan tegas terkait nasib 10 WNI yang disekap oleh kelom­pok teroris Abu Sayyaf karena ia masih yakin bahwa 10 WNI tidak akan kembali ke tanah air dalam kondisi meninggal dunia.

“Setelah Wendy selamat, saya tidak mau lagi kejadian serupa terulang pada ABK lain dan ini merupakan perjalanan terjauh­nya selama ia menjadi ABK selama dua tahun belakangan ini, awal ia memulai pekerjaan terse­but. Kabar terakhir yang saya terima dari pihak Kementerian Luar Negeri, merkea saat ini tengah melakukan negosiasi dengan pihak kelompok Abu Sayyaf ini,” ujarnya sembari terbata-bata.

Seperti berita yang sudah ber­kembang, kapal tunda Brah­ma 12 dan kapal tongkang Anand 12, telah dibajak kelompok yang mengaku Abu Sayyaf di Filipina. Kedua kapal itu membawa 7.000 ton batubara dan 10 awak kapal ber­kewarganegaraan Indonesia. (*)

 

Laporan:
MUHAMMAD AIDIL & RIVO SEPTI ANDRIES
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]