Pelaksanaan UN Belum Berintegritas


Jumat, 08 April 2016 - 04:22:13 WIB
Pelaksanaan UN Belum Berintegritas Pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA sederajat telah berakhir Kamis (7/4) kemarin. Sejumlah insiden mewarnai ujian akhir pelajar SMA tahun 2016 ini, mulai dari listrik yang pudur hingga dugaan bocornya kunci jawaban ujian. (ANTARA)

Setiap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) selalu diwarnai dengan cerita kunci jawaban yang tersebar luas. UN seperti menjadi momok, baik bagi siswa ataupun pemerintah

PADANG, HALUAN —Penga­mat Pendidikan UNP Syahril menilai pelaksanaan UN ma­sih belum berintegritas, pasal­nya pernyataan antara penye­lenggara UN terbantahkan oleh temuan kunci jawaban oleh Ombudsman.

Ia mengatakan, tidak ada yang salah dengan pernyataan penyelenggara UN bahwa UN berjalan lancar, aman, dan lancar namun pada kenyata­annya proses pelaksanaan UN masih belum berintegritas kare­na hal tersebut terbukti dengan adanya temuan-temuan kunci.

“Memang betul UN ber­jalan lancar. Namun untuk hasilnya atau kemurniannya perlu diper­tanyakan apakah benar seperti itu,” ujarnya, Kamis (7/4).

Menurutnya, sampai saat ini sikap berani untuk jujur dan berani menerima konsekuensi dari hasil yang diperoleh masih tabu bagi sejumlah pihak. Karena hal tersebut juga berkaitan erat dengan gengsi kepala daerah, kalau mutu pendidikan tinggi tentu pamor kepala daerah itu juga naik.

“Walikota tentu mau tidak mau memberikan tekanan ke dinas bagaimana supaya menda­patkan hasil yang maksimal dan bagus, dan dinas juga akan mem­berikan tekanan ke sekolah me­nuntut untuk memberikan hasil bagu,” ulasnya.

Menurutnya, kejujuran me­mang seharusnya menjadi tujuan utama karena itu akan berdam­pak baik bagi pembangunan dunia pendidikan di Sumbar. “Misalnya saja, pusat tahunya kita sudah bagus dan sudah menjalankan dengan ber­inte­gritas. Sementara kenyataannya tidak begitu, nah yang rugi kan kita sendiri karena tidak akan dapat pembinaan-pembinaan untuk lebih baik dari pusat kare­na dianggap sudah jempol,” jelasnya.

Ketua Panitia UN Sumbar Nasmeri mengatakan, pelak­sanaan UN dari hari pertama hingga terakhir kemarin, Rabu (6/4) berjalan dengan lancar, anam, dan tanpa kendala. Karena berkat dukungan semua pihak, baik Pemko, PLN, dan jajaran yang lainnya untuk mensukses­kan jalannya pelaksanaan UN yang berintegritas.

Meskipun ada insiden seperti keterlambatan pasword, atau pemadaman sekian detik di daerah namun dapat diatasi dengan baik oleh sekolah. Pi­haknya juga membantah adanya peredaran kunci jawaban, karena pada pelaksanaan UN tidak ada kesempatan untuk bertanya atau­pun berbagi kunci jawaban.

Selain itu, untuk soal juga tidak sama antara sesama siswa (soal acak), ditambah lagi jumlah soal yang lumayan banyak yang tentunya menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengerjakan dan memahaminya.

Sebelumnya diketahui, Om­budsman menemukan 42 kunci jawaban UN yang beredar di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Penemuan kunci jawa­ban tersebut mulai dari tempat sampah, selokan, dan pinggiran pagar sekolah.

Ketua Ombudsman Sumbar Yunafri mengatakan, anggotanya sudah mengirimkan semua te­muan kunci jawaban tersebut ke Ombudsman pusat agar segera dikoordinasikan dengan Kemen­trian Pendidikan untuk diketahui kebenarannya. “Kita tidak bilang kalau soal itu benar atau tidak, karena bukan kapasitas kita dan lagipula yang tahu kebenaran jawaban itu adalah yang mem­buat soal di Jakarat. Makanya kita segera kirim untuk menga­tahui apa benar itu kunci jawa­bannya, atau tidak,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan pada pemerintah darrah yang tidak menanggapi pemberitaan dan temuan kunci jawaban ini, karena meskipun ujian berjalan lancar namun yang dipertanyakan apa­kah sudah berjalan berintegritas, dan semestinya.

Setelah hasil dari Ombud­man diberitahukan, maka ia baru bisa menentukan sikap selan­jutnya. Jika jawaban tersebut tidak sesuai dengan soal yang ada maka temuan ini akan disudahi, tapi jika temuan ini benar adanya maka ia akan mengambil sikap untuk memprosesnya.

Menanggapi hal ini Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Dae­rah (DPRD) Sumbar Hendra Irwan Rahim. Menurutnya, bere­darnya kunci jawaban pada UN tahun 2016 hanya isu. Karena ia menilai dengan sistem yang diterapkan saat ini sangat tidak memungkinkan masih adanya kesempatan untuk membuat kunci jawaban.

Itu hanya isu, karena apa yang disebut dengan kunci jawaban tidak benar, mengingat antara satu siswa dengan siswa lainnya soalnya berbeda,” katanya kepada media kemarin.

Hendra juga menegaskan agar pihak-pihak yang tidak bertang­gung jawab tidak mengambil kepentingan dalam momen UN ini. “Dari tinjauan kebeberapa sekolah UN berjalan lancar,”  paparnya. Senada dengan Hen­dra, Ke­tua Komisi V DPRD Sumbar, Apris mengatakan, in­for­masi beredar kunci jawaban selama UN tidak bisa dipertang­gung jawabkan.

“Kalau pun masih ada yang beredar itu merupakan oknum yang ingin meraup untung dengan coba-coba membuat kunci tanpa diketahui benar atau tidaknya. Dalam bahasa kita ‘tembak-tembak jenggo’ saja, betul atau tidak ya tidak bisa dipertang­gungjawaban,” ujarnya.

Mengingat dari proses yang dilakukan baik sebelum UN maupun saat UN sangat tidak memungkinkan beredarnya kun­ci jawaban. “Mulai dari proses pembuatan soal, soal didistri­busikan, soal sampai ke siswa dimana tidak sama antara satu anak dengan anak yang lainnya, tentu tidak mungkin bisa dibuat­kan kuncinya,” kata Apris kepa­da Haluan Kamis, (7/4) sore di Padang.

Dilanjutkannya, dari tinjauan Komisi V ke berbagai daerah dan sekolah untuk meninjau UN tidak ditemukan yang namanya kunci jawaban. “Seperti tinjauan terakhir Komisi V ke Tarusan, Kabupaten Solok Selatan. Siswa di SMA N 1 Tarusan saat ditanya tentang kunci jawaban mereka menjawab tidak mungkin,” te­rangnya. (h/rin/isr)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]