Peserta Ujian Nasional Paket C 2016

'Homeschooling Karena Tak Mampu'


Sabtu, 09 April 2016 - 01:50:05 WIB
'Homeschooling Karena Tak Mampu' SUASANA Ujian Nasional Paket C di SD Negeri 13 Simpang Haru, Kota Padang. (ANGGA)

PADANG, HALUAN —  Ho­­me­­schooling atau se­ko­lah rumah memang belum familiar di Kota Padang. Akan tetapi program pe­merintah yang ditetapkan berdasarkan  Per­men­dik­bud No 129/2014 ini, telah menghasilkan beberapa pe­serta didik. Tahun ini, me­reka meretas asa dalam momen pelaksanaan Ujian Nasional Paket C.

Menurut wikipedia, ho­me­schooling adalah metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah di ba­wah pengarahan orangtua atau tutor pendamping. Harapan para peserta UN Paket C ini, tidak lain untuk men­dapat­kan ijazah SMA dan bisa melanjutkan pen­didikan ke perguruan tinggi nantinya.

Seperti terlihat Selasa (5/4) lalu. Sekitar pukul 15.30 WIB, sebanyak 8 orang siswa homeschooling Yayasan Humaira baru saja usai mengikuti UN Paket C di SD Negeri 13 Simpang Haru, Kota Padang. Mereka yang usianya sekitar 17 tahun dan 18 tahun ini duduk berbaris di sebuah kursi panjang sambil ber­ceng­krama satu sama lain. Suasana santai menyelimuti pembicaraan mereka perihal soal ujian yang baru saja dikerjakan.

“Soalnya susah-susah gam­pang. Tapi Alhamdulillah, semua soal itu dijawab saja,” sahut Zulmadi, salah seorang peserta ujian Paket C tahun 2016 dari program homeschooling.

Dalam mengerjakan soal uji­an, mereka mengaku sedikit kebingungan karena materi tidak semua yang terkuasai. Hal ini disebabkan kurangnya jam belajar mereka dibandingkan peserta didik formal yang belajar secara terstruktur dan memiliki kuri­kulum yang baik.

Waktu peserta home­sc­hoo­ling ini lebih banyak di­habis­kan untuk bekerja dan melatih skill inovasi serta motorik saja. Se­dang­kan waktu untuk belajar sangat sedikit. Sehingga kefo­kusan untuk belajar mereka tidak sama dengan peserta didik se­kolah umum lainnya.

“Dari pagi hingga sore kita sibuk dengan kerjaan. Malam hari, baru kita pergi ke rumah didik Yayasan Humairah untuk belajar,” sahut Muhammad Fan­dri dan Muhammad Azraf, siswa homeschooling lainnya.

Direktur Yayasan Humairah, Nency Eradona menjelaskan, para siswa homeschooling yang ia didik saat ini adalah anak-anak yang tidak mampu bersekolah karena keterbatasan biaya. Ka­rena tuntutan hidup yang tinggi, mereka ikut bekerja membantu orangtuanya.

“Jenis pekerjaan yang mereka geluti bermacam-macam, ada yang penggembala sapi, jualan sayur di pasar, menjual martabak, bekerja di cucian mobil dan advertising,” terang Nency.

Meski hidup susah, namun semangat mereka untuk me­nuntut ilmu sangat tinggi. Mereka sangat ingin bersekolah. Karena hal itu pula, Yayasan Humaira mengarahkan mereka ikut pro­gram homeschooling.

“Ini adalah alternatif terakhir agar mereka bisa mengasah in­te­lek­tualnya masing-masing dan mampu bersaing dengan siswa dari sekolah umum,” terang Nency.

Ia juga mengatakan, jadwal siswa untuk belajar disesuaikan dengan waktu senggang mereka. Karena itu mereka tidak harus masuk sekolah setiap hari. Rata-rata para siswa belajar pada malam hari dan itu pun tidak semua yang hadir.

“Kita lebih sering belajar pada malam hari, mulai pukul 21.00-23.00 WIB. Akan tetapi ada juga yang datang pagi atau siang untuk belajar, tergantung waktu yang mereka miliki. Untuk menanggulangi keadaan seperti ini, kita banyak memberikan buku pelajaran dan tugas untuk mereka,” katanya.

Curi Waktu untuk Belajar

Banyak fenomena menarik dari mereka yang memilih belajar sambil bekerja. Dan tentu saja dibutuhkan trik-trik khusus dalam mengatur waktu dan men­yi­kapi aktivitas yang sangat padat agar tak mengganggu jadwal kerja serta pelatihan mereka dalam mengasah skill masing-masing.

“Pastinya kami ingin meng­gapai cita-cita tanpa melalaikan orangtua. Untuk belajar, kami sering mencuri waktu dan sekali-kali minta saran sama guru pembimbing,” kata Zulmadi.

Menurutnya, kesusahan da­lam memahami pelajaran di tempat kerja berasal dari tekanan kerja dan suasana lingkungan. Sehingga untuk fokus dalam memahami pelajaran sedikit susah.

“Kadang saya susah kon­sen­trasi. Soalnya sering mikirin kerjaan. Tapi karena mikir orang­tua dan masa depan, makanya saya pandai-pandai membagi waktu,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Rionaldo, siswa homeschooling lainnya. Menurutnya, partisipasi guru pembimbing sangat mem­bantu ia dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional Paket C ini. Sebulan sebelum ujian, para siswa sudah dibimbing secara khusus untuk membahas soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya.

“Sebulan ini kami difokuskan untuk belajar persiapan UN. Jika kami tidak datang ke rumah didik, maka guru pembimbing yang menghampiri kami ke tempat kerja,” tuturnya.

Untuk menajamkan skill individu para siswa, Nency Era­dona menggaet para guru dan pelatih sukarelawan untuk pem­binaan. Para siswa diberikan sarana dan prasarana  seadanya untuk mengasah diri bersama para guru dan pelatih.

“Kita modali mereka dari sumbangan para donatur yang simpatik terhadap keinginan mereka untuk maju. Ada yang kita belikan mereka gerobak, mesin percetakan, induk sapi dan lain-lain. Ini untuk mendukung mereka berkreasi dan dapat membantu finansial keluarga mereka,” katanya.

Tulang Punggung Keluarga

Muhammad Azraf (18), ada­lah salah satu peserta program homeschooling di Humaira. Di usia produktifnya, dia lebih memilih bekerja daripada se­kolah. Penghasilan ibunda yang hanya sekitar Rp 25-30 ribu perhari, tidak mampu membuat asap dapur mengepul. Itu pula alasan utamanya putus sekolah tahun 2014 silam.

“Ayah sudah tidak ada lagi, jadi saya tulung punggung keluarga,” kata Azraf yang saat ini bekerja di sebuah percetakan.

Ia menceritakan, pada tahun 2013 kemarin, ia sempat sekolah di salah satu SMA swasta di Kota Padang. Namun, karena tidak ada biaya dan menimbang pen­didi­kan adiknya, akhirnya ia memu­tuskan untuk putus sekolah.

“Sejak putus sekolah, sudah banyak pekerjaan yang saya geluti. Tetapi semua itu hanya mengandalkan fisik saja. Mulai dari menjual martabak, kuli bangunan, tukang las dan ke ladang orang. Sekarang ini saya kerja memasang merek ad­ver­tising,” katanya.

Bekerja memang menjadi kewajibannya sebagai seorang anak untuk meringankan beban hidup keluarga. Tetapi tanpa melanjutkan pendidikan, dia akan sulit keluar dari jeratan perihnya hidup, apalagi untuk meraih cita-citanya sebagai se­orang arsitek.

Setelah setahun bekerja, ia merindukan bangku sekolah. Karena itulah, sejak 2 tahun terakhir ia memilih jalur home­schooling dengan harapan bisa terus melanjutkan pendidikan dan menjadi orang sukses.

 “Saya sangat ingin jadi orang sukses dan keluar dari hidup susah ini. Bekerja seperti ini, hanya cukup saja untuk hidup,” pemuda yang tinggal di Peru­mahan Pondok Pinang Blok H no 27, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah ini.

Selama mengikuti ho­mes­chooling, ia mengaku sedikit kewalahan dalam memahami pelajaran. Pasalnya, energi dan pikirannya sudah terkuras di tempat kerja. Hanya dorongan untuk mengubah nasib yang selalu menjadi penyemangat didalam dirinya.

“Untuk belajar, saya harus pandai-pandai bagi waktu. Di­sela-sela waktu luang dan jam istirahat saya latihan dan mem­buat tugas. Hasilnya, pada hari senin sampai kamis (4-7/4) kemarin saya akhirnya ikut Ujian Nasional Paket C tahun 2016,” katanya. (h/*)

 

Laporan :
HAJRAFIV SATYA NUGRAHA

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]