Merasa ‘Disandera’

Petani Ancam Laporkan Kapolres Kampar ke Presiden


Senin, 11 April 2016 - 04:06:20 WIB
Petani Ancam Laporkan Kapolres Kampar ke Presiden

PEKANBARU, HALUAN — Keluarga petani yang dituduh mencuri sawit atas laporan PT Sekar Bumi Alam Lestari m­eng­ancam akan laporkan Ka­polres Kampar dan Kasat Res­krim Polres Kampar ke Pre­siden Joko Widodo.

Hal tersebut dilakukan se­bagai wujud kekecewaan mere­ka atas sikap Polres Kampar yang terkesan membela pe­rusahaan asing itu. Mereka mengaku seperti ‘disandera’ polisi lantaran anggota kelu­arganya masih dijerat. Padahal, seorang diantaranya telah divo­nis tak bersalah oleh penga­dilan dalam berkas kasus yang sama.

“Tak hanya ke Presiden, kasus ini juga akan kami lapor­kan ke Komisi Kepolisian Na­sional, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komisi untuk Orang hilang dan Korban Tin­dak Kekerasan. Saya sedang siapkan bahannya,” ungkap perwakilan keluarga, Jonter (43), petani sawit di Kampar, Jumat (8/4)

Tak hanya itu, saat mereka melaporkan balik PT SBAL atas dugaan tindak pidana penga­niayaan dan perampasan, seakan tak diproses sama seka­li. Hingga kini, para terlapor, yakni sekuriti PT SBAL, tak kunjung diperiksa dalam kasus ini.

“Saat kami mencari kea­dilan karena ibu, ipar dan saudara angkat saya dianiaya dan barang dirampas, kok se­perti tak diproses,” sesal Jonter lebih lanjut.

Alasan Penyidik, kata Jon­ter, cukup mencurigakan. Ber­da­sarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penye­lidikan (SP2HP) lembar A2 ?tertanggal 06 April 2016, penyi­dik mengaku tak tahu alamat para terlapor?. Padahal, saat peru­sahaan melaporkan keluarganya dengan tuduhan mencuri sawit, hanya dalam tempo sehari, pe­nyidik cepat me mproses dan langsung men­jadikan keduanya sebagai ter­sangka?.

“Artinya, polisi mengetahui jelas identitas mereka saat melaporkan keluarga saya?. Ada bukti mereka (sekuriti PT SBAL, red) telah di BAP dan disitu tertulis lengkap identitas mereka. Sekarang, saya mela­por balik, kok polisi bilang tak tahu alamat mereka,” lanjutnya sambil menunjukkan berkas salah seorang oknum sekuriti berinisal MRS (40) yang di BAP pada pada 23 Januari 2016 lalu saat melaporkan pencurian sawit.

Jonter berharap polisi se­gera melepaskan jeratan hu­kum bagi iparnya dan mem­proses laporan­nya terhadap perusahaan. “Jika memang tak profesional, tak transparan? dan justru menjerat warga tak bersalah, saya akan laporkan kasus ini hingga ke Presiden,” ancamnya.

Lebih lanjut, Jonter me­ngaku, pada 18 Maret 2016 Ialu, Ia telah mengirimkan surat ke Kapolda Riau perihal permohonan perlindungan dan kepastian hukum. Namun, hing­ga kini belum ada respon. Selain itu, Ia juga telah mela­porkan penyidik Satreskrim Polres Kampar ke Bid Propam Polda Riau.

Dari informasi yang di­himpun, kasus ini bermula pada Sabtu (23/1) sekitar pukul 08.00 WIB, Ibu kandung Jonter, Rasmi (68), Iparnya, Rudy Siagian (29) dan Saudara Ang­katnya, Kabul (27) diduga dianiaya oleh 4 orang oknum sekuriti PT SBAL dan seorang anggota TNI. Mereka dituduh mencuri sawit di lahan yang bukan dalam kawasan HGU PT SBAL di Desa Kota Garo Kecamatan Tapung Hilir Kabu­paten Kampar.

Rasmi ditinggalkan di areal kebun, Rudy dan Kabul diseret ke mess PT SBAL lalu diduga dianiaya. Sekitar 7 jam ke­mudian?, keduanya bersama mobil pick up milik istri Rudy yang berisi 200 kilogram sawit dan 2 tandan sawit, dibawa ke Mapolres Kampar di Bang­kinang. Keduanya dilaporkan mencuri sawit perusahaan asing asal Malaysia grup Kuala Lum­pung Kepong (KLK) itu dan oleh Polres Kampar ditetapkan sebagai tersangka dalam berkas kasus yang sama.

Anehnya, dalam tindak pidana ringan (tipiring) itu, cuma Kabul sendiri yang disidangkan. Sedangkan Rudy sendiri, menurut Polres Kampar, akan diproses berbeda hanya gara-gara punya rekam jejak pernah dihukum penjara. Padahal, lokasi kejadian dan berkas kasusnya sama dengan Kabul. (h/hr)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]