Membumikan Permainan Tradisional Anak


Selasa, 12 April 2016 - 02:54:01 WIB
Membumikan Permainan Tradisional Anak Wako ikut permainan tradisional anak nusantara. (FADIL)

Bercucuran peluh dan sesekali menyekanya dengan tangan, Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf tampak begitu menikmati permainan tali, yang diikutinya bersama beberapa pelajar sekolah dasar, di Lapangan Sepakbola Ombilin Sawahlunto, Sabtu (9/4) akhir pekan lalu.

Bak merasakan kembali ke puluhan tahun silam, Ali Yusuf dengan bersemangat mengikuti aturan permainan. Jika dia tidak bisa menyelesaikan rintangan yang ada dalam permainan tali yang di­mainkan, dirinya pun spor­tif untuk tampil meme­gang tali, dan memper­silakan pemain lainnya untuk tampil.

Pelajar sekolah dasar lainnyapun tidak mem­permasalahkan dengan siapa mereka bermain. Asalkan hati mereka se­nang, permainan tali yang musti dilompati saat me­reka tampil, langsung me­re­ka lakukan.

“Senang saja. Bapak­nya juga mau bermain dengan kami, ya mau ba­gaimana lagi aturannya kan jelas, siapa yang tidak bisa melewati tali dengan baik, ya harus mau me­megang tali untuk dilom­pati teman lainnya,” ujar salah seorang siswa.

Permainan tali yang diikuti Ali Yusuf, hanya salah satu dari begitu ba­nyak permainan tra­di­sio­nal yang ditampilkan da­lam Festival Permainan Tradisional Anak Nu­san­tara, di Lapangan Ombilin Sawahlunto.

Festival yang digelar bersama Antara Pemko Sawahlunto dan Kodim 0310 SSD itu, memang sengaja menampilkan be­ra­gam permainan tradi­sional, yang dulu mem­bumi di nusantara di era tahun 90-an.

Sebut saja badie-badie batuang, engrang tem­purung, mobil-mobilan berbahan batang kelapa, ollah hop, tam-tam buku, layang-layang, ular naga, permainan orang buta, semba lakon.

Selanjutnya terompah batok, lukah gilo, per­mainan lompat tali, teng­kelek, congkak, sepak te­kong, pacu karung, terom­pa panjang, petak umpet, batu kampar, bola api, dan banyak lagi.

Menurut Ali Yusuf, permainan tradisional anak nusantara ini tidak kalah dengan permainan modern sekarang. Sebab permainan tradisional tercipta dan terbentuk berdasarkan nilai luhur sang kreasi, orang tua kita dulu.

Danramil Talawi Sa­wahlunto, Kapten Sur­yanto juga mengatakan, kerja sama yang dilakukan Pemerintah Sawahlunto dengan Kodim 0310 SSD, bertujuan untuk mem­bang­kitkan kembali per­mainan tradisional anak Indonesia, khususnya anak Sawahlunto.

Menurut penghobi se­gala permainan tradisional kelahiran 1 Mei 1962 itu, membangkitkan per­mai­nan tradisional anak di tengah perkembangan tek­nologi saat ini, dapat mem­buka tembok setiap in­dividu generasi muda ca­lon pemimpin masa depan.

Perkembangan tek­no­logi mungkin tidak bisa dihilangkan dari generasi saat ini. Namun, upaya untuk menumbuhkan ke­bersamaan, budaya saling kerja sama, kedisiplinan, dan kejujuran harus dibu­mikan, caranya melalui permainan tradisional anak.

Permainan tradisional anak-anak ini, menge­de­pankan nilai ketimuran dan unsur sosial.

Sebab ada interaksi antara satu pemain dengan beberapa pemain lainnya. Baik di saat akan main, maupun begitu permainan usai.

Banyak nilai positif yang bisa ditum­buh­kem­bangkan melalui permai­nan tradisional yang per­nah membumi di seluruh daerah Indonesia, terma­suk Kota Sawahlunto sen­diri.

Dengan permainan tra­­di­sional, anak-anak akan belajar bagaimana bersosialisasi dengan te­man rekan sebayanya, yang berlanjut pada tum­buhnya kepedulian antar sesama.

Munculnya rasa ke­bersamaan yang dimulai semenjak dini, secara ber­ta­hap, akan membangun rantai kebersamaan, yang bisa saja diwujudkan da­lam bentuk gotong royong di tengah masyarakat, kala para siswa beranjak de­wasa.

Tidak hanya itu, rata-rata permainan tradisional menuntut pemainnya un­tuk disiplin dan jujur. Apa­pun permainan yang me­libatkan banyak peserta secara langsung, akan mem­bentuk setiap indi­vidu untuk disiplin dan jujur.

Sebab, jika para pe­main tidak bisa mene­rapkan kedisiplinan dan kejujuran, alamat per­mai­nan akan berakhir.

Mungkin itu bedanya dengan permainan yang berbasis teknologi. Baik melalui komputer maupun gadget.

Tidak ada tuntutan untuk bermain dengan tim, tidak dibutuhkannya kebersamaan.

Setiap individu yang ada, dapat tetap bermain sendiri. Suasana itu, justru membuat para calon gene­rasi penerus bangsa, mem­bangun kesendiriannya masing-masing, tidak ada kebersamaan.

Suasana itu pun yang membangun tembok din­ding pembatas antar satu individu dengan individu lainnya. Karena jarangnya tercipta komunikasi, ku­rangnya interaksi antar sesama.

Untuk itu, bersama-sama dengan pemerintah, masyarakat untuk men­dorong membumikan kem­bali permainan tra­disional terhadap setiap anak.

Meskipun, nantinya tidak meninggalkan per­kembangan dan teknologi yang ada.(***)

 

Oleh: FADILLA JUSMAN

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 22 Mei 2017 - 08:11:52 WIB
    PEMKAB SOLSEL

    Membumikan 1.000 Rumah Gadang

    Membumikan 1.000 Rumah Gadang SOLOK SELATAN,HALUAN -- Kawasan Saribu Rumah Gadang (SRG) Solok Selatan (Solsel) kian bersolek. Tak tanggung-tanggung, di 2017 Pemerintah Kabupaten Solsel menggelontorkan Rp10 miliar untuk pembenahan kawasan wisata adat dan b.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]