HJK 103 Dilamun Ombak


Selasa, 12 April 2016 - 02:55:35 WIB
HJK 103 Dilamun Ombak

Momentum HUT Kabupaten Solok ke- 103 tahun 2016, merupakan alek daerah yang semestinya dalam perayaanya disusun secara maksimal agar kesan kemeriahan terlihat dari layaknya sebuah pesta rakyat.

Namun kondisi berbeda terlihat dari perayaan peringatan Hari Jadi Kabupaten Solok yang jatuh pada 9 April tahun ini, yang terlihat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sejak pe­ringatan  HJK ini dicanangkan oleh Pemerintah daerah itu.

Tak terlihat kemeriahan ber­arti  seperti layaknya sebuah alek, tak ada baliho sosialisasi yang berjejer sepanjang jalan apalagi melalui media massa. Sementara saat menjelang HUT Tahun 2015 lalu misalnya, hampir disepanjang jalan terpampang wajah Bupati-Wakil Bupati. Mung­kin hanya di ibu kota kabupaten Solok Arosuka saja yang memperlihatkan sedikit tanda-tanda gelaran perayaan HJK ini melalui sebuah baliho yang terpampang di lereng bukit dekat tugu ayam kukuak ba­lenggek.

Bahkan marawa sebagai sim­bol pelaksanaan sebuah pesta di Ranah Minang, dipasang seti­danya 2 hari jelang puncak pera­yaan.  Entah karena ingin pera­yaan tahun ini hanya dilakukan secara sederhana, atau memang karena dinginnya suasana Aro­suka yang telah membungkus perayaan HJK tahun ini ikut berdingin-dingin pula.

Geliat perayaan HJK  tahun ini terkesan sepi dari rangkaian acara. Pemandangan ini jelas jauh berbeda dibandingkan perayaan HUT Kabupaten Solok ke-102 lalu. Terlebih saat perayaan Kabupaten Solok menapaki usia 1 Abad alias 100 Tahun. Gegap-gempita kegembiraan ditebar Pemerintah Daerah hingga ke sudut-sudut 74 Nagari di 14 Kecamatan jauh sebelum malam puncak atau sekurang-kurangnya sekitar Seminggu menjelang HUT Kabupaten Solok itu sen­diri.

Sementara pada tahun ini, masing-masing SKPD terkesan saling lempar lamang angek. Pada gelaran festival Danau Kembar saja misalnya, Gelaran untuk membangkik batang tarandam sebagai upaya promosi wisata yang dimiliki daerah itu pun terkesan hambar, bahkan seakan dipaksakan untuk sekedar me­narik simpati sang nahkoda baru yang mencetuskan festval ini pada periode kepemimpinannya lima tahun silam.

Hanya pesta kembang api sebagai penutup resepsi pem­bukaan festival saja barangkali yang menjadi tanda bagi ma­syarakat, bahwa kabupaten yang pernah menjadi terbaik dari yang baik ini tengah merayakan hari kelahirannya. Tak terlihat antu­sias masyarakat untuk ikut bersama-sama merayakannya. Hal ini jelas terlihat dari sikap masyarakat yang terkesan apatis, apakah  karena tidak mau tahu atau memang tidak tahu sama sekali. Bahkan berita akan ada­nya alek anak Bupati yang wak­tunya tidak terpaut jauh, justru lebih menarik untuk dibicarakan ketimbang peringatan HJK ini.

Seharusnya momentum ulang tahun ini, dirasakan oleh seluruh masyarakat kabupaten Solok sebagai sebuah pesta rakyat agar masyarakat mempunyai rasa memiliki daerah ini. Namun sayang,  nuansa ulang tahun kali ini, hanya dirasakan oleh kala­ngan tertentu, terutama kalangan elit di jajaran Pemerintah Ka­bupaten Solok saja. Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jika perayaan sebe­lumnya seluruh masyarakat dili­batkan, seperti menampil karya seni anak-anak nagari, namun sekarang jauh dari partisipasi masyarakat.

Mirisnya lagi, pada puncak peringatan yang ditandai dengan pelaksanaan sidang paripurna istimewa di DPRD Kab.Solok Sabtu (9/4) lalu.  Ruang sidang yang semestinya sesak oleh pe­ngunjung justru terlihat lengang. Bahkan anggota dewan yang terhormat sebagai representasi dari perwakilan masyarakat juga tak begitu peduli dengan alek ini, karena kursi empuk para wakil rakyat ini juga tak sampai separo yang terisi. Namun masih men­dingan lah, jika dibandingkan ketika pembukaan festival danau kembar yang tak dihadiri oleh satupun anggota dewan yang terhormat ini. Namun kita ber -positif thinking  saja lah, mungkin pak dewan yang terhormat ini tengah disibukkan dengan pa­datnya agenda bertandang keluar daerah, sehingga tak sempat menghadiri alek daerah ini.

Perayaan ulang tahun kabu­paten Solok ke 103 tahun ini jelas menyisakan kekecewaan bagi Bupati Solok Gusmal. Betapa tidak, meski tetap berusaha ter­senyum dengan keadaan, namun wajah gusar tetap tak bisa disem­bunykan, ketika melihat tamu undangan yang mengadiri resepsi puncak perayaan HJK ke 103 yang digelar di Gor Batutupang Kotobaru pada malamnya. Selain kurangnya tamu yang hadir dari kalangan masyarakat, banyak pejabat pemerintah banyak yang memilih mangkir dalam acara tersebut, mungkin paling banyak hanya 10 orang kepala SKPD yang hadir, sungguh perayaan yang luar biasa.

Padahal seharusnya di mo­men HUT kabupaten Solok, juga menjadi momen bagi pejabat-pejabat pemerintah dapat me­nunjukan itikad baik untuk ke­majuan daerah selepas perang pada pilkada lalu. Momen untuk introveksi diri, apa yang telah diperbuat untuk ranah Solok nan indah ini. Moment yang seha­rusnya dihadiri oleh seluruh pejabat, guna me­nunjuk­kan ke­kom­pakan dalam Birokrasi kepada masyarakat. Bahkan mo­ment yang tak kalah meriah dari alek anak Bupati.

Sejatinya, harus ada evaluasi menyeluruh terhadap pelak­sanaan HJK tahun ini, agar HJK tahun depan tak semakin dilamun ombak yang tak jelas tepiannya. Agar apa yang diharapkan dari sebuah peringatan juga tercapai, tanpa hanya sekedar menjadi agenda tahunan yang menjadi seremonial pemerintah daerah  dan menghabiskan anggaran semata..semoga..***

 

Oleh : YUTIS WANDI MALIN MARAJO

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]