Istri Siyono Terima Uang dari Polri Sampai Rp100 Juta


Selasa, 12 April 2016 - 03:01:50 WIB

JAKARTA, HALUAN — Se­lain membeberkan hasil otopsi jenazah terduga tero­ris Siyono kepada publik, PP Muhammadiyah dan Kom­nas HAM juga membuka bungkusan uang yang dite­rima istri Siyono, Suratmi, beberapa waktu lalu, yang diketahui sebagai “uang damai”.

Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muham­ma­diyah Busyro Muqoddas bersama Komisioner Kom­nas HAM Siane Indriani yang membuka bungkusan itu.

Saat bungkusan dibuka, terlihat lima gepok uang kertas pecahan Rp100.000 tergeletak di meja. Total uang yang berada dalam bungkusan tersebut diketa­hui berjumlah Rp100 juta.

“Uang ini belum pernah dibuka. Kami simpan, sam­pai sekarang kami enggak tahu isinya apa, jumlahnya berapa,” tutur Busyro sebe­lum membuka bungkusan “uang damai” tersebut da­lam konferensi pers di Kan­tor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Menteng, Ja­karta Pusat, Senin (11/4).

Untuk langkah se­lan­jutnya, kata Busyro, pihak Muhammadiyah akan be­rem­buk dengan Komnas HAM terkait prosedur yang paling proporsional untuk memproses uang itu.

Selain bersama Komnas HAM, sejumlah perwakilan masyarakat sipil juga akan turut serta dalam rembukan tersebut.

Tak tergoda “uang damai”

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, mengatakan, sikap Suratmi dapat dijadikan pelajaran yang berharga.

Meski tak berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup dan juga harus meng­hidupi lima anaknya, Surat­mi tak lantas menerima uang damai tersebut.

Ia bahkan tak menyen­tuh dan memberikannya kepada PP Muhammadiyah. Idealisme moral yang di­miliki Suratmi, lanjut dia, merupakan pelajaran ber­harga bagi semua orang.

“Idealisme moral de­ngan keyakinan moralnya, meski sangat butuh uang itu, tetapi karena ada kebenaran yang dicari, duit itu ditolak dan diserahkan ke kuasa hukum,” kata Haris.

Sebelumnya, Suratmi menceritakan, ia sempat diberi uang dua gepok saat berada di Jakarta. 

Uang dua gepok yang dibungkus koran dan diikat plakban berwarna coklat itu diberikan seseorang yang diduga polwan untuk biaya pemakaman suaminya dan biaya santunan untuk anak-anaknya.

“Kami di Jakarta me­min­ta agar suami diotopsi biar tahu penyebab kema­tiannya, kok tidak wajar,” ujar Suratmi dalam perte­muan di kantor PP Muhammadiyah di Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta, Se­lasa (29/3). 

Suratmi menceritakan, uang tersebut diberikan seorang perempuan ketika ia berada di hotel saat hen­dak pulang.

“Namanya Ibu Ayu dan Bu Lastri, tidak memakai seragam. Saya tidak tahu, mungkin Densus atau pol­wan, memberikan uang ini kepada saya dan kakak sa­ya,” kata dia.

“Bilangnya, ini dari solidaritas kami untuk biaya pemakaman dan untuk anak-anak. Namun, saya tidak berani membuka, no­minalnya banyak sekali,” lanjut Suratmi.(h/kcm)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]