Dendeng Jantung Pisang, Andalan Bundo Fabbio


Selasa, 12 April 2016 - 03:09:49 WIB
Dendeng Jantung Pisang, Andalan Bundo Fabbio NURHAYATI mem¬perlihatkan produk olahan yang diproduksinya dengan merek Bundo Fabbio di rumah produksinya, Jl. Mustika XII No.175 Perumnas Pengambiran, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang, Senin (11/4).

PADANG, HALUAN — Bagi banyak orang, jantung pisang dijadikan sayuran. Di tangan Nurhayati, jantung pisang menjadi dendeng. Potongan, ukuran, dan warna jantung pisang olahan itu sangat mirip dengan dendeng daging sapi, dengan rasa yang spesifik dan renyah.

Nurhayati mengemas den­deng tersebut dalam kemasan isi 120 gram. Dengan meng­gu­nakan merek “Bundo Fab­bio”, ia memproduksi den­deng ter­sebut rata-rata 100-150 kg per bulan, dengan har­ga jual Rp­90.000 per kg. Ia ke­mu­dian memaasarkan pro­duk ter­sebut ke berbagai mini mar­­ket, pusat oleh-oleh khas Sum­­bar di Padang dan Ja­kar­ta.

Usaha rumahan tersebut ia rintis sejak 2010. Kini usaha itu menjadi sumber penda­patan utama keluarga. Selain dendeng jantung pisang, ia juga memproduksi dendeng pucuk singkong, serundeng ubi, serundeng kentang, dan rendang telur. Ia mem­pro­duksi produk tersebut di ru­mah­nya, Jl. Mustika XII No.­175 Perumnas Pengambiran, Kecamatan Lubuk Begalung, Padang.

“Permintaan pasar lebih banyak pada dendeng jantung pisang. Dendeng pucuk sing­kong, rendang telur, dan se­run­deng kentang, kami buat kalau ada pesanan,” ujar  wanita kelahiran Payakum­buh, 20 November 1961 kepa­da Haluan, Senin (11/4).

Sebelumnya, wanita ta­ma­­tan PGA 4 tahun ini ha­nya membuka warung secara ke­cil-kecilan di rumahnya. Ya, sekadar menambah pen­da­patan keluarga. Maklum, sang suami hanya karyawan di perusahaan swasta. Ter­nyata pendapatan dari usaha wa­rung masih jauh dari harapan.

Saat suaminya kena PHK (pemutusan hubungan kerja), Nurhayati memutar otak un­tuk mendapatkan penda­patan yang memadai. Ia lalu men­coba membuat serun­deng ubi. Bermodalkan 15 kg ubi jalar, ia memproduksi 6 kg serun­deng, yang kemudian ia ke­mas dan titipkan di kedai-kedai terdekat dengan eceran Rp500 per bungkus. Ia juga melayani pesanan dari tetang­ga. Ada juga yang di­bawa ke Makkah oleh calon jamaah haji.

Selain serundeng ubi, ia juga mencoba membuat den­deng pucuk singkong, yang ia mulai dari lima ikat pucuk singkong. Produk itu juga mendapat tanggapan positif dari teman-temannya dalam kegiatan PKK kelurahan.

“Rata-rata dendeng pu­cuk  ubi yang saya buat ra­sanya cukup enak. Tetapi, saya sulit mendapatkan ba­han baku. Lagipula nilai ekonominya kurang bagus,” kenang Nurha­yati.

Sementara pembuatan se­run­deng ubi tetap jalan, ia men­coba pula membuat den­­­deng jantung pisang. Ide ini mun­cul lantaran jantung pi­sang sangat mudah di­peroleh ka­rena bahan baku­nya melim­pah.

Dengan mengolah empat kilogram jantung pisang, uji­coba dilakukan Nurhayati bersama suaminya mem­buah­kan hasil.  Bentuk, warna, dan rasa sudah sesuai dengan harapan meski agak keras. Kesimpulannya, dendeng jan­tung pisang masih belum bisa diandalkan. Itulah kendala mendasar kalau produksi hendak ditingkatkan.

Namun begitu, Nurhayati sedikit terhibur karena setiap yang mencicipi dendeng jan­tung pisang buatannya selalu memberikan komentar po­sitif. Lagipula, produk baru ini langka dan unik, dan diyakini punya nilai jual yang sangat baik.

Selain serundeng ubi, Nur­­hayati mencoba pula mem­­buat serundeng kentang, rendang telur, sementara uji coba den­deng jantung pisang jalan terus. “Setelah dua tahun mela­kukan uji coba, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT, baru saya me­ nemukan solusi pada 2014. Saya mendapatkan rasa yang pas, gurih dan re­nyah, tidak keras lagi,” ungkapnya. 

Sejak itu, Nurhayati dan keluarga mulai merasa lega. Kini pemasarannya telah me­luas ke berbagai kota. Pute­rinya yang merupakan maha­siswi di perguruan tinggi swas­ta di Padang, ikut mema­sarkan produk tersebut mela­lui media daring (online). Sambutan pasar sangat meng­gembirakan.

“Meningkatkan produksi agak terkendala dengan pera­la­tan yang masih manual dan rumah sekarang sudah terasa sempit. Harapan kami, ada tempat produksi yang lebih baik, didukung pula dengan peralatan modern,” harap Nurhayati. (h/rb)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Agustus 2016 - 03:52:56 WIB
    BERKAT BANTUAN DANA KEMITRAAN PERTAMINA

    Usaha Dendeng Blang Rakal Kembali Bangkit

    Usaha Dendeng Blang Rakal Kembali Bangkit BANDA ACEH, HALUAN — Jika ke Provinsi Aceh, jangan lewatkan untuk membeli den­deng khas Aceh yang gurih dan manis. Salah satu usaha yang membuat dendeng itu adalah usaha Blang Rakal di Jl. Teuku M. Daudsyah No. 118 Banda A.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]