IAIN Ricuh, Bola Mati di Tangan Siapa


Selasa, 12 April 2016 - 03:37:27 WIB
IAIN Ricuh, Bola Mati di Tangan Siapa

Ribuan ma­­ha­sis­wa IAIN Imam Bon­jol (IB) Padang berunjuk rasa, Senin (11/4), setelah men­dengar kabar ada rekannya digebuk oknum Satuan Penga­manan (Satpam) akhir pekan lalu. Bukan hanya kerugian materil yang harus ditang­gung kampus di Lubuk Lintah itu, lebih parah lagi tentunya, citra negatif sebagai kampus yang jauh dari rasa aman. Kampus ini memang sudah lama, gagal branding!

Banyak pihak yang menyayangkan peristiwa sepele akhirnya membuat chaos, berhentinya proses belajar dan mengajar. Apalagi sebagai kampus pendidikan tinggi agama, harusnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral, baik mahasiswa maupun oknum Satpam.

Tulisan ini tidak untuk menuding pihak mana yang salah dan pihak mana yang benar.

Semua telah selesai di atas kertas perdamaian. Namun demikian, peristiwa ini perlu diambil hik­mah agar tidak terjadi di masa depan hal-hal serupa ini. Jika memang akhirnya, demonstrasi adalah sebuah jalan gerakan bagi mahasiswa, hendaknya aspirasi yang lebih besar harus diusung. Karena di pundak mahasiswa, kaum intelek, elite minority, inilah suara kritis terhadap penguasa ditumpangkan. Mahasiswa ada­lah energi kaum muda yang harus bersuara lantang untuk kepen­tingan ummat.

Matinya Ilmu Sosial

Suasana runyam dan ricuh di kampus Lubuk Lintah menjadi trending topic di media sosial. Kata seorang akademisi, peris­tiwa ini bagian dari kematian ilmu sosial di rumah sendiri, rumah para ilmuwan.

Persoalan sosial, memang selalu terjadi dimanapun. Namun untuk konteks kampus ini, patut­lah diduga ada masalah seputar komunikasi dan koordinasi seba­gai pilar pendukung harmonisasi kehidupan kampus. Baik antar sesama warga kampus, maupun dengan warga sekitar. Sudah lama memang, ada konflik bathin warga kampus dengan keadaan rumah sendiri. Mulai dari persoa­lan kemampuan kepemimpinan, birokrasi, hingga harapan terha­dap harmoni yang harus berjalan dan dijalankan oleh sebuah sis­tem kehidupan kampus ideal. Bukan cerita baru, ada motor hilang, apalagi helm. Adalah cerita lama, jika wisuda tiba, para orang tua yang datang, heran melihat kampus yang centang parenang. Parkir mahal, macet berjam-jam. Kenyamanan ha­nyalah harapan yang kian jauh meninggi.

Belum lagi sederetan persoa­lan yang didiamkan, mati di tangan para pengambil kebijakan. Sungguhpun persoalan tersebut sepele, tapi tak bisa selesai. Begitu sibukkah para pejabat perguruan tinggi ini? Tentu saja sibuk, tetapi itu bukan alasan untuk membiarkan hingga setiap usulan dan aspirasi mati di ta­ngan. Apalagi, bola aspirasi dan administrasi mati karena pejabat­nya jarang di meja. Ini ironi.

Sebenarnya, sudah lama ada usul, agar pejabat IAIN Imam Bonjol Padang, memberi perha­tian penuh terhadap lingkungan sekitar. Mengaplikasikan seluruh ilmu yang ada di IAIN. Ada puluhan jurusan keilmuwan di kampus ini, harusnya mampu memberikan warna di lingku­ngan dan Lubuk Lintah sekitar­nya. Ada banyak pakar, juga ustadz yang setiap hari mengisi jadwal ceramah.

Sekadar misal, ada gerakan membangun harmoni, para pim­pi­nan menurunkan tim untuk “ngopi” bersama dengan tokoh-tokoh sekitarnya, juga dengan lurah, RT, RW, dan perangkat lingkungan lainnya. Sejauh ini, belum ada gerakan. Dulu, paruh 1999, pasca reformasi, Senat Mahasiswa Institut (SMI) pernah menggelar acara bersama dengan pemuda. Setelah itu, tidak ada terdengar bagaimana program kampus terhadap lingkungan setempat.

Hendaknya, ke depan, ada program pendampingan terha­dap lingkungan. Para sosiolog turun melihat lebih dekat, mera­sakan denyut nadi warga sekitar, begitu pula pakar komunikasi, pakar pendidikan, dsb.

Peristiwa pemukulan, Ming­gu hingga Senin menjadi ricuh, adalah puncak dari segala jem­batan harmoni kehidupan yang memang tak pernah dibangun sejak semula. Komunikasi antar jajaran, antar lingkungan, me­mang menjadi masalah tersendiri bagi lembaga yang ingin mening­katkan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) ini.

Semoga menjadi hikmah, agar bola tidak mati di tangan para pemangku jabatan struktural di kampus Islami ini. Berbagi tugaslah, beri kewenangan kepa­da mereka yang mampu untuk menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Jadikan tragedi ini sebuah moment positif. Salam. (*)

 

ABDULLAH KHUSAIRI
(Dosen FDIK IAIN IB)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: red[email protected]