Akibat Tambang Liar di Sungai Batanghari

Ribuan Hektare Sawah Tercemar Mercury


Rabu, 13 April 2016 - 03:03:30 WIB
Ribuan Hektare Sawah Tercemar Mercury Salah satu kegiatan tambang liar yang diduga memakai mercury dan mencemari sungai sungai yang ada di Dharmas¬raya. (MARYADI)

DHARMASRAYA, HALUAN — Seluas 7.465 hektare sawah di Kabupaten Dharmasraya, diduga sudah tercemar limbah mercury. Pasalnya luas sawah tersebut dialiri oleh irigasi yang bersumber dari Sungai Batanghari yang sudah mengandung mercury akibat maraknya penambangan liar.

Menurut Kepala Badan Ling­kungan Hidup (BLH), dr. Rah­madian, air sungai di Ka­bupaten Dhar­masraya umum­nya sudah ter­c­e­mar, apalagi air Sungai Ba­tang­hari.

Sementara apabila air yang ter­cemar oleh mercury, air tersebut di konsumsi oleh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka ma­nusia itu akan ter­kon­ta­minasi oleh zat mercury ter­sebut, yang mana akibatnya adalah otak mansuai tersebut tidak berfungsi lagi.

Kepala Dinas Pertanian Ta­naman Pangan dan Ho­l­ti­kul­tura Kabupaten Dhar­mas­raya, Ir.Afdal JP Tamsin, luas sawah di Kabu­paten Dhar­masraya berjumlah 7.996 hektare. Seluas 7.465 hek­tare diairi oleh saluran irigasi dan 531 hekatr tadah hujan. “Ka­lau masalah pencemaran air, bukanlah tupoksinya baik untuk memantau atau men­cegahnya, tupoksi Dis­paer­tahor adalah mem­bangun sa­wah, memberi bibit dan pe­nyu­luhan bagi petani. “kata Ir.Afdal JP Tamsin, ketika ditanya haluan, Selasa ke­marin.

Namun dengan sawah se­luas 7.465 hektare diairi oleh saluran irigasi tersebut, di­duga kuat areal sawah di Dharmasraya sudah tercemar air mercury, karena sumber aliran saluran irigasi yang ada merupakan air dari sungai. Sementara sungai sungai di Dhar­­masraya umumnya su­dah ter­ce­mar, apalagi Sungai batanghari yang dihulunya sangat marak tambang liar atau ilegal minning.

Menurut Kepala Badan Ling­kungan Hidup (BLH), dr. Rah­madian, air sungai di Kabupaten Dharmasraya umum­nya sudah tercemar, apalagi air Sungai Ba­tang­hari. Sementara apabila air yang tercemar oleh mercury, air ter­sebut di konsumsi oleh ma­nusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka manusia itu akan terkon­taminasi oleh zat mercury tersebut, yang mana akibatnya adalah otak man­suai tersebut tidak berfungsi lagi.

Seperti sawah yang pa­dinya hidup dari air yang sudah tercemar, maka padi tersebut juga sudah tercemar oleh mercury, begitu pula tumbuhan lainnya. Misalnya, pohon durian yang berada di tepi sungai yang airnya sudah tercemar, maka durian te­r­se­but juga ter­cemar.

Padahal saluran Irigasi Ba­tang­hari yang dibangun dengan dana triliunan rupiah ters­ebut adalah untuk men­sejahterakan ma­sya­rakat yang memanfaatkan airnya, bahkan sampai ke Provinsi Jambi, masyarakat juga terkena dam­pak pencemaran tersebut, tetapi se­bentar lagi musibah besar akan melanda orang orang yang terkena dampak buruk air tersebut.

Begitu pula cita-cita pe­me­karan Dharmasraya salah sa­tunya adalah untuk men­se­jah­terakan masyarakat dengan m­emanfaatkan sejengkal ta­nah yang ada di tanah mekar ini menjadi rupiah. Namun hal itu sudah terbalik, karena air sebagai sumber kehidupan manusia sudah tercemar oleh air mercury akibat banyaknya tambang liar yang air lim­bah­nya disalurkan ke sungai sungai.

Padahal sejarah sudah men­­catat di teluk Mina Mata Jepang, dan sampai sekarang masih ada saksi sejarah yaitu orang orang terkena dampak mercury itu masih ada yang hidup, namun otaknya tidak berfungsi lagi, begitu pula yang terjadi di Teluk Buyat Su­lawesi, juga ada saksi sejarah sampai saat kini karena akibat tambang emas liar tersebut.

“Mudah-mudahan dengan adanya latihan tentara di Solok Selatan mendatang, merupakan langkah awal un­tuk menghabisi tambang liar tersebut agar pencemaran air tidak ada lagi, khususnya di Sungai Batang­hari,” ha­rap­nya. (h/mdi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]