Mengupas Tuntas Hukum Peluluhan Konsonan


Kamis, 14 April 2016 - 03:22:50 WIB
Mengupas Tuntas Hukum Peluluhan Konsonan

Pepatah maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai” menjadi “maksud hati mematuhi hukum, apa daya kaidah tak sampai”, ketika saya membaca sebuah kata di kantor UPTD Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Kantor ini adalah milik pemerintah daerah. Berarti, yang memutuskan meng­hi­lang huruf p pada kata pem­rosesan tersebut adalah dinas terkait di pemerintah daerah. Maksud dinas tersebut meng­hilangkan huruf p pada kata pemrosesan, mungkin untuk mematuhi hukum peluluhan konsonan k, p, s, dan t. Bukan­nya menjadi benar, yang ter­jadi justru menjadi salah.

Ada sejumlah orang yang tidak sampai pada kaidah ketika hendak menerapkan hukum peluluhan konsonan k, p, s, dan t. Ada orang mengganti mencintai diganti dengan menyintai, mentraktir menjadi menraktir, sekadar menyebut beberapa contoh salah kaprah peluluhan terse­but. Orang seperti itu mung­kin berpikir, apabila kata dasar bertemu dengan awalan me- seperti kata mencintai dan mentraktir tersebut, kata gabungannya menjadi luluh.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada empat pola peluluhan K, P, S, dan T. Pertama, KV (konsonan-vokal): huruf k, p, s, dan t akan luluh ketika bergabung dengan me-. Mi­sal­nya, pa.gar menjadi me.­ma.gar. Kedua, KVK (konso­nan-vokal-konsonan): huruf k, p, s, dan t akan luluh. Misalnya: pim.pin menjadi me.­mim.pin. Namun, jika sebuah kata hanya terdiri atas satu suku kata, huruf p tidak luluh. Misalnya, pel menjadi me.nge.pel. Ketiga, KKV (kon­­sonan-konsonan-vokal): hu­ruf k, p, s, dan t tidak luluh. Mi­salnya, pro.duk.si menjadi mem.pro.duk.si. Keempat, KK­VK (konsonan-konsonan-vo­kal-konsonan): huruf k, p, s, dan t tidak luluh. Misal­nya, plom.bir menjadi mem.­plom.bir.

Menurut saya, KBBI terla­lu banyak membuat pola aturan tersebut, yang seha­rusnya bisa disingkat menjadi dua pola saja, yakni pola KV (konsonan-vokal) dan pola KK (konsonan-konsonan). Pada pola pertama, apa pun huruf setelah V itu, akan tetap luluh. Demikian juga dengan pola kedua, apa pun kata setelah K kedua itu, tak akan berlaku peluluhan di sana. Jadi, buang saja pola KVK dan pola KKVK.

Kalau aturan bisa dise­derhanakan, kenapa harus dijadikan rumit? Ini aturan bahasa, bukan birokrasi di pemerintahan yang cenderung berbelit-belit! Aturan bahasa yang sederhana saja sulit dimengerti masyarakat, apa­lagi aturan bahasa yang me­mu­singkan kepala.

Kembali pada persoalan peluluhan sesuai dengan pola di atas, ada sedikit tambahan lagi. Peluluhan tidak terjadi kada depan me- bertemu kata depan per- dalam satu kata kerja. Misalnya, memper­ta­nyakan. Terdapat dua awalan dalam kata mempertanyakan, yakni mem- dan per-. Jika hukum peluluhan diterapkan dalam kata dengan dua awalan seperti ini, awalan per menja­di tidak jelas.

Peluluhan pada awalan pe-

Selain peluluhan yang terjadi apabila awalan me- bertemu dengan k, p, s, dan t sesuai kaidah di atas, pelu­luhan juga terjadi apabila awalan pe- apabila bertemu dengan konsonan yang empat itu. Beberapa contoh katanya adalah penyamun, pemotong, dan penolong.

Dalam hal kata kerja yang menjadi kata benda, hukum ini tidak berlaku, sebab untuk membedakan pekerjaan de­ngan yang bukan pekerjaan. Misalnya, petinju yang berbe­da artinya dengan peninju. Petinju adalah orang yang bermain tinju, sedangkan peninju adalah orang yang meninju. Setiap petinju sudah pasti peninju, tapi peninju belum tentu petinju.

Hal yang sama terjadi pada kata petembak dan pe­nem­bak. Petembak adalah atlet menembak, sedangkan penembak adalah orang yang menembak atau alat untuk menembak.

Mungkin ada yang berpi­kir bahwa pembedaan itu ha­nya untuk atlet atau olah­ra­ga­wan. Tidak. KBBI juga mema­sukkan pekerjaan yang tidak berhubungan dengan olahra­ga, meski pekerjaan ini mem­buat pelakunya ber­keri­ngat. Kata tersebut adalah petam­bak dan penambak. Petam­bak adalah orang yang peker­jaannya (mata penca­harian­nya) bertambak. Se­dang­kan penambak adalah orang yang menambak atau se­suatu (ta­nah, batu, dan seba­gai­nya) yang dijadikan tam­bak.  

Hukum yang terjadi pada petinju-peninju, petembak-penembak, dan petambak-penambak seharusnya juga terjadi pada kata penari dan petari. Akan tetapi, KBBI hanya memasukkan lema pe­nari dengan memberikan arti pekerjaan, yakni orang yang (pekerjaannya) menari, anak tari. KBBI seharusnya mem­bedakan penari dan peta­ri, karena setiap orang yang me­nari, seperti penonton yang ikut menari dalam acara dang­du­tan, belum tentu pe­ker­ja­annya menari. Yang terakhir ini seharusnya di­sebut penari. Me­ngenai awa­lan pe- sebagai pe­­nanda pe­kerjaan, hal ini bi­sa kita lihat pada kata pesu­mo.

Hal yang sama juga harus terjadi pada kata penulis-petulis. Dalam KBBI belum ada kata petulis. Menurut KBBI, makna penulis sama dengan pengarang dan tukang tulis seperti sekretaris. Seha­rusnya ada kata pembeda antara tukang tulis atau tukang ketik (tidak menuliskan piki­ran­nya) dan orang yang menu­liskan buah pikirannya.

Beranikah penyusun KB­BI Pusat Bahasa memasukan petari dan petulis pada KBBI Kelima nanti? Ini menarik untuk kita tunggu.  

Masih mengenai awalan pe- sebagai pembeda peker­jaan dengan yang bukan pe­ker­jaan, mungkin ada yang bertanya, “mengapa tidak ka­ta penani dan petani seperti pola petinju-peninju? Jawa­bannya, memang tidak bisa. Kenapa? Kalau petinju, ada kata kerja meninju. Sementara petani, adakah kata kerja menani? Menani malah ter­dengar seperti sesuatu yang dilakukan laki-laki secara diam-diam dan tabu untuk diucapkan.        

Mempunyai dan Mengkaji

Meski KBBI membuat pola peluluhan k, p, s, dan t, dalam KBBI terdapat kata yang tidak luluh. Contohnya, mempunyai. Padahal, sesuai hukum peluluham, mem­punyai seharusnya menjadi memunyai. Lalu, Mengapa p dalam mempunyai tidak bisa luluh?

Kata mempunyai tidak bisa diluluhkan karena be­ra­­sal dari kata empunya. Kata ini berasal dari empu (bahasa Jawa), yang kemu­dian ber­kem­bang menjadi empunya. Dalam kata mem­punyai, em­pu­nya mendapat tambahan m- dan akhiran –i. Kalau dalam KBBI hanya ada lema punya, mempu­nyai bisa dilu­luh­kan men­jadi memunyai. Masalahnya, dalam KBBI juga terdapat kata empunya.

Selain kata mempunyai, dalam KBBI juga terdapat kata yang tidak diluluhkan, seperti mengkaji. Kasus yang terjadi pada kata mengkaji berbeda dengan mempunyai. KBBI hanya mencantumkan mempunyai. Akan tetapi, dalam kasus mengkaji, KBBI mencantumkan mengkaji dan mengaji sekaligus. Mengapa bisa begini?

Menurut KBBI, mengkaji berarti (1) belajar; mem­pelajari; (2) memeriksa; me­nye­lidik; memikirkan (mem­pertimbangkan dan seba­gainya); menguji; menelaah. Sementara mengajii berarti (1) mendaras (membaca) Alquran; (2) belajar mem­baca tulisan Arab; (3) belajar; mempelajari. Meski definisi mengaji yang ketiga ini adalah belajar dalam pengertian umum, namun KBBI men­cantumkan contoh kalimat belajar tasawuf, yang berkai­tan dengan belajar ilmu Islam.

Saya awalnya menolak pembedaan peluluhan untuk satu kata kerja seperti dalam kata mengkaji dan mengaji ini. Akan tetapi, kemudian saya setuju dengan KBBI, karena kasus ini terjadi juga pada pembedaan peluluhan yang terjadi pada kata petinju dan peninju. Artinya, mengaji dan mengkaji dibedakan untuk pembedaan mempelajari hal yang berkaitan dengan ilmu agama (mengaji) dan mem­pelajari hal di luar agama (mengkaji). ***

 

HOLY ADIB
(Wartawan dan Pengamat Bahasa Indonesia)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 26 Maret 2016 - 01:39:55 WIB
    Sikola Lapau

    Mengupas Persoalan Masyarakat dari Lapau

    Mengupas Persoalan Masyarakat dari Lapau Bagi orang Minang, lapau (warung) tak hanya sebagai tem­pat untuk me­me­nu­hi kebutuhan yang berurusan dengan persoalan perut semata, seperti sarapan dan sebagainya. Namun terlebih dari itu, lapau di Ranah Minang memiliki.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]