Ekonomi Meningkat, Angka Putus Sekolah Meningkat


Kamis, 14 April 2016 - 03:25:51 WIB
Ekonomi Meningkat, Angka Putus Sekolah Meningkat BUPATI Solok Gusmal saat memberikan pencerahan kepada guru saat Seminar Pemantapan Persiapan Ujian Nasional SMP, Rabu (13/4). (ERI SATRIA)

AROSUKA, HALUAN —Ma­yo­ritas di setiap daerah, siswa putus sekolah disebabkan kon­disi ekonomi orang tua yang memprihatinkan. Akan tetapi hal ini tidak terjadi bagi siswa di SMP 2 Lembah Gu­ma­nti Kabupaten Solok. Di daerah penghasil sayur ini angka putus sekolah justru semakin tinggi ketika eko­no­mi masyarakat semakin membaik.

Hal itu diutarakan guru SMP 2 Lembah Gumati, Wir­da kepada Bupati Solok Gu­s­mal pada kegiatan Seminar Pemantapan Ujian Nasional SMP Tahun 2016  di Ruang Pelangi Arosuka, Rabu (13/4).

“Angka putus sekolah di SMP 2 Lembah Gumanti berbanding lurus dengan har­ga bawang merah. Ketika harga bawang merah me­rang­kak naik, maka biasanya akan diikuti  oleh semakin ban­yak­nya siswa yang drop out (DO),” kata Wirda prihatin.

Lebih jauh Wirda me­maparkan, SMP 2 Lembah Gumanti memiliki siswa pa­ling banyak di Kecamatan Lembah Gumanti. Orang tua siswa rata-rata memiliki pere­konomian keluarga yang ma­pan. Namun sangat disayang­kan, mereka kurang mengerti arti pentingnya pendidikan.

Mereka lebih memilih anak-anaknya menghabiskan waktu sebagai petani sayur ketimbang menjadi siswa di sekolah. Mereka menilai se­kolah hanya menghabiskan waktu yang tidak jelas man­faat­nya. Sementara menjadi petani sayur bisa dilihat hasil­nya dalam waktu singkat.

“Di SMP 2 Lembah Gu­manti setiap tahun rata-rata 17 orang siswa putus sekolah. Tidak satupun diantara yang putus sekolah itu berasal dari keluarga miskin,” ujar Wirda.

Menurutnya, rata-rata sis­wa itu putus sekolah karena be­kerja membantu orang tua­nya di ladang dalam ber­bu­didaya sayuran, terutama bawang. Maka setiap harga bawang naik, maka semakin banyak siswa  yang bolos sekolah. Dari sekian banyak yang bolos sekolah itu, ada diantaranya yang langsung putus sekolah.

Dan yang lebih me­miris­kan lagi, kata Wirda, siswa yang putus sekolah itu berasal dari keluarga yang eko­no­mi­nya mapan. Sehingga pihak sekolah sangat kesulitan me­nga­jak mereka kembali ke sekolah. Sementara ji­ka siswa itu berasal dari keluarga mis­kin, bisa diselamatkan pihak sekolah dengan  membantu kebutuhan sekolahnya de­ngan uang sosial.

Menanggapi hal ini, Bu­pati Solok Gusmal, SE, MM Dt Rajo Lelo mengatakan, hal ini terjadi karena pandangan masyarakat terhadap pen­didikan masih rendah. Masy­a­rakat  masih kurang percaya terhadap manfaat pen­didikan. Rendahnya kepercayaan dan kurangnya penghargaan ter­hadap pendidikan ini tak terlepas dari tingkat pen­di­dikan masyarakat itu sendiri.

“Berkemungkinan latar belakang pendidikan orang­tua mereka hanya tamat se­kolah dasar atau tidak tamat sekolah dasar sama sekali. Tingkat pendidikan ini ber­banding lurus dengan cara berpikir. Karena mereka ha­nya tamat sekolah dasar, tentu saja cara berpikirnya tidak sama dengan yang ber­pen­didi­kan  sarjana. Untuk itu setiap awal tahun ajaran baru,orang tua ini harus diberikan pe­ma­haman arti pentinyya pen­didi­kan,” kata Gusmal.

Lebih jauh Gusmal me­nga­takan, ketika ia masih sekolah di sekolah rakyat, orang kampungnya juga me­miliki pandangan yang sem­pit tentang pendidikan.

“Sehingga muncul pa­meo, untuak apo sakola,indak kaado  urang Guguak ko nan kajadi bupati doh. Akibatnya pada zaman saya banyak orang Guguak yang tak sekolah,” ucap Gusmal.

Akan tetapi itu tak ber­lan­sung lama, karena gencarnya sosialisasi, semakin lama semakin banyak juga orang tua yang paham tentang man­faat pendidikan. Dan seka­rang hampir sudah tak ada lagi orang Guguak yang tak ber­pendidikan. (h/eri)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]