Masyarakat Minta Satlantas Hentikan Razia di Tikungan


Kamis, 14 April 2016 - 03:35:52 WIB

DHARMASRAYA, HALUAN — Setelah membaca berita di beberapa media cetak terbitan Padang, tentang razia yang dilakukan oleh jajaran Sat­lantas Polres Sijunjung yang diduga me­lang­gar prosedur tetap (Protap), beberapa orang warga Dharmasraya yang mengalami perlakuan tidak wajar dari oknum Polisi ter­sebut, menyampaikan curahan hatinya kepada wartawan.

Pasalnya kegiatan yang dilakukan Satlantas Polres Sijunjung tersebut,  diduga melanggar Protap yang sudah ada dan harus dijalankan da­lam menggelar operasi atau razia di jalan. Seperti,  razia harus di jalan lurus atau tidak di tikungan, pakai plang Polisi dan didampingi perwira pen­damping. “Salah satu yang diduga dilanggar oleh Sat­lantas Polres Sijunjung dalam menggelar razia di Takuang atau perbatasan Kabupaten Dharmasraya dengan Ka­bu­paten Sijunjung itu, adalah razia tidak jauh dari ti­kung­an,” ungkap salah seorang warga Koto Baru, Indro, ke­pada Haluan, Rabu kemaren.

Ia mengungkapkan apa yang sudah dialaminya be­berapa waktu lalu. Ketika hendak ke Padang dengan mobil pribadinya,  Indro dicegat oleh anggota Satlantas Polres Sijunjung di per­ba­tasan tersebut, ia mengakui melakukan pelanggaran, te­tapi ia tidak terima ketika diperlakukan tidak  etis oleh oknum anggota Satlantas de­ng­an mencabut kunci mo­bil­nya sampai patah.

Terlepas dari kesalahan yang ia lakukan, kata  Indro, apakah perlakukan seorang abdi negara atau Polisi yang seharusnya melayani, me­lin­dungi, mengayomi masya­rakat, tidak pantas sampai melakukan perusakan ter­ha­dap barang barang masyarakat serperti merusak kunci mobil.

Ia berharap Kapolres Si­junjung bahkan Kapolda Su­m­bar harus turun tangan untuk menertibkan oknum anggota Satlantas Polres Sijun­jung yang melanggar aturan dalam menjalankan tugas.

Lain pula yang dialami Sakjen, warga Gunung Me­dan, ia mengaku pernah di­min­tai uang sebesar Rp 150 ribu karena merubah plat nomor, akhirnya karena ia tidak punya uang ia mem­bayar Rp 50 ribu, karena oknum Polisi tersebut lang­sung saja menawarkan di tilang atau selesai di tempat. ”Ketika baru berhenti, ok­num Polisi tersebut langsung mengatakan, selesai di sini bayar Rp 150, atau di tilang,” ungkapnya.

Begitu pula warga Paya­kumbuh bernama Nal, ketika ia menuju Dharmasraya ter­kena razia di Sijunjung, karena tidak pakai sabuk pengaman, oknum Polisi Lantas tersebut me­mintainya uang Rp 200 ribu.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat, Komet, mengatakan kepada war­ta­wan, Kabupaten Dhar­mas­raya dengan Kabupaten Si­jun­jung belum bisa dipisahkan karena masih terkait, seperti Penga­dilan Negeri dan Pe­nga­dilan Agama yang masih be­lum terpisah.

Jadi katanya, oknum-ok­num anggota Polisi jangan berbuat demikian hendak­nya, karena apa yang dirasakan oleh masyarakat Dhar­mas­raya juga akan dirasakan oleh masyarakat Sijunjung.”Yang memisahkan hanya pe­me­rinta­han secara administratif saja,” katanya.

Kapolres Sijunjung me­lalui Kasat Lantas, AKP. Al­kadri, yang dikonfirmasi le­wat telpon selulernya, menga­takan, razia yang dilakukan anggotanya sifatnya mobail atau berpindah-pindah dan tidak ada melakukan pe­nin­da­ka­n secara hukum. Ia me­m­­bantah anggotanya mela­kukan hal tersebut. (h/mdi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]