Dampak Tambang Liar

Ribuan Ton Ikan Diduga Tercemar Mercury


Kamis, 14 April 2016 - 03:36:22 WIB

DHARMASRAYA, HALUAN — Sebanyak 7.500 ton ikan hasil kolam ikan di Dharmasraya  setiap tahunnya, diduga sudah tercemar oleh zat mercury. Pasalnya, ikan-ikan tersebut dipelihara dengan air dari Sungai Batanghari  yang sudah tercemar zat yang berbahaya itu akibat penbangan  liar.

“Jumlah produksi ikan sebanyak 7500 ton tersebut berasal dari 200 hektar ko­lam ikan yang diairi oleh Irigasi Batanghari,”tutur Kepala Dinas Peternakan dan Peri­kanan Kabupaten Dhar­mas­raya, Ir.Yoce Su­darso, kepada Haluan ke­tika ditanya luas kolam ikan di Dharmasraya yang di aliri oleh air Ba­tang­hari, Rabu kemaren.

Ia mengakui dari 350 hektar kolam ikan yang terdata di Dharmnasraya, seluas 200 hektar dialiri oleh air Sunbgai Batanghari me­lalui saluran irigasi, se­lebih­nya tidak di naliri air Sungai Batanghari.

Namun untuk masalah air yang sudah tercemar dan tidak tercemar, bukanlah liding sektor dinas yang ia pimpin, karena sesuai de­ngan tupoksinya adalah ba­gai­mana membuat kolam, menye­bar­kan bibit ikan serta membina masyarakat agar berkolam ikan.”Kalau masalah air ter­cemar itu silahkan tanya ke BLH, ”imbuhnya.

Sedangkan untuk ting­kat produksi, tidak ada di­pengaruhi oleh air yang tercemar atau tidak ter­cemar, dan dampak lang­sung­nya juga belum ada saat ini kepada petani.

Kepala BLH Dhar­mas­raya, dr.Rahmadian yang ditanya Haluan tentang pen­ce­maran air Batanghari, mengakui bahwa air ter­sebut sudah tercemar di ambang batas, atau sudah melebihi batas toleransi dan sudah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Ia juga mengakui bahwa kalau dampak terhadap ke­se­hatan manusia untuk saat ini belum akan nampak, karena reaksi dari mercury adalah sepuluh tahun. Se­lain itu ia juga sudah so­siali­sasikan bahwa kegiatan ter­sebut melanggar undang undang lingkungan hidup. ”Manusia itu akan me­nga­lami penyakit lumpuh layu atau otak tidak ber­fung­si,”imbuhnya.

Orang yang terkena pen­yakit tersebut seperti orang sakit stroke, tetapi otaknya tidak berfungsi, hal itu dapat dilihat di Teluk Buyat Su­la­wesi atau di Teluk Mina Mata Jepang.”Sampai saat ini masih hidup orang orang yang terkena dampak pen­ce­maran air tersebut sebagai saksi sejarah,”ujarnya.

Ia melalui berbagai fa­si­litas yang ada sudah men­yam­paikan kepada masya­rakat serta sudah mengajak masyarakat dengan hati nu­rani agar tidak mela­kukan pencemaran ter­ha­dap ling­kungan seperti su­ng­ai, ka­rena menurutnya lebih parah lagi krisis air daripada krisis minyak, ka­rena kalau krisis air me­nyangkut kehidupan ma­nusia, tetapi kalau krisis minyak, hanya akan ber­dampak kepada ekonomi. (h/mdi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]