Masjid Jamik Bingkudu Dibangun Tanpa Gunakan Paku


Sabtu, 28 Mei 2011 - 04:08:00 WIB
Masjid Jamik Bingkudu Dibangun Tanpa Gunakan Paku

BINGKUDU, HALUAN — Di jorong Bing­kudu nagari Canduang Koto Laweh keca­matan Canduang  terdapat Masjid Jamik Bingkudu, sebuah masjid tua berusia ratusan tahun dengan bentuk unik dan menarik sebagai objek wisata religius.

Letaknya sekitar 4 Km dari Simpang Canduang ke arah kaki Gunung Merapi. Jalan menuju lokasi agak mendaki tapi  lebar dan bagus, beraspal beton. Udaranya pun sejuk. Suasana perkampungan  yang ditemui di sepanjang jalan  menimbulkan keasyikkan tersendiri.

Baca Juga : Mantap! Pengusaha di Pasaman Barat Ini Habiskan Miliaran untuk Bangun Jalan bagi Masyarakat

Masjid tua itu dibangun pada lokasi kerendahan yakni  pada  lekukan yang diapit bukit ditumbuhi aneka pepohonan, sehingga mengesankan bangunannya berada di tengah rimba. Bangunan masjid  terbuat dari kayu tanpa paku, sambungan pada bangu­nan hanya diperkuat dengan pasak.

Atap masjid bertingkat-tingkat, terdiri dari  tiga tingkat,mirip bangunan  pagoda. Bahan atapnya ijuk seperti halnya bahan atap rumah gadang tempo dulu.

Baca Juga : Pasukuan Sikumbang Payung Panji E. Dt. Sampono Intan Jalani Prosesi Lilin Ambalau

Seperti halnya rumah gadang bangunan masjid ini memiliki kandang atau kolong  setinggi 1,5 meter.  Tinggi  bangunan dari tanah sampai ke puncak   sekitar 19 meter dengan luas  21 x 21 meter, sedang­kan luas tanah lokasi bangunan sekitar 60 x 60 meter.

Tiang bangunan terbuat dari kayu berbentuk segi 12  berjumlah 53 buah dengan diameter  30-an cm dan sebuah tonggak macu bersegi 16 di tengahnya dengan diameter  75 cm. Untuk memasuki Masjid harus melalui tangga dari kayu. Di samping tangga terdapat kulah, yakni tempat air untuk mencuci kaki.

Di dalam masjid berlantai papan dan dicat dengan warna  biru muda dan bis biru tua itu  terdapat mimbar berbentuk leter “L” terbuat dari kayu  berukir-ukir. Mimbar  berwarna coklat dan  keemasan serta memiliki tangga unik itu  dibuat tahun 1906. Pada loteng  dan tonggak dipasang  lampu gantung kuno buatan zaman Belanda.

Masih di halaman  masjid terda­pat bangunan warga setempat,  rumah garin, kolam ikan ,  sebuah  menara segi 8  beratap kubah setinggi 11 meter, dan makam seorang ulama setempat Syeh Ahmad Taher.  Namun lingkungan sekitar masjid pelu pembenahan karena kurang rapi, ditumbuhi semak-semak tak terken­dali  yang merusak pemandangan.

Masjid yang telah dijadikan sebagai cagar budaya itu  didirikan tahun 1823, pada saat Perang Padri berkecamuk  atas prakarsa Lareh Canduang. Konon Masjid ini  dulu sering   digunakan untuk rapat oleh para pejuang untuk mencari siasat melawan penjajahan Belanda.

Sekarang masjid yang terletak di pinggir kampung Bingkudu dan agak jauh dari pusat pemukiman masih ramai dikunjungi jamaah terutama pada waktu shalat Jumat dan shalat tarwih di bulan puasa.

Masjid tersebut juga menjadi Pusat  Tim Kordinasi Pemberantasan Kemiskinan (TKPK) Jorong Bingku­du. Pengurus masjid diketuai oleh Arnova Dinata, sekretaris Afrizen dan bendahara Delfina.

Menurut camat Canduang, Mo­nisfar, Masjid Jamik Bingkudu selain sebagai rumah ibadah  juga me­rupakan  objek wisata utama di kecamatan Canduang. Tapi  sayang pengunjungnya masih minim  se­hingga diperlukan promosi  lebih luas. (h/Kasra Scorpi)


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]