Sekolah Islam Terpadu Diminati Pengelola


Kamis, 14 April 2016 - 13:35:25 WIB

PADANG, HALUAN — Penyelenggaraan pendidikan selalu mengalami metamerfosis dari waktu ke waktu. Setelah cukup dengan munculnya tren pesantren yang diminati para wali murid, kini muncul lagi sekolah Islam terpadu. Sekolah yang mengunggulkan karakter Islami siswa.

Hadirnya sekolah Islam terpadu ini,  menurut Ke­pala Sekolah Dasar Islam Ter­padu (SDIT) Masyitah, Mu­­ham­mad Syafi’I, tidak lahir begitu saja. Artinya, sekolah tidak hanya diberi tambahan nama Islam Ter­padu dan terap­kanlah prin­sip karakter Is­lam kepada siswa. Pelaksanaan SDIT sendiri berada di bawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) In­donesia.

“SDIT yang yang ber­munculan sekarang ini bany­ak yang hanya sekedar me­nga­mbil nama karena ke­beradaan SDIT sekarang ini menjadi tren di tengah ma­sya­rakat,” imbuhnya, Selasa (12/4).

SDIT yang sebenarnya, terang Muhammad ter­ga­bung di bawah naungan JSIT Indonesia dan komit dengan pembinaan anak-anak berkarakter terutama karakter religius atau aga­ma, menghasilkan tamatan yang cerdas intelektual dan spiritual serta siap untuk menjadi pemimpin yang ideal menurut Islam.

Melihat visi dan misi dari SDIT yang berasal dari JSIT yang komit me­negak­kan nilai-nilai Islam, hal itulah yang me­lata­r­bela­kangi perubahan SDI Ma­syit­hah menjadi SDIT Ma­syit­hah di Kota Bukittinggi.

Perbedaan SDIT dari SDI dan SD umum menurut Syafi’I yaitu SDIT me­ngin­ter­nalisasikan nilai-nilai ajaran Islam di semua bi­dang studi, membentuk ka­ra­­kter religius di lingkungan sekolah dan meningkatkan mutu pendidikan Alquran yaitunya tilawah, hafalan dan praktek ibadah.

Tidak hanya itu, per­be­da­an lain terletak pada guru­nya. Guru SDIT harus be­rak­hlak Islami, pandai me­ngaji, wajib tidak merokok. Disamping itu juga me­mi­liki kemampuan akademik pada umumnya.

“Intinya guru yang me­nga­jar di SDIT sudah mela­kukan perintahNya dan me­n­jauhi laranganNya,” imbuhnya.

Beberapa tahun be­la­kang­an sekolah Islam ter­padu mulai terlihat di be­berapa tempat. Seperti di Padang terdapat SDIT Ad­zkia, SM­PIT Adzkia, SMP IT Bakti II dan di Paya­kumbuh terdapat SMP IT Insan Cendekia, serta di beberapa kabupaten/kota lainnya.

Pengamat Pendidikan dari UNP Agus Irianto me­nilai, kehadiran sejumlah SD Islam Terpadu di Sum­bar tidak akan mem­pe­nga­ruhi keberadaaan SD kon­ven­sional, karena masing-masing mempunyai porsi dan fokus yang berbeda. Ia melihat, dengan banyaknya bermunculan SD dengan basis Agama Islam adalah hal yang positif dan baik karena dengan adanya fokus masing-masing sekolah ini akan melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia, dan mendalami ilmu agama.

Menurutnya, masing-masing sekolah punya tu­ju­an dan output yang berbeda sah-sah saja. Tujuan sekolah dengan basis agama Islam ini tentunya mempunyai tujuan, misalnya anak-anak akan hafal Alquran ber­dasarkan tingkatan kelas­nya, atau anak-anak yang menyukai dakwah, dan an­ak-anak yang menguasai bahasa Arab beserta artinya.

“Kalau sekolah reguler lainnya kan banyak pe­la­jaran yang mereka pelajari, mulai dari bahasa Inggris, Bahasa Jepang, seni, dan berbagai mata pelajaran lainnya. Ada juga sekolah yang berfokus pada bahasa asing, tentunya dengan tu­juan berbeda dengan se­kolah lainnya,” ujarnya.

Tutupi Kekurangan

Sementara itu, pe­nga­mat pendidikan yang juga mantan Rektor UNP Ma­war­di Efe­ndi mengatakan, dasar fiki­rannya terhadap SD kon­vensional lebih me­ne­kankan pada ilmu pe­nge­tahuan um­um. Sementara, SD Islam Terpadu lebih menekankan pada ilmu aga­ma dengan porsi yang lebih banyak dari sekolah konvensional.

“Pada dasarnya, semua ilmu bermanfaat. Namun pada sekolah IT lebih me­ne­kankan pada hubungan antara manusia dengan sang pencipta yang tidak terlalu dipelajari oleh sekolah kon­vensional. Untuk pelajaran agamanya lebih panjang dibandingkan dengan se­kolah biasa,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran SDIT adalah menangkap kekurangan dari SD kon­vensional. Misalnya saja, kalau di sekolah kon­ven­sional porsi belajar agam­a­nya lebih sedikit, namun sepulang sekolah anak juga akan melanjutkan belajar MDA dan mengaji. Se­men­tara, SDIT semua itu di­gabung mulai dari belajar mata pelajaran umum, be­lajar mengaji, akhidah ak­hlak, dan ilmu agama lain­nya dalam kondisi atau ling­kungan yang sama.

“Saya setuju dengan ada­nya sekolah Islam terpadu ini karena akan lebih men­dekatkan anak-anak pada sang pencipta, dan jam pe­lajaran agamanya lebih ba­ny­ak dari sekolah biasa,” ujarnya. (h/rin/wet)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 14 Desember 2016 - 01:26:28 WIB

    Sekolah yang Tak Membebaskan

    Sekolah yang Tak Membebaskan Kita banyak men­yak­sikan orang-orang yang berhasil me­lakukan pem­be­ba­san diri dengan pen­didikan. Orang-orang miskin, dari desa terpencil. Mereka lahir dan tumbuh besar dari keluarga yang tidak berpendidikan. Kelua.
  • Sabtu, 15 Oktober 2016 - 00:34:10 WIB

    Menanti Bis Sekolah

    Menanti Bis Sekolah Banyak di antara kita mungkin sangat hapal lagu Bis Sekolah yang dipopulerkan oleh Koes Ploes pada tahun 70 an. Belakangan “Bis Sekolah” kembali ngetrend, karena ham­pir tiap sekolah baik SMP ataupun SMA/SMK telah ataupu.
  • Jumat, 09 September 2016 - 02:06:14 WIB

    Walikota Padang Berhemat, Pungutan di Sekolah Jalan Terus

    Walikota Padang Berhemat, Pungutan di Sekolah Jalan Terus Kebijakan pemerintah memangkas dana Alokasi Umum (DAU) sejumlah provinsi, kabupaten/ kota mengagetkan banyak pi­hak. Kenapa tidak, selain berdampak pada ke­giatan pemerintahan, juga akan mempe­nga­ruhi perekonomian secara.
  • Sabtu, 13 Agustus 2016 - 04:21:20 WIB

    Menyoal Sekolah Seharian

    Menyoal Sekolah Seharian Muhadjir Effendy secara tampak luar langsung menelurkan program baru: full day school yang langsung heboh ditolak rakyat. Untunglah Sang Menteri langsung mengkaji ulang statement itu karena kalau tidak, kita khawatir bahwa me.
  • Kamis, 04 Agustus 2016 - 04:44:04 WIB

    Ayo Kembali ke Sekolah

    Program Wajib Belajar 9 Tahun tak selalu berjalan mulus. Meski pemerintah sudah menggratiskan biaya pendidikan sesuai dengan Undang-undang Pendidikan Nasional No. 2/1989, namun belum semua anak bisa menamatkan pendidikan mere.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]