Lelang Proyek Puluhan Miliar di Pasbar

Pokja ULP Dilaporkan ke Kejati


Jumat, 15 April 2016 - 03:53:30 WIB

PADANG, HALUAN — LSM Peduli Ling­kungan Bumi Andalas (Pelindas) mela­porkan Pokja Konstruksi I ULP Pasaman Barat ke Kejati Sumbar, terkait pelaksanaan lelang proyek bernilai puluhan milyar rupiah di Pasaman Barat.

Pelaporan itu karena Pokja diduga bersekongkol dengan rekanan PT. Mega Duta Konstruksi dan PT. Bukit Nusa Indah. Dua perusahaan ini dimenangkan dalam lelang untuk  pekerjaan Peningkatan Jalan Bunga Tanjung – Teluk Tapang dan Pening­katan Jalan Talu – Lubuk Sikaping (DAK Infrastruktur Publik Daerah).

“Laporannya sudah kami sampaikan ke Kejati Sumbar pada Kamis, 31 Maret 2016,” kata Ketua Umum LSM Pelindas, Muhammad Bisri Batubara, Kamis (14/4).

Ia menuturkan, dugaan persengkokolan dan kejanggalan dalam proses lelang terse­

but antara lain, bahwa terhadap pekerjaan dua proyek tersebut, telah diadakan lelang pertama pada 19 Februari 2016, yang kemudian dinyatakan gagal oleh Pokja lelang dengan alasan tak jelas.

“Pada lelang tersebut, PT. Faktanusa Cipta Graha adalah penawar terendah di lelang pe­ningkatan jalan Bunga Tanjung – Teluk Tapang dan PT. Adta Surya Prima sebagai penawar terendah di lelang peningkatan jalan Talu-Lubuk Sikaping. Lalu, pada 11 Maret 2016 diadakan lelang kedua. Menurut PT. Faktanusa Cipta Graha dan PT. Adta Surya Prima, mekanisme dan proses lelang tersebut tidak sesuai de­ngan aturan berlaku dan ada indikasi Pokja telah melanggar undang-undang dan menyalah­gunakan wewenang,” papar Bisri.

Ia melanjutkan, menurut ke­dua perusahaan tersebut kepada LSM Pelindas, perusahaan yang diumumkan sebagai pemenang lelang kedua adalah PT. Mega Duta Konstruksi di Jalan Bunga Tanjung-Teluk Tapang dan PT. Bukit Nusa Indah di Jalan Talu-Lubuk Sikaping, sementara dua perusahaan yang menang pada lelang kedua itu diduga kuat tak memenuhi syarat sebagai pe­menang.

Alasan tersebut, kata Bisri, pertama, dukungan peralatan PT. Mega Duta Konstruksi dan PT. Bukit Nusa Indah seperti AMP diduga kuat tak sesuai dengan yang disyaratkan dalam dokumen lelang. Pasalnya, dukungan pera­latan AMP yang dimiliki oleh kedua perusahaan tersebut ada­lah AMP tipe 800, kapasitas per batch 800 Kg, kapasitas produksi maksimal 48 ton/jam. Sementara yang disyaratkan dalam dokumen lelang adalah 60 ton/jam.

Alasan kedua, kata Bisri, pada lelang pertama, PT. Faktanusa Cipta Graha merasa dibohongi, karena PT. Faktanusa sudah mengajukan sanggahan, memper­tanyakan alasa lelang dibatalkan. Sementara jawaban Pokja berda­lih sudah menjawab melalui LPSE. Setelah dicek di LPSE, tak ada jawaban Pokja tentang pem­batalan lelang.

Bisri melanjutkan, selain itu, dari data yang diperoleh, PT. Mega Duta Konstruksi dan PT. Bukit Nusa Indah, kualifikasinya adalah M1. Padahal, sesuai Pera­turan Menteri PU No. 8 Tahun 2011, kemampuan perusahaan M1 melaksanakan pekerjaan maksimal adalah Rp10 miliar, sementara lelang tersebut pagu dananya Rp45 miliar.

Sementara itu, Kasipenkum Kajati Sumbar, Yunelda saat dikonfirmasi, Kamis (14/4), mengatakan, pihaknya telah me­ne­rima laporan tersebut, namun belum didisposisi oleh Kajati. Saat ini pihaknya sedang mem­proses laporan tersebut untuk memanggil Ketua Pokja. Ketua Pokja Konstruksi I ULP Pasbar, Ali Audah menga­takan, pihak­nya belum menerima surat pang­gilan. Apabila mene­rima surat panggilan, ia bersedia memenuhi panggilan terse­but. (h/dib)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]