Nasib Nelayan Bagaikan 'Singgang'


Sabtu, 16 April 2016 - 01:31:35 WIB
Nasib Nelayan Bagaikan 'Singgang' NASIB nelayan Pesisir Selatan tak obahnya seperti ‘singgang’, di atas api di bawah pun api. Sebelum perintah turun melaut, sebetulnya nelayan sudah menanggung hutang yang ditonggokkan induk semang. (HARIDMAN)

Secara umum, nelayan yang dipahami adalah mereka yang mela­ku­kan usaha me­nangkap ikan secara teratur di laut. Namun ada kalanya bu­ruh yang be­kerja di kapal tonda, payang dan lain-lain juga disebut nelayan.

Sebagian besar yang di­sebut nelayan di Pessel adalah mereka yang menjadi pekerja di kapal milik juragan. Nasib mereka yang bekerja seperti itu tak obahnya bak ‘sing­gang’, di atas api di bawah pun api. Sebelum perintah turun melaut, sebetulnya nelayan seperti ini sudah menanggung hutang yang ditonggokkan induk semang.

“Bila biaya satu kali me­laut Rp18 juta, maka setiap nelayan sudah memikul hu­tang biaya bekal, sementara induk semang telah meraup keuntungan lebih dahulu,” kata Syahrial (60), Ketua Kelompok Nelayan Sa­rang­kuah Dayuang, Ampiang Pa­rak, Kecamatan Sutera.

Setelah satu periode me­laut habis, nelayan pun harus membayar sejumlah kutipan di dermaga. Alhasil si nelayan hanya mendapatkan secuil hasil jerih payahnya. Ia di­hisap pemilik kapal. Nelayan seperti ini jumlahnya ribuan orang.

Lalu cerita lain soal ne­layan tradisionil menghadang cuaca buruk. Cuaca dapat bero­bah kapan saja, misal badai, ombak besar, arus laut berubah. Cuaca memburuk di Pesisir Selatan (Pessel) bisa berminggu-minggu. Nelayan pun urung me­laut.  Hutang para nelayan pun menumpuk karena tak ada peng­hasilan, mereka terancam ke­kurangan pangan.

Pagi hujan, tak lama ke­mu­dian langit cerah, berselang beberapa waktu awan hitam dari langit bagian utara muncul lagi. De­mikian berulang-ulang hingga malam datang. Ombak mem­besar dengan arus yang de­ras. Aki­batnya jaring dan pukat tidak bisa mereka operasikan.

Ribuan nelayan yang meng­gantungkan hidup di laut tidak berdaya. Hutang telah selilit pinggang. Kalau pun ada yang memaksa pukat turun ke laut, oleh nelayan lain orang ini di­anggap ‘nyawa berlebih’.

“Cuaca paling ditakuti adalah angin utara. Ada yang mem­perkirakan lamanya bisa men­capai lima belas hingga satu bulan. Meski waktunya cukup singkat dibandingkan angin se­latan, maka angin utara me­rupakan masa paceklik bagi ne­layan. Masa-masa rawan pangan. Masa-masa munculnya keku­ra­ngan gizi bagi nelayan,” ujar Syahrial yang sudah kenyang melaut.

Selain yang disebutkan di atas, masih ada karakteristik lain yang menyebabkan angin utara tidak bisa bersahabat dengan nelayan, misalnya gelombang laut tidak bisa diperkirakan besarnya. Ka­dang tiba-tiba tinggi, kadang rendah tapi membawa arus kuat, termasuk kecepatan arus ba­wah air laut yang tak bisa diduga. Ini yang menyebabkan nelayan takut melaut.

Ancaman lain bagi nelayan adalah, munculnya seketika angin barat daya. Ia tidak punya kalen­der tetap, tapi serangannya tidak lama. Meski hanya memakan waktu singkat (lebih kurang 3-4 jam), dampaknya berpotensi munculnya badai besar. Ke­mudian setelah badai hilang, suasana akan tenang.

“Jika angin ini yang datang, masih ada harapan bagi nelayan untuk turun melaut,” kata Ujang nelayan lainnya. 

Angin nomor dua yang di­takuti nelayan adalah angin selatan. Terjadi perubahan arus, air laut jadi keruh. Meski de­mikian, mereka juga masih punya harapan karena angin selatan memaksa ikan untuk ketepi.

“Nelayan juga pintar mem­baca perjalanan bintang. Misalnya ‘bintang coran’ atau dikenal bintang kejora, maka nelayan memprediksi akan muncul ba­dai. Dan biasanya juga ikan gam­bolo dan garigak akan muncul. Ini rejeki bagi nelayan,” lanjut Syahrial.

Lantas ada pula bintang ‘si­banyak berjalan malam’. Bila bin­tang ini muncul akan turun hu­jan berminggu-minggu. Ter­akhir menurut ilmu astronomi kuno yang masih diyakini para nelayan Pessel, jika rasi kala jengking bertemu dengan bulan, dimana posisi bulan persis be­rada di jantung kala, alamat akan ada badai hujan. Perkiraan me­reka sering tidak meleset. 

Perlu Koperasi Nelayan

Sekarang persoalannya ada­lah, ketika mereka menganggur, bagaimana kehidupan ke­luar­ganya? Rata-rata mereka tidak punya keterampilan, seperti re­kan mereka yang bermukim di kaki bukit. Artinya tidak ada pekerjaan yang bisa mereka kerjakan jika angin utara tidak kunjung reda, atau musim ber­bahaya lainnya menjelang.

“Namun mereka tetap harus bertahan untuk hidup. Pada situasi seperti inilah kita semua bisa melihat seperti apa sulitnya penghidupan nelayan. Kita tidak bisa sandingkan kemiskinan yang dialami petani dengan nelayan. Bagi petani, sesulit apapun hidup, ubi sebatang masih saja ada terselip di pagar ladang. Nelayan kita, tidak bisa seperti itu,” katanya prihatin.

Sudah seharusnya, pembuat kebijakan memikirkan sebuah koperasi yang layak dengan ke­giatan bisa melayani simpan-pinjam bagi para nelayan. Bila turun melaut, koperasi memasok kebutuhan selama melaut. Jika panen berlimpah, mereka tidak dipermainkan tengkulak. Di saat panen mereka banyak, seba­gian­nya bisa disimpan. Kemudian bila paceklik tiba mereka sudah punya tabungan untuk digunakan seperlunya.

“Hingga kini, kita tidak per­nah melihat sebuah koperesi yang representatif bagi nelayan. Namun yang ada hanyalah teng­kulak berkedok koperasi, yang selalu membuat lobang dan jebakan bagi para nelayan,” ka­tanya pelan.

Nelayan di Pesisir Selatan sering ‘tercekik’. Maka sudah saatnya pula belajar di masa-masa paceklik dan rawan pangan ini, pembuat kebijakan mulai memfasilitasinya untuk me­miliki lumbung pangan, atau me­miliki sistem ketahanan pangan untuk penyelamatan perut me­reka. (h/*)

 

Laporan :
HARIDMAN KAMBANG
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 26 Agustus 2019 - 16:53:22 WIB

    Bendi, Nasibmu Kini, Dulu Ditunggu, Kini Tak Lagi Dilirik

    Bendi, Nasibmu Kini, Dulu Ditunggu, Kini Tak Lagi Dilirik Bendi merupakan salah satu sarana transportasi tradisional yang keberadaannya kini mulai ditinggalkan. Pasalnya, perkembangan zaman saat ini merubah berbagai jenis angkutan atau alat transportasi di Sumatera Barat baik angkot.
  • Rabu, 10 Juli 2019 - 11:31:58 WIB

    Beda Nasib, Beda Status  Mantan Ketua BPPN Syafrudin dan Pegawai Honorer Baiq Nuril

    Beda Nasib, Beda Status  Mantan Ketua BPPN Syafrudin dan Pegawai Honorer Baiq Nuril HARIANHALUAN.COM-DUA putusan  Mahkamah Agung (MA)  hari ini memantik pendapat pro dan kontra dikalangan pakar dan warga. Putusan itu adalah tentang kasasi Baiq Nuril pegawai  honorer, dan   Syafrudin  Arsyad Temenggung, .
  • Sabtu, 13 Agustus 2016 - 04:20:16 WIB

    Nasib Petani Tomat

    Harga tomat anjlok, petani mengeluh. Berita begini selalu kita dengar jika harga tomat anjlok. Masalah ini merupakan masalah klasik yang tak belum terpecahkan. Nasib petani umumnya selalu saja dalam keadaan sulit. Sedikit sek.
  • Sabtu, 07 Mei 2016 - 06:37:31 WIB

    Nasib Jalan Sicincin-Malalak

    Jalan Sicincin-Malalak yang mulai dibangun masa pemerintahan Gu­bernur Gamawan Fauzi sudah di­gunakan sejak tahun 2010. Jalan ini sebagai alternatif menghindari kemacetan jalur Padang-Bukittinggi melewati Lembah Anai, terut.
  • Sabtu, 30 April 2016 - 02:28:52 WIB

    Nasib Buruh dan Kondisi Perusahaan

    Hari Buruh Internasional di­pe­ringati setiap tanggal 1 Mei yang dikenal dengan May Day. Tahun 2016 ini Hari Buruh jatuh pada hari Minggu besok. Di Ibukota Jakarta, sudah ada rencana buruh melakukan aksi demo. Namun di Sumb.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]