Dualisme Panjang di Tubuh Beringin

Pemilu 2019 Jadi Pertaruhan Golkar


Selasa, 19 April 2016 - 02:56:30 WIB
Pemilu 2019 Jadi Pertaruhan Golkar

JAKARTA, HALUAN — Dualisme ke­p­emim­pinan di tubuh Partai Golkar yang terjadi selama 1,5 tahun terakhir, telah membuat Partai Golkar dijauhi masyarakat. Hal ter­sebut bisa dilihat dari hasil Pilkada Serentak Desember 2015 lalu.

“Hasil pilkada tahun lalu tidak mencerminkan Partai Golkar yang se­benar­nya,” kata bakal calon Ketua Um­um Partai Gol­kar Gol­kar Airlangga Har­tarto, da­lam dis­ku­si ”Babak Baru Parpol di Indonesia” di Jenggala Center, Jakarta, Senin (18/4).

Karena itu ia berharap, Munaslub Partai Golkar yang akan digelar per­tenga­han Mei nanti, bisa men­ya­takan dualisme yang ada selama ini sehingga mem­buat partai berlambang po­hon beringin itu kembali merebut kemenangan pada Pemilu 2019. ”Tantangan Golkar ke depan makin besar setelah 1,5 tahun ter­ja­di dualisme ke­pe­mim­pinan. Tahun 2019 menjadi pertaruhan bagi Partai Go­kar,” kata Airlangga.

Jika dirinya dipercaya menjadi ketua umum, maka dia akan berkomunikasi serta menampung aspirasi masyarakat serta mem­beri­kan kesempatan masyarakat untuk aktif berpartisipasi. 

“Depapolitiasi terjadi karena komunikasi tak ja­lan. Golkar harus membuka komunikasi dan mampu menampung aspirasi ma­sya­rakat,” janji Airlangga.

Airlangga juga berjanji akan melakukan sistem ka­derisasi dengan baik me­lalui pembantasan pe­rio­deisasi ka­der Golkar yang duduk di legislatif. “Se­karang kan bebas saja se­orang kader Golkar duduk di DPR tanpa dibatasi be­rapa periode bisa menjadi anggota DPR. Ini akan me­ng­hambat proses kaderisasi di Partai Golkar,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, su­dah saatnya Partai Golkar serius mempersiapkan ka­der-kader muda yang tang­guh dengan  menggagas di­mulai­nya sekolah kader Partai Golkar, yang me­re­krut ge­ne­rasi muda Indo­nesia. Sekolah tersebut juga dibarengi de­ngan pe­man­tauan peng­ka­deran serta aktifitas mereka di ling­kungan dan masya­rakat. Sehingga untuk ke­depan­nya, parpol-parpol ti­dak lagi begitu meng­gantung­kan perolehan suara dengan merekrut artis.

“Dengan kita merekrut generasi muda, dan su­ng­guh-sungguh mengkader mereka melalui sekolah kader, serta memadukannya dengan para senior yang merupakan aset luar biasa Golkar, maka saya berharap partai Golkar sebagai partai yang progresif, aspiratif dan kuat. Ini yang saya tawarkan sebagai calon Ketua Umum Golkar,” kata dia.

Pengamat politik Ray Rangkuti yang ikut menjadi pembicara dalam diskusi tersebut sangat setuju de­ngan gagasan Airlangga soal membatasi periode kader Golkar duduk di legislatif. “Kalau di eksekutif (pre­siden –red) kan sudah di­batasi hanya 2 periode. Tidak ada salahnya yang duduk di DPR dibatasi. Seperti setelah 3 periode tidak boleh menjadi caleg lagi. Kalau dibebaskan se­perti selama ini akan meng­hambat regenerasi,” kata Ray. (sam)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]