Karyawan Salon Padang Teater Minta Solusi


Selasa, 19 April 2016 - 03:23:08 WIB

PADANG,HALUAN—Sebanyak 26 salon Padang Teater Pasar Raya Pa­dang sudah disegel  oleh petugas gabungan, (15/4) kemarin. Namun demikian, sejumlah wanita dengan tampilan menor masih berkeliaran di sekitaran salon tersebut.

Pantauan Haluan, Senin (18/4), salon plus-plus yang menghiasi lorong lantai II Padang Teater itu terlihat tertutup. Pada pintu roling yang me­nutup solon tersebut tertempel kertas putih yang bertulisakan pernyataan dari Pemko Padang jika tempat terse­but tengah disegel.

Meski tempat tersebut tersegel dan tertutup, namun beberapa wanita paraoh baya dengan tampilan sedikit agak menor masih sempat berkeliaran di sekitar tempat tersebut. Mereka dikenal dengan sebutan anak salon.

Bunga (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan rasa kecewanya terha­dap keputusan Pemko tersebut karena sudah empat hari pascadisegel, mereka tidak diberikan solusi sehingga bingung bagaimana bisa mencari uang.

Senada dengan Bunga, Leli(bukan nama sebenarnya) yang juga anak salon  juga  juga mengatakan hal serupa. Ia bingung bagaimana harus menafkahi empat orang anaknya yang saat ini sedang sekolah bahkan salah satunya sedang menyusun skripsi.

Terkait penutupan salon Plus-plus tersebut, Drs Hendra Naldi selaku pengamat Sejarah, Sosial dan Ekonomi dari Universitas Kota Padang (UNP) mengungkapkan, penutupan salon-salon yang nyambi sebagai tempat protistusi, layak diapresiasi.

Sebab hal tersebut sangat berten­tangan dengan adat bersandi syarat-syarak basandi kitabullah (ASB-SBK) yang menjadi pedoman dalam kehi­dupan sosial bermasyarakat di Minang­kabau.

Namun lebih jauh, Hendra Naldi mengungkapkan, pentutupan salon tersebut tidak hanya asal tutup. Akan tetapi, pemko juga harus mencarikan solusi terhadap karyawan-karyawan yang selam ini telah mencari kehidupan di sana.

“Seharusnya Pemko mencarikan spot-spot baru  untuk salon-salon tersebut dengan catatan, salon-salon tersebut benar-benar beroperasi tidak lebih dari sebatas salon kecantikan,” tambah Hendra Naldi.

Menurut Hendra, awalnya salon-salon yang ada di Padang Teater tersebut hanya sebatas salon untuk kecantikan atau penampilan. Perilaku melenceng tersebut mulai terbentuk begitu Pasar Raya Padang mulai tidak diperhatikan.

“Awalnya Padang Teater menjadi pusat untuk hiburan maupun educa­tion, sebab selain disana ada teater juga ada buku-buku murah untuk para pelajar dan mahasiswa. Begitu pusat pemerintahan dipindahkan, Padang Teater menjadi tidak terkontrol sehing­ga dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu sebagai tempat protitusi. Intinya, ini hanya soal perhatian,” jelas Hendra. (h/mg-ysn) 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]