Respon atas Gempa


Rabu, 20 April 2016 - 02:40:06 WIB
Respon atas Gempa

Dalam sepekan terakhir, gempa makin akrab di telinga publik, terutama Sumbar. Apalagi, gempa dahsyat sempat memporakporandakan Jepang dan Ekuador, pekan lalu. Bayangan kelam akibat gempa 30 September 2009 lalu kembali menggelayut. Ada ketakutan sepertinya.

Wajar kiranya masa kelam 2009 itu belum terhapus dalam memori warga Padang khususnya dan Sumbar pada umum­nya. Seribuan orang diperkirakan tewas dalam musibah yang terjadi di kala senja itu, belum lagi yang cedera . Semua lumpuh. Listrik, air bersih, jalan dan kebutuhan lainnya, sulit didapat sehingga rasa sulit itu sepertinya memang sulit untuk dihapuskan.

Namun, rasa takut itu tak mungkin dipelihara lama-lama. Ada hal lain yang lebih penting untuk dipelihara. Mulai dari kesiapan mental,hingga fisik. Apakah saat ini tips-tips ringan menyimpan berkas penting dalam satu paket masih dilakukan. Apakah kesiapan pakaian, makanan ringan, minuman mineral, sudah disiapkan, plus lembaran rupiah dalam satu tas yang siap angkut kala bencana itu terjadi. Jawabannya ada pada kita masing-masing.

Soal mental, pun juga harus jadi perha­tikan. Panik memang ketika dihadapkan pada ancaman bencana yang satu ini, apalagi kita saat itu tak berkumpul dengan keluarga. Lalu, apakah kita akan ikut-ikutan masuk dalam pusaran macet kendaraan kala menyelamatkan diri dari kemungkinan terjadinya tsunami. Selain dua hal tadi, kemungkinan-kemungkinan lain juga akan menyelimuti, kala rasa panik menggelayut.

Tapi, apakah kita harus memelihara panik itu. Kenapa tak dari sekarang menyepakati titik temu keluarga yang tengah beraktifitas di banyak titik. Kenapa tak memahami lokasi tempat kita bernaung saat gempa terjadi, dan peringatan tsunami diserukan. Dengan memahami titik lokasi berpijak, kita bisa tahu dimana shelter tempat evakuasi sementara, jika tsunami benar-benar terjadi.

Jangan sampai, warga Bandar Buat, ikut-ikut pula panik dan lari ke arah Indarung. Jangan sampai, warga sekitar Padang Pasir, atau penghuni kost di kawasan itu, ikut bermacet-macet dengan kendaraannya. Padahal, ada dua shelter besar di dekatnya, seperti escape building kantor gubernur dengan satu helipad dan Mapolda Sumbar yang memiliki dua helipad. Itu kondisi personal. 

Sementara Mitigasi bencana gempa yang dilakukan oleh pemerintah ialah memberi peringatan dini saat terjadi gempa bumi. Sedangkan untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahaya tsunami, telah dipasang beberapa alat peringatan tsunami di bebe­rapa perairan Indonesia di antaranya di Samudra Hindia sepanjang pantai barat Sumatera, Selat Sunda, Utara dan Pulau Komodo. Saat ini telah terpasang lebih dari 90 alat pendeteksi tsunami yang dipasang di perairan Indonesia.

Sudah menjadi keharusan bagi Indo­nesia untuk memiliki suatu sistem peri­ngatan dini tsunami TEWS yang ter­integrasi, apalagi dengan pengalaman yang menimpa negeri semaju Jepang yang tetap kewalahan menghadapi tsunami. Sejauh ini, Indonesia telah menerima bantuan beberapa unit buoy dari Jerman, Norwegia, dan beberapa negara sahabat. Bahkan beberapa waktu lalu, Indonesia juga telah menerima satu unit buoy dari Amerika Serikat. (*)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]