RSUD Sawahlunto Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Unand


Rabu, 20 April 2016 - 02:50:46 WIB
RSUD Sawahlunto Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Unand

SAWAHLUNTO, HALUAN — Permasalahan klasik yang seringkali menjadi keluhan oleh masyarakat Sawahlunto yang ingin men­dapatkan perawatan kese­hatan di rumah Sakit Um­um Daerah (RSUD), khu­sus­nya keluhan tidak adanya Dokter Spesialis kandungan di setiap akhir pekan Sabut dan Minggu akan segera terjawab.Pasalnya pihak RSUD Sawahlunto be­ren­cana akan membuat pro­gram Chief Resident, be­ker­jasama dengan fakultas ke­dok­teran Universitas Na­dalas (UNAND) Padang.

Direktur RSUD Sa­wah­lunto Herijhon menjawab Haluan diruangannya Se­lasa (19/4) menyebutkan, inovasi chief resident ter­sebut akan dilakukan me­lalui kerjasama dengan Ke­dok­teran Unand, yakni de­ngan memanfaatkan dokter spesialis yang tengah me­nem­puh masa pendidikan dalam hal ini belum selesai pendidikan, untuk di­ter­jun­kan ke RSUD Sawahlunto, akan tetapi koodinasinya tetap tanggungjawab dari dokter spesialis yang ber­tugas. “Dokter tersebut masih dalam pendidikan, tapi telah memiliki kom­petensi untuk itu, akan kita manfaatkan dengan koor­dinasi dan tanggungjawab masih atas nama dokter spesialis yang bertugas di­sini,” katanya.

Keluhan klasik ini sebut Herijhon, sudah berpuluh puluh tahun berlangsung di RSUD ini, kendalanya me­mang keterbatasan tenaga dokter, selain itu ketidak mampuan keuangan untuk menambah ketersediaan dokter dokter ter­se­but. Me­n­coba untuk menjawab ke­luhan itu pihak rumah sakit berupaya melakukan ker­ja­sama dengan fakultas ke­dok­teran Unand yang diberi nama chief resident, jasa dari dokter spesialis yang tengah mengenyam pendidikan da­n dinilai berkompeten akan dipakai memenuhi kuota tenaga dokter spesialis te­ru­tama spesialis kan­dungan. Jalan lainnya lanjut He­rij­hon, juga bisa dilakukan dengan cara, pemerintah kota menyekolahkan dokter tersebut untuk mengambil spesialisnya, tapi dengan berbagai catatan dan ke­ten­tuan yang tertuang didalam kontraknya nanti. ”Con­toh­nya didalam kontrak nan­ti­nya pemerintah kota berseia memberikan biaya pen­didikan dengan catatan, si dokter itu harus mau m­e­nga­bdi lebih 10 tahun, baru bisa mengajukan per­min­ta­an pindah kedaerah lain,’’ terangnya.

Sebelumnya banyak dari pasien yang akan me­la­ku­kan persalinan secara ope­rasi  dihari Sabtu dan Min­g­gu dirujuk ke rumah sakit lainnya yakni ke RSUD Solok, dan hal itu telah berlangsung sejak da­hulu­nya, dan belum ada per­hatian dari pihak terkait hingga saat ini.

Salah satu pasien Siska (33) kepada Haluan menga­takan, ia terpaksa dirujuk ke Solok untuk melakukan persalinan anak keduanya, padahal sebelumnya ia telah berjanji akan melakukan operasi di hari Senin, namun tiba tiba pada Sabtu malam terjadi kontraksi dan dibawa ke rumah sakit, dari sana ia dirujuk untuk melakukan operasi melahirkan keru­mah Sakit umum Solok. ”Karena kita tinggal di Sa­wah­lunto, dan harus dirujuk ke Solok tentu sedikit ban­yak­nya membuat repot ke­luar­ga yang harus me­ne­ma­ni, dikarenakan jarak yang cukup jauh dari rumah,” keluhnya.

Sama halnya dengan Yo­s­si (31) persalinannya yang semula diprediksi normal di Bidan, terpaksa harus dil­a­ku­kan melalui operasi ce­sar, yang dikarenakan ada­nya kendala pada janin yang masih jauh dari jalan ke­luar­nya, sementara air ke­tu­ban­nya sudah pecah dan ham­pir me­nge­ring.

Dikarenakan pada wak­tu itu hari Sabtu malam, setelah dicoba mela­kukan kontak dengan ru­mah sakit, pihak rumah sakit men­ya­rankan untuk dirujuk ke Solok dengan alasan tidak adanya dokter. “Mudah mudahan dengan adanya inovasi chief re­si­dent itu, hal hal seperti yang saya alami tidak akan terjadi lagi, ung­kapan warga Sa­wah­lunto tidak boleh sakit pada Sabtu dan Minggu tidak akan terdengar lagi,” harapnya. (h/mg-rki)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]