Gempa Jepang dan Ekuador Pelajaran bagi Sumbar


Rabu, 20 April 2016 - 03:02:40 WIB

PADANG, HALUAN — Gempa yang meng­guncang Jepang dan Ekuador dipastikan tidak berpengaruh langsung ke lempengan megathrust Mentawai. Namun, efek psi­kologis akibat gempa ini cukup terasa di Sumbar, karena Sumbar merupakan daerah rawan gempa.

Widya (23) salah seorang guru PAUD di Kota Padang mengatakan, ia merasa cemas dengan beberapa kejadian gempa yang dilihatnya di tayangan televisi. Kecemasannya ini dikarenakan gempa yang terjadi di Jepang dan Ekuador akan berdampak kepada kondisi lempeng di Mentawai.

“Takut tentu ada, mengingat sudah beberapa hari belakangan  Mentawai juga gempa. Meski itu gempa kecil, tapi takut juga kalau sewaktu-waktu ada gempa besarnya yang datang,” katanya kepada Haluan, Selasa (19/4) kemarin.

Senada dengan Widya, Suwarni (55) warga Tunggul Hitam ini juga merasa cemas dengan kejadian gempa yang terjadi di luar negeri tersebut. Yang ia takutkan setelah gempa di Jepang dan Ekuador maka selanjutnya akan terjadi di Kota Padang.

Melihat kondisi ini Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Padang Panjang, Rahmat Triyono menuturkan, gempa Jepang dan gempa Ekuador itu sangat berbeda dengan gempa yang di sesar Mentawai. Karena secara lempengan itu sangat jauh berbeda antara Jepang, Ekuador dan Megathrust Mentawai.

“Namun demikian warga tetap diminta waspada. Mengi­ngat potensi untuk gempa besar masih ada di Sumbar,” katanya.

Masyarakat Sumbar kata Rah­mat, harus sadar bahwa terja­di atau tidaknya gempa di Jepang dan Ekuador, Sumbar telah bera­da di jalur gempa yang sewaktu-waktu dapat melepaskan energinya.

“Masyarakat saat ini hanya butuh kewaspadaan. Jangan le­ngah, karena potensi itu tetap ada. Apalagi dari pantauan BMKG beberapa waktu belakangan Men­tawai terus dilanda gempa,” ungkap Rahmat kemarin saat dihubungi dari Padang.

Ia menegaskan setiap perge­ra­kan yang terjadi di Mentawai pihaknya terus menginfor­masi­kan kepada pemerintah, dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sum­bar. “Sehingga dengan informasi tersebut dapat diambil sebuah langkah antisipatif untuk mas­yarakat,” tuturnya.

Diambahkan Kepala BPBD Sumbar, Zulfiatno bahwa, gempa yang terjadi di Jepang dan Ekua­dor harus dijadikan sebagai pem­belajaran bagi masyarakat Sum­bar. Dimana megatrush Menta­wai dapat lepas sewaktu-waktu.

“Maka diminta kepada mas­yakat untuk waspada dan mengi­kuti prosedur keselamatan saat gempa yang telah diberikan peme­rintah daerah. Dimana ketika gempa sudah harus lari ke shelter atau lari melalui jalur evakuasi yang ada,”kata Zulfiatno.

 Sementara terkait dengan kesiapan mitigasi bencana, BPBD Sumbar juga terus me­mantapkannya mulai dari selter, jalur evakuasi, dan juga memak­simalkan sosialiasasi kepada masyarakat.

Masyarakat Tidak Perlu Cemas

Pakar gempa dari Universitas Andalas (Unand), Badrul Mus­tafa Kemal meminta agar mas­yarakat tidak cemas dengan se­rangkaian kejadian gempa yang menimpa Jepang dan Ekuador. Menurutnya, selain posisi jauh dari Sumbar secara lempengan itu sangat berbeda dengan mega­thrust Mentawai.

“Cemas tidak perlu, namun yang penting saat ini bahwa kita berada di daerah rawan gempa yang bisa terjadi kapan saja. Saat ini tentu kesiapan diri dan juga kesiapan dari pemerintah dae­rah,”pungkasnya kepada Haluan Selasa, (19/4) DI Padang.

Badrul Mustafa menco­toh­kan kejadian gempa yang terjadi di Nias dan Aceh beberapa tahun silam. Dimana beberapa bulan setelah itu juga terjadi gempa di Sumbar. “Ini secara lempeng dan jarak juga mempengaruhi, tentu sangat berbeda dengan Je­pang,” tuturnya.

Gempa Jepang dan Ekuador seharusnya menjadi pelajaran bagi Sumbar terkait mitigasi bencana di daerah tersebut. “Mi­salnya gempa Ekuador yang terjadi 1979 waktu itu jumlah korban mencapai ratusan ribu jiwa. Namun, gempa kemarin itu jumlah korban turun dua kali lipat jadi 272 orang,” ungkapnya.

Kondisi ini juga dapat diliha dari gempa Jepang, dimana tiga kali gempa Jepang dimana gempa pertama 6,2 SR, gempa kedua 6,0 SR dan gempa ketiga 7,0 SR. Dari tiga kali gempa ini hanya menim­bulkan 41 orang korban jiwa.

“Hal yang bisa diambil pela­ja­ran bahwa negaranya terus membenahi sistem mitigasi ben­ca­nanya dengan makin berku­rangnya korban jiwa setiap kali gempa terjadi. Seharusnya Sum­bar juga seperti itu” terangnya.

Meski mungkin tidak bisa sekaligus, namun sudah harus di­mulai dari saat sekarang. “Na­ma­nya mitigasi harus dilakukan ber­tahap, kalau tidak dilakukan seka­rang kapan lagi,”tutupnya. (h/isr)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 10 Juni 2020 - 17:09:35 WIB

    Gempa 5,7 SR Muko-muko, Semua Pasien RSUP M Djamil Dipastikan Aman

    Gempa 5,7 SR Muko-muko, Semua Pasien RSUP M Djamil Dipastikan Aman HARIANHALAUAN.COM - Rumah sakit umum pusat (RSUP) M. Djamil Padang pastikan seluruh pasien aman terkait gempa berkekuatan 5,7 skala richter yang berpusat pada 2,73 Lintang Selatan dan 100,91 Bujur Timur..
  • Ahad, 15 April 2018 - 21:44:01 WIB

    Gempa Dangkal Kejutkan Warga Padang

    Gempa Dangkal Kejutkan Warga Padang PADANG, HALUAN--Gempa berkekuatan 4.0 SR pukul 19.23 WIB kejutkan sejumlah warga Padang dan Padang Panjang. Sempat membuat panik, gempa tersebut berdasarkan analisa BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang berkekuatan 4.0 SR. Ge.
  • Jumat, 29 September 2017 - 17:51:47 WIB

    Tugu Monumen Gempa Jadi Pusat Peringati Gempa 30 September 2009

    Tugu Monumen Gempa Jadi Pusat Peringati Gempa 30 September 2009 PADANG, HARIANHALUAN.COM—Tugu Monumen Gempa di Jalan Gereja masih tetap menjadi pusat tempat untuk memperingati gempa 30 September 2009. Kegiatan akan dilakukan hari ini Sabtu (30/9) pukul 15.30 WIB hingga 18.00 WIB..
  • Selasa, 05 September 2017 - 02:09:17 WIB

    Lift Balaikota Rusak Akibat Gempa

    Lift Balaikota Rusak Akibat Gempa PADANG, HALUAN--Gempa yang menghoyak Padang pada Jumat (1/9) dinihari lalu berimbas kepada kerusakan sejumlah fasilitas. Seperti di Balaikota Padang. Lift yang biasa digunakan oleh para ASN tak dapat difungsikan. .
  • Jumat, 01 September 2017 - 02:16:14 WIB

    Gempa Tengah Malam, Bagaimana Nasib Ribuan Penghuni LP di Padang?

    Gempa Tengah Malam, Bagaimana Nasib Ribuan Penghuni LP di Padang? PADANG, HARIANHALUAN.COM - Sebanyak 1.428 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Muaro Padang diungsikan dari blok sel penjara akibat gempa bumi yang terjadi di Sumatera Barat, Jumat (1/9/2.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]