Tahanan Kabur, Wartawan Dikerasi dan Diusir

Kepala Pengamanan Rutan Painan Dipolisikan


Rabu, 20 April 2016 - 03:04:16 WIB
Kepala Pengamanan Rutan Painan Dipolisikan

PADANG, HALUAN — Berawal dari adanya tahanan narkoba yang kabur,  dua wartawan diduga mendapat tindakan kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan dari Kepala Pengamanan Rutan (KPR) Klas II B Painan. Peristiwa ini terjadi saat Robby Octora Romanza (wartawan Padang TV) dan Okis Mardiansyah (wartawan Koran Padang) mela­kukan peliputan di Rutan Painan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Selasa (19/4).

Kedua wartawan tersebut me­lapor ke pihak kepolisian dengan nomor polisi LP/76/B/IV/2016/SPKT-1 sekitar pukul 12.00 WIB. Keduanya merasa tidak senang atas sikap terlapor yang telah keluar dari tupoksinya sebagai KPR. Mereka berharap, kasus ini dapat ditindaklanjuti oleh pihak ber­wajib.

Diceritakan Robby saat mela­por di SPKT Polres Pessel, sebe­lum kejadian tersebut dia bersama Okis mendatangi Kantor Rutan Klas II B Painan. Mereka ingin bertemu dengan Kepala Rutan guna meng­konfirmasi terkait dugaan adanya seorang napi yang terjerat kasus narkoba kabur dari rutan.

“Namun, kepala rutan tidak ada di tempat. Kami bertemu dengan Kepala Pengamanan Rutan. Namun, KPR menolak untuk dimintai keterangan dengan alasan kasus itu sudah lama (satu minggu,red),” kata Roby didampingi beberapa wartawan sekitar pukul 14.00 WIB.

Saat mengeluarkan handycam dan ingin mengambil gambar, spontan terlapor me­manggil petugas rutan lainnya untuk mengusir keluar dan saat itulah terjadi aksi dorong-dorongan dengan petugas rutan, yang menim­bulkan bekas luka di tangan Robby.

Sementara itu, Okis membenarkan terjadi aksi-dorong-dorongan di Kantor Rutan Klas II B Painan. Padahal, mereka hanya meminta konfirmasi secara baik-baik kepada KPR terkait dugaan tahanan narkoba kabur.

“Rasanya kami wajar untuk meminta konfirmasi kepada kepala pengamanan rutan. Na­mun kenyataannya, kenapa mere­ka marah-marah dan mengusir kami,” jelas Okis, selaku saksi di tempat kejadian.

Selain aksi kekerasan, lanjut Okis, di lokasi kejadian KPR sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dilontar­kan kepada pihak media. “Ang imbau kawan-kawan wartawan ang sado Alah la. Buek berita saga­dang-gadangnyo. Ndak ta­kuik den do (Panggil semua rekan-rekan wartawan kamu semuanya, buat berita sebesar-besarnya, saya tidak takut,” ujar Okis, yang menirukan perkataan terlapor.

Mendengar hal itu, mereka langsung menuju kantor polisi terdekat  melaporkan kejadian itu. Setelah itu, beberapa warta­wan lainnya bertugas di Painan, yang mendengar kejadian ter­sebut sontak terkejut dan segera menuju ke Polres Pessel. Setelah membuat laporan ke polisi, Rob­by langsung melakukan visum di Rumah Sakit (Rumkit) M. Zein Painan bersama wartawan lain.

Sementara itu, Kasat Res­krim Polres Pessel AKP Muhardi Ilyas mengatakan, pihaknya telah menerima laporan terkait peris­tiwa yang dialami oleh wartawan. Dalam waktu dekat, pihaknya segera menyelidiki kasus tersebut dan akan mengumpulkan ketera­ngan saksi-saksi dan bukti lainnya.

Dari pantauan yang dipero­leh, berselang beberapa menit setelah laporan tersebut, AKP Muhardi Ilyas langsung menuju ke Rutan Painan untuk melakukan olah TKP dengan menghadirkan pela­por dan terlapor, serta beberapa saksi.

Menanggapi pelecehan profe­si dan kekerasan terhadap jurna­lis oleh petugas Rutan Klas II B Painan, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumatera Barat mengecam kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

“Kami minta, segala persoa­lan yang berkaitan dengan ke­giatan jurnalistik diselesaikan secara hukum, agar tidak ada lagi bentuk kekerasan dan krimi­nalisasi terhadap kegiatan jur­nalistik,” kata Ketua IJTI Sum­bar, John Nedy Kambang, Selasa (19/4) malam.

Menurut John, ýapa yang dialami oleh jurnalis Padang TV dan rekannya saat meliput di Rutan Painan adalah sebuah bentuk kekerasan dan inti­mi­dasi. ” Harus diproses,” katanya.

Jurnalis CNN Indonesia itu menambahkan, dalam men­jalan­kan tugas dan kewajiban jur­nalistiknya, jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ber­dasarkan undang-undang terse­but, pihak yang menghambat atau menghalangi pelaksanaan tugas jurnalis bisa dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

KPR Diturunkan Pangkat

Kepala Kantor Wilayah Ke­men­terian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkum dan HAM) Sumbar, Ansaruddin menegas­kan akan memberikan sanksi berupa penurunan pangkat Ke­pala Pengamanan Rutan (KPR) Klas II B Painan, terkait ka­burnya tahanan pada Sabtu (16/5) lalu di Rutan tersebut. 

Menurutnya, sanksi sedang berupa penurunan pangkat akan diberikan kepada KPR tersebut, karena kelalaiannya salah seo­rang penghuni Rutan kabur.

“Kita sudah panggil Kepala Rutan (KR) nya terkait hal ini. Bedasarkan keterangan KR ka­burnya tahanan ini karena kela­laian. Dimana KPR  membawa tahanan ke rumahnya untuk membantu-bantu. Hal ini tidak hanya kali itu saja dilakukan,” jelasnya kepada Haluan, saat dihubungi melalui telepon se­lulernya, Selasa (19/4) malam.

Namun, pada Sabtu itu ketika dibawa pulang untuk membantu-bantu di rumah KPR, tahanan tersebut kabur. “Tentu hal ini sangat tidak dibenarkan ketika membawa tahanan pulang ke luar rutan. Karena perbuatannya ini sanksi tegas akan kita berikan,” terangnya.

Kemenkum dan HAM juga telah menurunkan tim ke lapa­ngan untuk menyelidiki kasus kaburnya tahanan tersebut. “Kita akan terus proses kejadian ini sampai tuntas,” ungkapnya.

Terkait dengan adanya aksi menghalangi kerja pewarta saat peliputan di Rutan Klas II B Painan dikatakan Ansaruddin bahwa itu hanya masalah ko­munikasi saja.

Karena pada waktu akan mengambil beberapa foto dan peliputan KPR memang mela­rang wartawan karena KR sedang berada di Kemenkum dan HAM Padang. Dengan alasan ini KPR meminta agar menunggu peli­putan dilakukan setelah KR kembali dari Padang.

“Namun, karena tetap me­maksa maka sesuai dengan kode etik petugas juga melakukan tugasnya untuk tetap tidak mengi­zinkan wartawan masuk, se­hingga terjadilah sedikit gese­kan,” kata Ansaruddin.

Namun, untuk masalah ini pihak Rutan Klas II B Painan yang dimediasi oleh Polres akan melakukan pertemuan untuk mencari jalan damai tentang masalah ini. “Saya sudah konfir­masi katanya malam ini (Selasa, red) pihak Rutan tengah me­nunggu wartawan untuk ha­dir,”ungkapnya.

Ansaruddin menegaskan, sebenarnya hal seperti ini tidak perlu terjadi apabila kedua belah pihak sama-sama mengetahui kode etik masing-masing dalam bekerja. “Saya juga sudah sam­paikan kepada seluruh Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan KR agar tidak menutup-nutupi wartawan dalam mencari berita, karena wartawan merupakan mitra Kemenkum dan HAM,” tegasnya. (h/har/nas/rvo/isr)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]