Erniwati, Pemilik Rumah Spray Ernitex

Jadi Pengusaha Bermodal Kemauan


Kamis, 21 April 2016 - 02:20:20 WIB
Jadi Pengusaha Bermodal Kemauan ERNIWATI, pengusaha seprai, pemilik Rumah Spray Ernitex, memperlihatkan seprai buatannya di Jalan Gaduang No. 62 A, RT 02/RW VIII, Kelurahan Lubuk Begalung, Padang, Rabu (20/4). (RUSDI BAIS)

PADANG, HALUAN — Tak terbayang sedikitpun oleh Erniwati (46) bahwa ia akan menjalankan usaha sendiri dengan mengandalkan ke­te­ram­pilan menjahit. Pasalnya, ia sebelumnya tak pandai men­jahit pakaian, juga tidak pernah ikut pelatihan menjahit, bah­kan, mesin jahit pun tak punya. kenyataannya, kini ia dikenal sebagai pe­ng­u­saha bed cover, seprai dan gorden.

Usaha yang dirintis Erniwati sejak 2005 lalu itu bermerek “Rumah Spay Ernitex”,  di Jalan Gaduang No. 62 A, RT 02/RW VIII,  Lubuk Begalung, Padang.    Begini cerita Erdniwati menjadi pe­ngusaha seprai. Men­­jelang hari Raya Idul Fitri pada 2005, saudara Erniwati ingin menukar kain gorden rumahnya yang usang. Har­ga kain gorden itu Rp750 ribu untuk 10 me­ter kain. Harga itu sangat mahal baginya.

Sembari kakaknya me­­­nawar kain di Pasar Raya, Ernawati asyik me­me­­rhatikan tukang jahit yang menjahit kain gor­den di samping toko kain tersebut. Akhirnya, ka­kaknya membeli lebih 10 meter kain .

Karena Lebaran se­makin dekat, se­mua pen­jahit  di ling­ku­ngannya tak lagi me­nerima pesanan. Erniwati lalu menawarkan diri un­tuk menggunting kain itu sesuai ukuran yang diinginkan sau­da­ranya. Sau­daranya keberatan ka­rena kha­watir kain yang harganya relatif mahal akan ter­buang percuma.

Namun, ia te­rus me­ya­kinkan sau­da­ranya bah­­wa ia bisa  men­jahit kain. Akhirnya, sau­da­ra­nya menuruti ke­mauan­nya. Ia ternyata bisa meng­gunting kain ters­e­but sesuai harapan sau­daranya. Ia kemudian di­pinjami mesin jahit oleh saudaranya.

Saat Lebaran, tamu sau­daranya menanyakan penjahit kain gorden tersebut.  Akhir­nya, Ernawati mendapat tawaran untuk menjahit kain gorden. Sayangnuya, Erniwati tak punya mesin jahit.

Untuk sementara, Erniwati meminjam kembali mesin sau­daranya. Tak lama kemudian, ia dapat bantuan satu unit mesin jahit dari Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (Bazis) Se­men Pa­dang. Setahun kemudian ia diberi lagi bantuan untuk modal sebesar Rp1,5 juta, dan tahun berikutnya satu unit mesin obras.

“Bantuan Bazis Semen Pa­dang sangat membantu saya untuk melanjutkan usaha ini,” ujar Erniwati yang hanya tamat SMP ini kepada Haluan, Rabu (20/4). Menjahit kain gorden ternyata ramai menjelang leba­ran saja. Untuk itu,  ia belajar sendiri menjahit seprai.

Ternyata bisnis ini ada pa­sang surutnya. Pada 2009, pesanan kain gorden dan se­prainya sepi. Erniwati bekerja sebagai penjahit di sebuah perusahaan di kawasan Bela­kang Olo Padang. Di sana ia bekerja hingga 2014. Upah yang ia dapat dan kepen­daian­nya bertambah.

Hasil dari bekerja selama lima tahun itu, Erniwati dapat membeli lima unit mesin jahit. Itulah yang membuatnya se­makin optimistis untuk mandiri. Kini, ia dibantu tiga orang tenaga kerja dalam menjalankan usa­hanya.  Selain memproduksi bed cover, seprai, gorden dan bermacam jenis bantal, juga menerima pesanan. Harga bed cover bervariasi tergantung bahan, berkisar Rp650.000 per set.  Kalau terima upah, satu set Rp70.000. (h/rb)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]