400 Bungkus Terjual Tiap Hari

Jual Es Lilin Jadi Mata Pencaharian Novi


Jumat, 22 April 2016 - 04:03:23 WIB
Jual Es Lilin Jadi Mata Pencaharian Novi Novi Nazar.

PADANG, HALUAN — Novi Nazar membuat es tapai awalnya hanya untuk dikonsumsi anak ketiganya yang mengalami gangguan di kepala, sesuai dengan anjuran petugas medis di Puskesmas. Kemudian, ia membuat es itu untuk dijual. Dari menjual es tapai, ia beralih menjual es lilin. Sejak April 2014, es lilin menjadi sumber pendapatan utama baginya.

Wanita kelahiran ke­lahi­ran Padang, 29 Oktober 1982 itu menceritakan, petugas Pus­kesmas menganjurkan agar anaknya yang me­ngalami ben­jolan di kepala dikasih ta­pai. Sayang, anaknya tak su­ka tapai. Tapi ia tak ke­­hi­langan akal. Ia me­nyiasati ma­salah itu de­ngan membuat es ta­pai. Ternyata sangat di­ge­ma­ri anaknya. Ma­ka, hampir se­tiap hari No­vi membuat es ta­pai.

Novi belajar mem­buat es tapai karena sering membantu te­tangga membuat es tapai ketika menetap di Ja­karta. Tetang­ga­nya ham­pir setiap hari mem­buat es tapai, te­ta­pi hanya untuk ke­bu­tuhan keluarga, tidak untuk dijual.

“Saya ke Jakarta setelah gempa 2009 hingga 2011. Setelah itu saya balik ke Pa­dang,” ujar Novi di rumahnya, Jl. Gunung Tandikek No. 15 RT 01/RW II, Kelurahan Gu­nung Pangilun, Kecamatan Padang Uta­ra, Padang, be­berapa wak­tu lalu.

Kemudian tetangganya menyarankan Novi mem­per­banyak produksi es tapai. Selain untuk kebutuhan anak, juga bisa dijual. Anak ter­bantu, dapat pula penghasilan dari penjualan es. Saran te­tang­ga itu diturutinya. Awal­nya ia buat es tapai 40 bung­kus, dengan harga eceran Rp1.000 per bungkus. Karena es itu laris manis, ia menaik­kan produksinya jadi 50 bung­kus dan juga habis terjual.

Semakin laris dagangan­nya, Novi ingin meningkatkan la­gi produksinya. Tapi ia tak mung­kin melakukan itu lan­ta­ran tak ada kulkas untuk me­nampung produksi terlalu ba­nyak. Untung saja, Ia me­miliki kenalan yang bersedia memin­jam­kan satu unit kul­kas bekas. Ia pun menambah produksi es tapainya. Es tapai­nya laris, tapi ia juga belum puas.

Novi lalu mencari variasi es. Ia membuka media inter­net guna mempelajari cara membuat bermacam jenis es. Ia tertarik dengan es lilin. Ia lalu mencoba membuatnya. Ternyata ia bias membuatnya dan yakin dengan produk barunya itu akan laris seperti es tapai.

Maka, Novi beralih ke es lilin. Produksi perdananya hanya 60 bungkus karena keterbatasan modal. Sebung­kus es lilin ia jual Rp1.000. Untuk memasarkan produk­nya itu, ia menitipkannya di kedai-kedai terdekat. Ada 12 macam rasa yang dibuat Novi, antara lain es lilin rasa coklat, rasa nangka, kacang hijau, rasa air mata pengantin, me­lon, dan leici. Es lilin Novi mendapat sambutan pasar.

Dalam sehari, rata-rata Novi memproduksi 400 bung­kus es lilin. Sebungkus es itu ia jual Rp1.000. Ia memasar­kan es tersebut dengan cara menitipkannya di sejumlah kedai dan sekolah di Padang.

“Ada enam termos yang saya titipkan di enam sekolah. Kalau di kedai tak perlu ter­mos karena kedai yang dipilih yang telah punya kulkas. Ka­lau ditaruh di mini market, saya harus menyediakan kul­kas. Itulah yang belum saya punya,” tutur wanita lulusan SMK Kartika Padang itu.

Novi menegaskan, es lilin yang dibuatnya tidak meng­gunakan pengawet dan pe­warna kimia. Beragam rasa es lilin buatannya juga disukai banyak petugas Balai Penga­wasan Obat dan Makanan dan petugas medis Puskesmas. “Kalau pakai pengawet pasti ketahuan,” imbuhnya. (h/rb)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]