Menyelamatkan Si Pengelana Samudera


Sabtu, 23 April 2016 - 01:06:56 WIB
Menyelamatkan Si Pengelana Samudera PETUGAS penangkaran membantu anak-anak yang ingin melepas anak penyu ke laut. (TRISNALDI)

Udara siang di ping­gir pantai itu, te­ra­sa panas. Teriknya matahari seakan membakar kulit. Namun semilir an­gin yang berhembus, mem­buat kaki tetap bertahan tak beranjak dari lokasi kon­servasi penyu di Desa Apar, Kota Pariaman. Angin siang bertiup menghembuskan hawa damai. Sensasinya memberikan ketenangan dan kenyamanan pada siapa saja yang berada di sana.

Namun saat hari libur, ketenangan sekitar akan terusik dengan kemeriahan suara anak-anak bersama orangtuanya. Mereka akan berteriak kegirangan men­ya­k­sikan penyu atau tukik besar yang berenang dalam kolam, atau melihat anak-anak tukik dalam wadah pemeliharaan.

“Konservasi Penyu Kota Pariaman ini, sudah bero­perasi sejak tahun 2009. Lokasi penangkaran ini me­mang tak semata untuk pe­les­tarian dan perlin­dung­an sat­wa yang terancam punah itu. Karena lokasi tersebut juga dibuka sebagai lokasi eko­wisata,” kata Ke­pa­la UPT Konservasi Pe­nang­karan Penyu, Dinas Kelautan dan Perikanan Pariaman, Citra Adhitur Bachri.

Penyu atau tukik adalah ku­ra-kura laut yang di­te­mukan di se­mua samu­dera di dunia. Penyu memiliki sepasang tungkai depan, berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan be­renang di dalam air.

Walaupun seumur hi­dupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu, tetap harus naik ke permukaan air untuk mengambil napas karena penyu bernapas dengan paru-paru. Pen­yu pada umumnya ber­mig­rasi dengan jarak cukup jauh, dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilo­me­ter dapat ditempuh 58-73 hari.

Sebagai sebuah tempat pe­nang­karan, lokasi ini dilengkapi sejumlah sarana prasarana pe­nun­jang. Ada 2 kolam ukuran besar 20x10 meter, ditambah dengan 38 unit bak-bak ukuran sedang dan kecil sebagai tempat pemeliharaan penyu yang sudah menetas dan untuk keperluan edukasi.

“Hewan spesifik ini, banyak bertelur pada gugusan pulau-pulau di wilayah pantai Kota Pariaman, seperti Pulau Kasiak, Pulau Ujuang, Pulau Angso Duo dan Pulau Tangah. Bahkan jum­lah telurnya mencapai ribuan pertahun,” kata Citra Adhitur Bachri.

Masyarakat mengumpulkan telur penyu tersebut untuk tujuan penyelamatan penyu. Tidak ada yang berani mem­per­dagang­kan­nya. Dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat setempat me­n­yerahkan telur tukik itu pada pihak konservasi.

Bahkan pada pada bulan-bulan tertentu, pihaknya bisa mendapatkan lebih 3.000 butir telur. Setiap warga mengantar telur penyu dengan jumlah ber­variasi, ada yang 25 butir, 30 butir hingga 60 butir. Telur penyu yang didapat dari masyarakat itu di­hargai Rp3.500/butir.

Telur-telur itu ditetaskan secara semi alami, dalam bangu­nan dengan media pasir pantai. Telur penyu akan menetas dalam rentang waktu sekitar 50-60 hari dengan tingkat kegagalan sangat kecil.

“Kita mendapatkan ribuan butir telur penyu dari masyarakat. Setiap tahun, rata-rata telur penyu yang bisa kita tetaskan belasan ribu banyaknya,” katanya.

Di perairan pantai Pariaman, terdapat tiga spesies penyu, ma­sing-masing penyu hijau, penyu sisik dan penyu lekang. Dan sejak konservasi penyu itu beroperasi tahun 2009, sudah puluhan ribu tukik yang ditetaskan dan dilepas ke laut lepas.

Kawasan Ekowisata

Dikatakan Citra, kawasan penangkaran penyu itu juga ter­buka bagi para wisatawan dengan mengusung konsep ekowisata. Pengunjung yang datang bisa mendapatkan informasi tentang seluk beluk hewan laut yang dilindungi itu.

“Sambil berwisata, para ora­ng­tua dapat mengenalkan jenis hewan itu pada anak-anaknya,” terang Citra Adhitur Bachri.

Para petugas juga siap untuk menjelaskan kepada pengunjung. Biasanya pengunjung yang datang ke penangkaran penyu, juga melihat penyu dan berkonsultasi dengan petugas tentang seluk beluk kehidupan penyu. Dengan pelayanan seperti itu, ada dua fungsi yang berjalan sekaligus, tambah Citra, yaitu fungsi eko­wisata dan fungsi penangkaran.

“Kunjungan masyarakat ke penangkaran penyu, baik untuk  berwisata atau study banding, atau istilah lainnya, kita terima dengan senang hati. mereka juga bisa belajar dan memahami ke­hidupan hewan yang dilindungi itu. Satu hal yang menjadi ha­rapan dan tujuan kita, yakni kelestarian hewan laut ini ke depan,” katanya lagi.

Dalam sehari, jumlah pe­ngun­jung bisa mencapai 250 orang. Mereka datang dari ber­bagai kalangan, mulai dari murid PAUD sampai ke dosen per­guruan tinggi. Tak hanya kun­jung­an lokal, tetapi juga datang dari berbagai daerah di Indonesia. Karena beberapa instansi pe­me­rintah kabupaten/kota lain di tanah air, juga menjadikan Kon­servasi Penyu Pariaman sebagai lokasi study banding.

Anak-anak itu juga diberi kesempatan untuk melepas tukik ke laut. Tukik yang sudah bisa dilepas adalah yang berumur lebih dari sepekan. Meski masih terbilang kecil, namun mereka butuh adaptasi dengan ling­kungan laut.

Momen ini, tentunya saja ter­kait erat dengan potensi pen­da­patan daerah. Untuk masuk lokasi pe­nangkaran penyu, di­tetap­kan de­ngan Perda setempat, dipungut retribusi masuk Rp5.000,- untuk orang de­wasa dan Rp3.000,- untuk anak-anak. Sedangkan untuk me­lepas tukik ke laut lepas, satu ekornya dipungut bayaran Rp10.000.

“Umumnya pengunjung me­mahami hal itu dan tidak ke­beratan dengan aturan tersebut. Karena mereka mengerti, uang itu dipungut secara resmi untuk pemasukan daerah,” katanya.

Kekurangan SDM

Hanya saja, dalam mengelola lokasi penangkaran itu, pihak pengelola merasakan masih ke­kurangan personil.

“Kita butuh tenaga tambahan untuk pengelolaan penangkaran ini, termasuk tenaga edukasi. Tenaga yang ada sekarang 9 orang. Kita butuh tambahan paling tidak sebanyak jumlah yang ada. Ba­rulah ideal rasanya dalam penge­lolaan ini,” katanya. (h/*).

 

Laporan: TRISNALDI

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]