Waspada Ajaran Sesat

Ahmadyah Ditengarai Eksis Lagi


Sabtu, 23 April 2016 - 01:07:58 WIB

PADANG, HALUAN — Meski tahun 2011 lalu Gubernur Sumbar telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) melarang kegiatan Ah­madyah berkembang di Sumbar, namun diam-diam ajaran ini kembali melaksanakan kegiatan di tengah masyarakat.

Kelompok Ahmadyah diduga mendatangi rumah-rumah warga dan mengajak masyarakat untuk ber­ga­bung dengan mereka. Dan hal itu, dialami sendiri oleh Ketua Majelis Ulama Indo­nesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad yang diajak untuk bergabung.

“Selain saya, di sejumlah tempat di Kota Padang, masyarakatnya juga mela­porkan  kalau mereka dida­tangi oleh orang-orang Ah­mady­ah dan mengajak me­reka untuk bergabung,” sebut Duski.

Karena itu, lanjut Duski Samad, masyarakat diminta untuk waspada karena ada indikasi kalau Ahmadyah kembali aktif di masya­rakat. Dia pun mengimbau, agar masyarakat berhati-hati de­ng­an keberadaan ajaran ini.

“Ahmadyah yang me­nga­kui ada nabi lain setelah Nabi Muhammad jelas salah besar, sebab dalam Alquran telah dijelaskan Nabi Mu­ham­mad adalah nabi akhir zaman. Mereka yang me­nging­kari isi Alquran, jelas-jelas adalah sesat,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, agar tak mudah terpengaruh dengan ajaran-ajaran yang sesat atau menyesatkan ini, masyarakat diminta untuk menguatkan keimanan. Ber­pegang tegus pada ajaran agama, terutama Alquran yang diturunkan sebagai tuntunan umat Islam.

Kanwil Kemenag Sum­bar juga mengingatkan, agar masyarakat berhati-hati dan mewaspadai aliran yang berkembang di sekitar me­reka. Hal tersebut disam­paikan karena dari pantauan Kemenag Sumbar, aliran atau ajaran yang mengarah kesesatan masih ada ber­kembang di Sumbar.

Kasubag Hukum dan Keru­kunan Umat Beragama (KUB) Kanwil Kemenag Sumbar,  M Rifki mengatakan, pihaknya belum bisa memublikasikan mana saja dari kelompok ter­sebut yang menyimpang atau sesat. Sebab hingga saat ini pe­man­tauan masih terus dilakukan.

“Hasil investigasi kita, ada kelompok yang sudah dilarang pemerintah tapi belakangan eksis lagi. Bahkan secara terang-te­rang­an beani mengajak warga ikut serta,” katanya.

Ia mengatakan, suatu ajaran akan disebut menyimpang jika ia melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan agama. Dian­tara­nya, tidak mau berimamkan dengan orang lain, tidak me­ngakui Nabi Muhammad.

Selanjutnya tidak melak­sana­kan hal-hal diwajibkan agama, umpamanya kewajiban untuk melaksanakan shalat, puasa dan yang lainnya. Kemudian, suatu kelompok juga bisa disebut sesat jika mereka lebih mengagungkan nabi sebelum nabi Muhammad secara berlebihan.

Berkaitan ajaran menyim­pang ini, dari rapat-rapat Kejak­saan Tinggi dengan Kemenag, para ulama, dan pihak terkait lainnya pernah dikeluarkan SK yang menyebutkan 24 ajaran patut diwaspadai perkem­bangan­nya karena mengarah pada kesesatan.

“Sampai sekarang SK ter­sebut belum dicabut. Karenanya kami terus mengingatkan masya­rakat agar berhati-hati dan tak mudah terpengaruh dengan alir­an-aliran yang berkembang di sekitar mereka,” ungkapnya.

Untuk ajaran yang men­yim­pang, kelompok ini biasanya cenderung memberi kemudahan-kemudahan tertentu dalam men­jalankan ajaran agama. Misalnya salat lima waktu bukan dijadikan suatu yang wajib, yang haram bisa saja dihalalkan,  tidak mem­pers­oalkan jika ada aturan agama yang dilanggar. Agama dibuat terkesan sangat mudah dan ringan. hal-hal yang wajib tidak dilakukan.

“Keringanan-keringanan ya­ng ditawarkan biasanya mampu membuat mereka yang diajak bergabung menjadi tertarik me­ngi­kuti,” kata dia.

Disampaikan juga, Islam me­mang bukan agama yang mem­beratkan namun bukan berarti sesuatu yang wajib dilaksanakan bisa ditinggalkan begitu saja.

Untuk mereka yang terbukti menyimpang, Kemenag akan mem­beri pembinaan dan menga­rahkan kembali ke jalan yang lurus. Jika menolak untuk diberi pembinaan kelompok yang ada bisa dilaporkan ke hukum pidana dengan tuduhan telah me­leceh­kan agama.

Untuk mencegah ber­kem­bang­nya ajaran menyimpang ini, saat-saat tertentu pihaknya turun ke masyarakat guna mela­kukan so­sia­lisasi. Pada masya­rakat akan di­sam­paikan pen­ting­nya me­was­padai dan meng­hin­dari ajaran menyimpang.

Tak hanya itu, di setiap kabu­paten/kota telah tersedia Forum Kerukunan Umat Beragama (FK­UB). Forum ini bekerja meman­tau  setiap ajaran yang berkembang di daerah.

“Jika ada yang terindikasi menyimpang mereka akan men­yam­paikan pada kami, sebab dalam menjalankan fungsinya FKUB bekerjasama dengan Ke­menag,” pungkas Rifki. (h/len)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]