(Tanggapan Atas Tulisan Holy Adib)

Memang, Pemrosesan yang Betul


Sabtu, 23 April 2016 - 04:16:50 WIB
Memang, Pemrosesan yang Betul

Saya awali tulisan ini dengan jujur: saya bukan pakar bahasa Indonesia. Tetapi, saya adalah lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unimed. Boleh dikatakan, setiap harinya, saya selalu mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa-siswa.

Maksud saya mengu­ta­rakan ini, saya tidak hendak menghakimi Saudara Holy Adib meski tulisan ini berawal dari selentingan beliau yang dimuat di harian ini dengan tajuknya “Mengupas Tuntas Hukum Peluluhan Konsonan (Haluan, 14 April 2016)

Saya menuliskan ini, ka­rena setidaknya menurut pe­mahaman saya, apa yang di­utarakan oleh Holy Adib keliru. Beliau mengawali tulisannya dengan ke­ge­lisa­hannya melihat UPTD Tem­pat Pemrosesan Akhir. Kata beliau, pemrosesan adalah kata yang salah. Dasar ber­pikir yang beliau sodorkan adalah bahwa imbuhan me (juga pe) jika jumpa dengan kata dasar berhuruf awal k, t, s, p, huruf tersebut akan meluluh. Misalnya, me di­tambahkan dengan kata ku­pas, tunjuk, sapu, pesona akan berubah menjadi mengupas, menunjuk, menyapu, dan memesona.

Beda halnya dengan kata dasar berawal huruf k, t, s, p yang jumpa langsung dengan huruf konsonan. Ke­em­pat huruf tadi tidak hilang. Con­toh, me di­tam­bah­­­kan de­ngan kritik, traktir, stimulus, dan protes akan tetap menjadi mengkritik, mentraktir, men­stimulasi, dan memprotes. Saya tidak mau berteori. Saya sampaikan saja dengan baha­sa sederhana saja bahwa itu dilakukan agar lidah kita tidak keseleo mengu­cap­kan­nya. Kan, tidak enak menga­takan mempukul dan men­raktir? Ya, imbuhan me dan pe memang mempunya relasi yang sangat dekat. Begitu juga dengan ber dan per.

Maka itu, huruf k pada kata mengkritik dan pengkritik tidak hilang. Demikian juga dengan keempat huruf lain­nya. Akan tetapi, ada yang spesial dengan kata berhuruf awal p jika itu dilekati imbu­han pe. Misalnya, jika pe ditambahkan dengan kata proses bukan menjadi pem­proses seperti yang berlaku pada pe dengan kritik jadi pengkritik. Pe dengan proses akan menjadi pemroses. Tu­juan­nya adalah “menghemat” satu bunyi p. Begitu juga dengan kata lainnya. Maka yang benar jika pe jumpa dengan kata prakarsa, pro­duksi, dan protes adalah pem­rakarsa, pemroduksi, dan pemrotes.

Proses afiksasi seperti ini boleh diserupakan dengan imbuhan ber yang berjumpa dengan kata dasar bersuku kata awal kata er (setelah huruf pertama). Contoh, ber ditambahkan dengan kata giat, lari, napas akan meng­hasilkan kata bergiat, berlari, dan bernapas. Tetapi, beda perlakuannya pada kata cer­min dan kerja. Imbuhan ber ditambahkan dengan kata cermin dan kerja akan meng­hasilkan kata becermin dan bekerja. Ini terjadi—biar saya sampaikan dengan bahasa sederhana—adalah agar lidah kita tidak kesusahan mengu­langi bunyi er.

Akan tetapi, tidak semua kata dasar bersuku awal er (setelah huruf pertama) hi­lang. Meski kata teriak dan terima bersuku awal (t)er, jika ditambahkan dengan prefiks ber akan menghasilkan kata berteriak dan berterima, bu­kan beteriak dan beterima. Mengapa ini dibedakan de­ngan kata cermin dan kerja tadi? Sekali lagi, ini demi keharmonisan bunyi. Dan, jika kita cermat, setelah bunyi er pada kata cermin dan kerja tadi adalah huruf konsonan. Adapun setelah kata teriak dan terima adalah vokal. Kurang le­bih, itulah terjadi pada kata mengapa tepercaya yang benar, bukan terpercaya.

Memang, bahasa kita agak­nya terlalu ba­nyak atu­ran. Itu juga yang sering saya dengar dikeluhkan oleh siswa. Kata mereka lagi, berbahasa itu sudah selesai ketika pesan sudah tersampaikan. Sekilas itu benar karena memang, hakikat bahasa adalah me­ngantarkan pesan. Dan, baha­sa itu akan disebut berhasil jika pesan itu dapat dicerna dengan makna yang sama oleh pemberi dan penerima in­formasi. Bahasa hukum akan lebih elok lagi. Bahasa (di­plomasi) akan dikatakan sele­sai bukan semata ketika me­reka (pemberi dan penerima) paham, melainkan ketika yang dipahami itu disepakati.

Ya, saya mengerti bahwa bahasa kita memang mem­punyai (mengapa mem­pu­nyai, padahal me jumpa de­ngan kata punya? Silakan baca tulisan Holy Adib sebe­lum­nya, di sana sudah cukup terang dibeberkan) aturan yang sangat banyak. Bukan hanya bunyi, tanda-tanda bahkan jenis huruf pun diatur. Tetapi, inilah yang menan­dakan bahwa bahasa itu ada­lah keteraturan, bukan kese­mena-menaan. Bayangkan jika bahasa tanpa aturan? Apa yang menjadi acuan kita?

Dan, memang, bahasa itu harus punya aturan bukan semata agar teratur. Tetapi, agar para pencinta bahasa kelak dapat meng­kaji ba­ha­sa dengan baik dan punya tolok ukur yang terukur. Ten­tang kata mengkaji pada ka­limat sebelum ini juga sudah dite­rangkan oleh Holy Adib. Te­tapi, biar saya sederhanakan (agar tidak rumit). Jika mak­sud kata kaji yang dikaji ada­lah ayat Alquran, huruf k pada kata itu akan luluh. Maka, lahirlah kata mengaji dan pengajian. Tetapi, jika yang dikaji adalah lebih bersifat ilmiah, huruf k pada kata itu tidah diluluhkan.

Mengakhiri tulisan ini, saya mau menegaskan bahwa kata yang betul adalah pem­rosesan, bukan pemprosesan. Dan, jujur saja, saya menaruh hor­mat pada Holy Adib dan sa­ngat tertarik pada usulnya su­paya kita menambahkan tu­runan kata. Turunan kata itu, misalnya, serupa dengan me­nga­pa ada kata petinju-pe­nin­ju, petembak-penem­bak, dan petambak-penam­bak, tetapi ki­ta masih tak pu­nya kata petulis, petari, dan se­bagainya dan sebagainya? Dan, jika maksudnya adalah pe­tinju, petembak, dan pe­tam­­bak agaknya lebih profe­sio­nal daripada peninju, pe­nem­­bak, dan penambak, me­nga­pa per­lakuan yang sama ti­dak terjadi pada kata peta­tar-penatar dan pesuruh-penyu­ruh?

Mudah-mudahan para pa­kar bahasa kita memper­ha­tikan ini. Bukan agar bahasa kita banyak atu­ran, me­lain­kan agar ba­hasa kita pu­nya aturan. ***

 

RIDUAN SITUMORANG
(Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]