Uang Tak Layak Edar

Sehari, BI Musnahkan Rp20 Miliar


Senin, 25 April 2016 - 03:16:09 WIB
Sehari, BI Musnahkan Rp20 Miliar Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari Hendri bersama peserta Seminar Sortasi Uang Kartal dan Sosialisasi Ciri Keaslian Rupiah yang diadakan Bank Nagari di Hotel Grand Inna Muara, Sabtu (23/4).

PADANG, HALUAN — Aliran uang masuk ke Sumatera Barat (Sumbar) dalam setahun mencapai Rp12 Triliun, sedangkan uang keluar sebanyak Rp7 Triliun.

Namun demikian, di Sum­bar masih banyak dite­mukan jumlah uang tak layak edar (UTLE). Per harinya Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Pro­vinsi Sumbar memusnahkan Rp20 Miliar UTLE .

Demikian terungkap da­lam “Seminar Sortasi Uang Kartal dan Sosialisasi Ciri Keaslian Rupiah” yang di­adakan Bank Nagari di Ho­tel Grand Inna Muara, Sab­tu (23/4).

Kegiatan itu dibuka oleh Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari Hendri yang dihadiri juga oleh Kepala KPBI Sumbar Puji Atmoko dan diikuti oleh seluruh perwakilan kantor cabang Bank Nagari.

Ismidul Ainain, Mana­ger Unit Distribusi Uang La­yanan dan Administrasi Kas KPBI Sumbar menga­ta­kan, BI fokus bagaimana agar uang yang  beredar di ma­syarakat, layak kondisi­nya.

Kriteria UTLE, katanya, sudah lusuh, kusam, ter­da­pat bekas lipatan, ada bekas stapler, terdapat coretan, robek kemudian disambung dengan selotip, dan lainnya.

“Hari ini kami mem­berikan pelatihan kepada karyawan Bank Nagari di semua cabang, bagaimana cara menyortir uang yang masuk ke bank dengan stan­dar kelusuhan yang sama. Dengan pelatihan ini, kami berharap semua karyawan Bank Nagari akan mempu­nyai pola pikir yang sama dalam hal standar level kelu­suhan yang kami bagi level­nya menjadi 1-16,” jabarnya.

Ia menambahkan, untuk pecahan uang Rp50 ribu dan Rp100 ribu, uang yang dika­takan layak edar adalah level 8 ke atas. Sedangkan untuk pecahan kecil, uang disebut layak jika levelnya 6 ke atas.

“Antara kasir yang satu dan lainnya, pastinya beda per­sepsi. Untuk itulah pela­tihan ini kami adakan hing­ga nantinya persepsinya sa­ma dengan demikian uang yang keluar dari Bank Na­ga­­ri bisa lebih baik,” tutur­nya.

Ia menyebutkan, saat ini untuk uang pecahan besar, dari 100 persen uang bere­dar, 30 persennya berada di bawah level 6. Sementara itu untuk pecahan kecil, 40 persennya dari uang beredar berada di bawah level 8.

Biasanya perbankan akan menyetor uang lusuh ke BI, untuk selanjutnya BI akan menggantinya de­ngan uang baru begitu bank itu me­lakukan pe­narikan kem­bali.

Kepada masyarakat di Sumatera Barat, Bank In­do­nesia mengimbau agar me­ningkatkan kesadaran da­lam memperlakukan uang tunai secara baik agar kon­disi uang tetap layak edar.

Pemusnahan uang tidak layak edar, katanya, akan rutin dilakukan oleh BI agar uang yang beredar di ma­syarakat tetap layak.

Selain itu dengan mem­­­perlakukan uang se­cara baik akan mem­per­panjang usia edar uang dan mengurangi besarnya volume uang tak layak serta meminimalkan biaya percetakan uang baru.

“Kalau masyarakat pu­nya uang dolar pasti dirawat dengan baik, seharusnya memperlakukan rupiah juga demikian karena uang nega­r­a sendiri. Jadi sayangi ru­piah dan perlakukan dengan baik agar kondisinya tetap layak,” tuturnya.

Sementara itu jika per­bankan dalam transaksinya menerima uang palsu, upal itu akan dilaporkan ke BI untuk dicatat, selanjutnya dimusnahkan, namun tak diganti.

“Upal itu tak akan di­gan­ti oleh bank atau pun BI. Oleh karena itu, ketika dite­mukan uang palsu yang rugi adalah masyarakat. Maka­nya masyarakat harus lebih jeli dengan upal. Jika tak dimusnahkan dan upal itu dikembalikan lagi oleh bank kepada masyarakat, bisa merugikan masyarakat se­bab saat dibelanjakannya, ia bisa dituding sebagai pe­ngedar upal dan dihukum,” imbuhnya. (h/ita/atv)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]