Anak dan Orang Tua


Senin, 25 April 2016 - 03:18:37 WIB

Pemberitaan Harian Haluan hari ini melaporkan dua kisah suram soal anak. Berita pertama adalah tentang anak yang tewas karena kecelakaan lalu lintas saat sepeda motor yang ia kendarai, bertabrakan dengan minibus. Lalu, yang fenomenal adalah ketika acara perpisahan siswa Kelas III SMA 3 di Hotel Bumi Minang berbuah pro dan kontra.

Semua mungkin beranjak dengan kasih sayang. Kita harus yakini itu bahwa anak akan selalu mendapat limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun, kasih sayang itu tentunya tak harus menu­ruti semua kemauan anak. Peristiwa ke­celakaan di Mata Air itulah contohnya. Ka­rena sayang dan tak ingin anaknya bersedih, orang tua menuruti saja apa mau si anak yang ingin menggunakan sepeda motor.

Padahal, si anak baru duduk di bangku ke­las VI SD. Ntah bagaimana mungkin, se­orang anak yang tergolong belia bisa melaju dengan baik di jalanan umum, sementara se­bagian dewasa saja masih banyak yang ber­masalah jika harus patuh dengan aturan ber­lalu lintas. Tapi, sekali lagi, tanpa men­jastifikasi sang orang tua, kita yakini izin yang diberikan dengan membe­rikan kunci, karena sayang, karna anaknya harus senang, dan lainnya. Namanya juga untuk anak. Namun, ini kebablasan. Emosi labil serta kemampuan berlalu lintas yang baik tak bisa diterjemahkan dengan baik oleh si anak.

Kepolisian, sudah mencanangkan gera­kan Kamseltibcar Lantas (keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas). Artinya, faktor keselamatan menjadi faktor penting dalam berlalu lintas. Bahkan di banyak sosisalisasi, hal ini selalu didengung-dengungkan. Targetnya tentu mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, terutama yang berakibat kematian.

Artinya, jika dihubungkan dengan kasih sayang, tak selamanya menuruti kemauan anak adalah jalan yang benar untuk meujud­kannya. Menolak permintaan anak agar mereka tak celaka, adalah sebuah rasa sayang yang tentunya belum akan dipahami si anak, tapi harus dilakukan orang tua.

Terkait dengan polemik malam perpi­sahan siswa SMA 3 Padang-pun agaknya tak lepas dari peran orang tua. Pesta perpisahan sekolah, sebenarnya sebuah tradisi turun-menurun, bukan kali ini saja. Namun, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan pola. Biasanya, di era 90-an, pesta perpi­sahan diwarnai dengan berbagai kegiatan kesenian dan penampilan bakat di hall ataupun jalan-jalan ke tempat wisata.

Tapi, pola yang dilaksanakan siswa SMA 3 Padang kali ini termasuk baru di Padang. Ter­lepas benar atau tidaknya ada yang man­di bareng hingga kegiatan menyimpang lain­nya, kegiatan yang dilaksanakan di hotel, ter­golong baru. Untung ada orang tua yang ikut mengawasi.

Di sinilah hubungan yang baik dikem­bang­kan oleh anak dan orang tua. Jika si anak masih di bawah umur dan belum ter­kategorikan remaja, peran orang tua men­jadi mutlak anak. Namun, di saat mereka sudah beranjak remaja, hubungan orang tua dan anak hendaknya mulai beranjak ke hubungan saling menjaga kepercayaan.

Menumbuhkembangkan rasa keper­cayaan tadi, tak sekedar membalik telapak tangan. Lingkungan sekitar ikut mempe­ngaruhi dan memungkinkan saja, bisa terjadi hal menyimpang atas ajaran, norma dan hukum oleh si anak. Tarikan dari lingku­ngan yang bisa saja mendorong ke arah negatif, akan dihadang oleh anak melalui sebuah hubungan positif dalam lingkungan keluarga, salah satunya dengan sikap menjaga kepercayaan yang diberikan orang tua. Jika saja si anak berulah, termasuk dalam pesta perpisahan, maka keper­cayaannya dari orang tua bisa luntur. Jadi, berikanlah informasi positif terhadap anak agar mereka bisa memfilter fenomena yang berkembang. (*)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]