(Tanggapan Atas Tulisan Riduan Situmorang)

Mempertanyakan Dalil Luluhnya P pada Pemprosesan


Senin, 25 April 2016 - 03:20:26 WIB
Mempertanyakan Dalil Luluhnya P pada Pemprosesan

Riduan Situmorang dalam opininya “Dan Memang, Pemrosesan yang Betul” (Haluan, 23 April 2016), menanggapi tulisan saya “Mengupas Tuntas Hukum Peluluhan Konsonan” (Haluan, 14 April 2016).

Dalam tanggapannya, sar­jana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Medan itu mengatakan, saya keliru menyatakan pem­ro­sesan sebagai bentuk kata yang salah. Menurutnya, pem­rosesan adalah bentuk yang benar.

Riduan yang katanya Kon­sultan Bahasa di Prosus Inten Medan itu menuturkan, pem­rosesan adalah bentuk yang benar karena ada yang spesial dengan kata berhuruf awal p jika itu dilekati imbuhan pe. “Misalnya, jika pe ditam­bahkan dengan kata proses bukan menjadi pemproses seperti yang berlaku pada pe dengan kritik jadi pengkritik. Pe dengan proses akan menja­di pemroses. Tujuannya ada­lah “menghemat” satu bunyi p. Begitu juga dengan kata lainnya. Maka yang benar jika pe jumpa dengan kata pra­karsa, produksi, dan protes adalah pemrakarsa, pem­roduksi, dan pemrotes.” Demikian ditulis Riduan.

Riduan tak men­can­tum­kan dasar apa pun saat me­nyebut pe dengan proses akan menjadi pemroses, yang ber­tu­juan “menghemat” satu bunyi p. Dia mengatakan hal itu berdasarkan pendapatnya sendiri tanpa dukungan dalil.

Melalui opini ini, saya ingin menyampaikan, saya tetap pada pendirian saya bahwa pemrosesan, termasuk pemrakarsa, pemroduksi, dan pemrotes adalah kata yang menabrak kaidah peluluhan. Saya hanya mengikuti aturan peluluhan konsonan seperti yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KB­BI). Dalam kamus tersebut dinyatakan, apabila awalan me- bertemu kata dasar yang diawali dengan konsonan k, p, s, dan t yang huruf keduanya adalah huruf vokal, konsonan di depan kata dasar tersebut luluh. Misalnya, me- berte­mu pagar menjadi mema­gar. Kemudian, apabila ala­wan me- berjumpa kata dasar yang dimulai dengan kon­sonan k, p, s, dan t yang huruf keduanya adalah konsonan, konsonan di muka kata dasar itu tidak luluh. Contohnya, me- berjumpa produksi men­ja­di memproduksi. Aturan tersebut juga berlaku terhadap awalan pe-. Rumus yang se­derhana untuk kita pahami, bukan? 

Saya memiliki alasan yang jelas untuk menolak bentuk pemrosesan. Sementara Ri­duan menyatakan pemrosesan sebagai bentuk yang benar berdasarkan perasaan atau dugaannya. Dalam paragraf lain dalam opini tanggapan itu dia mengatakan bahwa kritik, traktir, stimulus, dan protes tetap men­jadi meng­kri­tik, mentraktir, men­sti­mulasi, dan memprotes, de­ngan alasan agar lidah kita tidak keseleo mengu­cap­kan­nya. “Kan, tidak enak menga­takan mempukul dan men­raktir?”Begitu katanya. Lagi-lagi dia menggunakan pera­saan untuk menjelaskan sesua­tu yang punya aturan. Mung­kin dia mengira aturan ber­bahasa adalah prakiraan cua­ca yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Saya tidak peduli siapa pun menulis apa pun asalkan dia memiliki alasan ber­da­sarkan aturan untuk me­nya­takan sesuatu. Seandainya ada pakar bahasa yang menya­takan bahwa pemrosesan itu bentuk yang benar, saya tetap menolaknya apabila dia tidak punya dasar yang jelas.

Saya tetap menolak bentuk pemrosesan meski pem­rose­san terdapat dalam KBBI bersama kata pemrakarsa, pemroduksi, dan pemrotes. Saya menolak karena KBBI adalah kamus yang labil. KBBI tidak bisa dijadikan acuan baku untuk menen­tukan kata yang baku atau tidak. KBBI hanyalah kum­pulan kosakata, baik yang baku dan tidak baku. Yang tidak baku pun terdapat da­­lam KB­BI. Ka­­­ta yang tidak ba­ku di­tan­dai de­­ngan tan­­da pa­nah un­tuk me­­ru­juk ke­­pada ka­ta baku.

Salah satu bukti bahwa KB­­BI bukan ru­jukan kata ba­ku, dalam KBBI banyak kosakata ragam cakapan yang diberi tanda cak. Ada ragam bahasa ca­kapan yang baku dan ada ragam bahasa cakapan yang tidak baku. Artinya, KBBI juga me­ma­sukkan kata yang tidak baku.

Contoh lain bahwa KBBI itu kamus yang labil adalah lema patroli. Kata turunannya menjadi mempatroli. Padahal, jelas bahwa p dalam patrol itu kena hukum peluluhan kon­sonan karena bertemu awalan me-. Pada kata lain yang mirip dengan patroli, misal­nya patri. KBBI menjadikan kata turunan patri menjadi me­matri setelah bertemu awa­­­lan me-. Kamus yang ti­dak jelas, bukan?

Lalu, apa acuan kosakata baku? Seharusnya ada kamus kosakata baku. Tapi kamu seperti itu, kalau saya tidak salah, belum ada di Indonesia. Untuk sementara, menurut saya, acuan kata baku dalam kasus seperti peluluhan ini adalah aturan bahasa.

Saya ingin menambah referensi saya terkait peno­lakan saya terhadap bentuk pemroresan. Menurut bebe­rapa sumber, kata yang diserap dari bahasa asing tidak menga­lami peluluhan. Menurut sa­ya, aturan ini tidak bisa dipa­kai karena akan menyulitkan pengguna bahasa dalam mela­kukan peluluhan. Haruskah kita mengetahui asal-usul kata sebelum memutuskan untuk meluluhkan atau tidak melu­luhkan sebuah kata? Kalau pun menggunakan aturan ini, la­gi-lagi saya diuntungkan karena proses adalah kata serapan dari bahasa Inggris. Proses berasal dari kata pro­cess (bahasa Inggris).

Kemudian, kalau alasan mempertahankan pemro­se­san, pemrakarsa, pemro­duksi, dan pemrotes itu karena pe­nge­cualian, bahasa Indonesia akan sulit dipelajari oleh orang luar karena terlalu banyak pengecualian. Pada­hal, Pemerintahan Indonesia berkeinginan bahasa Indone­sia menjadi bahasa pengantar di ASEAN, bahkan dunia.  

Satu lagi, kalau alasan mem­pertahankan pemro­se­san itu karena kata itu sudah la­ma dan terbiasa dipakai da­lam bahasa Indonesia, ti­dak ma­salah, karena saya me­nolak berdasarkan aturan. Ka­lau mau memakai kata itu da­lam lisan maupun tulisan, sila­kan. Yang jelas, berda­sar­kan atu­rannya, kata itu tidak be­­nar. 

Sebagai tambahan, saya mem­buka kasus pemrosesan ini di surat kabar karena dari be­berapa referensi yang saya ba­ca, saya tidak menemukan ala­san luluhnya p pada kata pem­prosesan tersebut. Alasan yang saya temukan adalah pe­ngecualian. Itu saja. Kalau ha­rus dengan cara seperti ini sa­ya mendapatkan jawaban atas persoalan itu, apa boleh buat, saya akan menerima akibat­nya.

Saya menyambut baik tanggapan tulisan Riduan Situmorang. Bersama opini ini, saya mengundang para pakar bahasa untuk men­jelaskan persoalan ini. Kalau nanti ada pakar yang men­jelaskan de­ngan aturan bah­wa pemrosesan itu bentuk yang benar, saya akan me­ne­rima ke­pu­tusan itu. (*)

 

HOLY ADIB
(Wartawan dan pengamat bahasa indonesia)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]