Aktivitas Galian C Mengkhawatirkan

Nagari Koto Laweh Terancam Terisolasi


Selasa, 26 April 2016 - 02:54:27 WIB
Nagari Koto Laweh Terancam Terisolasi Aktivitas galian C di Nagari Guguak Sarai kec. IX Koto Sungai Lasi membuat ruas jalan utama menuju nagari Koto Laweh terancam longsor dan terputus. (YUTIS WANDI)

SUNGAI LASI, HALUAN—Diduga akibat maraknya aktivitas penambangan bahan Galian C di Nagari Koto Laweh, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, mengakibatkan jalan satu-satunya yang bisa ditempuh kendaraan oleh warga terancam longsor dan amblas.

Kondisi ini jelas akan membuat ratusan masya­rakat setempat terancam terisolasi, jika tidak segera diatasi.

Pantauan Haluan, untuk menuju Nagari Koto Laweh yang berada di areal perbu­kitan, masyarakat harus melewati terlebih dahulu Nagari Guguek Sarai yang tepat berada di kaki bukit. Namun terlihat aktifitas penambangan bahan galian C yang dilakukan oleh salah seorang warga Guguek Sarai mengancam keberadaan jalan utama yang bisa dilalui warga untuk mencapai na­gari Koto Laweh.

Bahkan jarak bibir jalan dengan jurang tempat peng­galian hanya tersisa lebih kurang 1 meter saja.

Selain berpotensi am­blas, masya­rakat juga was- was melewati titik tersebut karena kalau tidak hati hati jurang seda­lam belasan me­ter bisa me­reng­gut nyawa masyarakat yang berkendara. Nagari Koto Laweh sendiri saat ini dihuni oleh lebih kurang 104 kepala keluarga atau de­ngan jumlah penduduk men­capai 480 orang.

Walinagari Koto Laweh Hasan Basri menyebutkan, ruas jalan sepanjang lebih kurang 3,8 kilometer ter­sebut merupakan urat nadi perekonomian warga. Jika jalan tersebut terputus maka aktivitas ekonomi juga akan terputus,” kata Basri, Sabtu (23/4).

Menurutnya, berbagai upaya sudah dilakukannya bersama warga agar akti­vitas penambangan bisa dijauhkan dari areal jalan. Namun pemilik areal tam­bang bersikukuh untuk tetap melakukan penambangan dekat dengan badan jalan karena lahan tersebut meru­pakan milik kaumnya. “ Dulu jalan ini memang jalan setapak namun dibangun sebagai jalan kabupaten pada tahun 1996, jika tidak ada izin dari ninik mamak pemilik lahan dulunya tentu tidak akan dibangun seperti sekarang ini,” ungkap Ha­san Basri.

Pihaknya bahkan me­nga­ku bingung bagaimana mencari jalan keluar per­soalan tersebut. Sebagai pemerintah Nagari berbagai macam cara telah dila­ku­kan, dengan harapan tidak ada perselisihan yang beru­jung pada pertikaian dan sengketa dengan pemilik areal tambang.

Sementara itu, Camat IX Koto Sungai Lasi Efri­yadi saat dijumpai di Nagari Koto laweh mengatakan pihaknya telah berusaha mencari solusi persoalan tersebut dengan mendatangi pihak dinas pertambangan Kabupaten Solok satu tahun silam. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan nasib urat nadi Nagari Koto Laweh tersebut.

“Memang ada orang d­i­nas per­tam­bangan yang tu­run ke lokasi namun tanpa koordinasi dengan pemerin­tahan se­tempat jadi kami tidak tahu duduk perso­alannya,” te­rang Efriyadi.

Dalam waktu dekat, pi­hak­nya akan menyampaikan persoalan ini kepada Pem­kab Solok agar ada solusi terbaik dari kondisi ini. “Kita berharap ini akan menjadi perhatian kepala daerah nantinya agar tidak menimbulkan perselisihan dan merugikan kedua belah pihak, baik masyarakat mau­pun pemilik tanah ulayat,” katanya. (h/ndi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]