Agar Pustaka tak Merana


Rabu, 27 April 2016 - 03:04:18 WIB

Perkembangan sarana tele­ko­munikasi beberapa tahun terakhir meningkat tajam. Peng­­­gunanya, tak hanya di level dewasa, juga melibatkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Eforia ini tak terbendung.

Sarana komunikasi yang kon­tennya terdapat jaringan internet, bermaterikan banyak hal. Jika negatif aplikasinya, maka hasilnya banyak terserap oleh mereka yang seharunya belum layak membaca. Namun, di sisi lain, jika saja penggunaannya diper­kuat untuk sistem kerja, baik orga­nisasi maupun pribadi, banyak man­faat yang akan diperoleh.

Akibat perkembangan itu, perpus­takaan mulai ditinggalkan. Aset pustaka berupa buku yang menjadi kebutuhan, seperti sia-sia karena sudah terganti karena sudah diting­galkan oleh penikmat, sekaligus peminat. Pustaka, kini nyaris tak tersebut dalam perbincangan umum, kecuali di ruang akademis seperti di kampus dan sekolah saja.

Secara pengertian, banyak penda­pat mengenai pengertian bahan ba­caan dan bahan pustaka. Masing – masing pengertian mempunyai per­spektif sendiri – sendiri. Kedua istilah ini terdiri dari 2 suku kata, yaitu bahan dan bacaan, serta bahan dan pustaka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Bahan diartikan segala sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu. Sedangkan bacaan me­miliki arti buku dan sebagainya.

Menurut UU Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, mem­berikan pengertian bahwa bahan perpus­takaan atau bahan pustaka adalah semua hasil karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam. Sedang­kan menurut qosim (2006:3) mem­berikan pengertian bahwa bahan pustaka adalah dokumen yang me­muat informasi pengetahuan ilmiah dengan tujuan penciptaannya untuk kegiatan kultural dan pendidikan.

Pustaka ini sebenarnya banyak fung­sinya, seperti mengkaji sejarah perma­salahan, membantu pemilihan prosedur penelitian, mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan, mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu, menghindari duplikasi pe­nelitian, hingga menunjang perumu­san permasalahan.

Karenanya, langkah inovasi de­ngan mengadopsi teknologi informasi itu sendiri diharap bisa mengem­balikan masa-masa dimana pustaka menjadi tujuan, masa dimana pustaka pilihan pertama untuk mencari refe­rensi dan informasi. Namun, inovasi tak cukup jika tak diiringi dengan komitmen yang lebih komprehensif, sehing­ga budaya berpustaka bisa memberikan warna untuk generasi baru. (*)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 21 September 2019 - 01:17:45 WIB

    Kecamatan Koto Baru Akan Gelar Shalat Istisqa Serentak Seluruh Nagari

    Kecamatan Koto Baru Akan Gelar Shalat Istisqa Serentak Seluruh Nagari DHARMASRAYA, HARIANHALUAN.COM –Camat Koto Baru Berlian Oemar dimana wilayahnya merupakan salah satu wilayah terdekat dengan Provinsi Jambi, tanggap dengan mengadakan rapat koordinasi bersama Forkopimcam, terkait kebakaran h.
  • Ahad, 21 Juli 2019 - 21:38:50 WIB

    Opitimisme Pengelolaan Bersama Hutan Nagari di Sumpur Kudus

    Opitimisme Pengelolaan Bersama Hutan Nagari di Sumpur Kudus SIJUNJUNG,HARIANHALUAN.COM-Pasca ditanda tanganinya kesepahaman bersama enam nagari di kluster Sumpur Kudus untuk Pengelolaan Hutan secara bersama pada bulan Maret lalu, dinamika dalam pengelolaan bersama hutan memasuki tahap.
  • Selasa, 11 Juli 2017 - 10:41:52 WIB

    Menjadikan Nagari sebagai Lembaga Koperasi Syariah

    Menjadikan Nagari sebagai Lembaga Koperasi Syariah Dalam mempersiapkan masa depan yang penuh tantangan, di mana kelompok konglomerat dan kapitalis asing lainnya makin menguasai ekonomi Indonesia di semua bidang dan lapisan usaha, dari hulu sampai ke muara, baik di darat, laut.
  • Kamis, 22 Juni 2017 - 00:23:40 WIB
    Catatan Ringan Bhenz Maharajo

    Agar Pulang tak Sekadar Pulang

    Agar Pulang tak Sekadar Pulang Pulang kampung saat lebaran akan menjadi kuncup kenangan paling wangi di antara bertangkai ingatan lain, sebelum pada akhirnya waktu akan tetap membuatnya layu dan pasi. Maka, selamatkanlah kepulangan yang satu itu, menjelang.
  • Sabtu, 12 November 2016 - 19:57:30 WIB

    Mengujungi Nagari yang Pernah Menjadi Pusat Negara Masa PDRI

    Mengujungi Nagari yang Pernah Menjadi Pusat Negara Masa PDRI Hawa dingin dan sejuk begitulah yang terasa pertama kali ketika akan memasuki Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh. Suhu di utara Kabupaten Limapuluh Kota itu, berbeda dengan suhu di kecamatan lainnya didaerah penghasil.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]