Kisruh Kopanbapel


Kamis, 28 April 2016 - 04:26:01 WIB
Kisruh Kopanbapel

Ketika kondisi koperasi dalam keadaan sulit, modal terbatas, tunggakan membengkak, kegiatan usaha tersendat, minim peminat untuk menjadi pengurus. Akan tetapi, kalau koperasi sudah mulai berkembang, modal dan aset relatif besar, banyak yang ingin menjadi pengurus.

Begitulah realitanya, pa­ling tidak yang terjadi di Sumatera Barat. Kejadian terbaru terjadi pada Koperasi Angkutan Barang Pelabuhan (Kopanbapel) Teluk Bayur Padang. Tatkala Kopanbapel terseok-seok, akhirnya se­karat, tak menarik bagi ba­nyak orang untuk menjadi pengurus.

Kopanbapel dibentuk akhir tahun 1991,  atas ini­siatif dari  kalangan pengu­saha EMKL diwakili oleh M. Yu­nus (kini almarhum), Ad­ministrator Pelabuhan (Ad­pel) P. Siahaan,  Kepala PT Pelindo II Cabang Teluk Ba­yur Ngadiman Bachtiar, Ke­tua Asosiasi Perusahaan Bong­kar Muat (APBMI) Awang Subar­nas dan Ketua Persatuan Pela­yaran Niaga  (INSA)  Capt. Chamrul. Keli­ma orang ini sepakat mem­bentuk Kopan­bapel, dan mem­peroleh badan hukum lima bulan kemudian, dengan No: 2060XVII, tanggal 10 April 1992.

Awal pembentukan, dike­tu­ai oleh Eri Nurdi Per­ma­ta,S.H., beranggotakan se­kitar  90 orang, me­ngerahkan tak labih dari 70 unit truk. Hubu­ngan dengan berbagai pihak terkait terjalin erat dan har­mo­nis.

Ha­nya bertahan 4 tahun, kemu­dian kandas. Kondisi seperti itu, banyak yang eng­gan menjadi pengurus. Un­tung Syafriman BK, dengan kerendahan hati bersedia menjadi ketua, meski keseha­raian sangat sibuk mengurus perusahaan bergerak di bi­dang pelayaran dan bongkar muat pelabuhan. Dan Syafri­zal (Bujang) sebagai wakil sekretaris.

Dengan pengurus baru pa­da 1996, koperasi tak punya mo­dal, baik berupa simpanan wa­jib maupun simpanan po­kok. Untuk menjalankan usa­ha angkutan barang pela­bu­han, modal operasional ko­pe­rasi dipinjam dari pihak ketiga de­ngan bunga 3 persen per bu­lan selama setahun. Dua ta­hun kemudian, Syafri­zal di­ang­kat pengurus menja­di ma­na­ger Kopanbapel. Me­narik­nya, sim­panan wajib dan sim­pa­nan po­kok anggota di­am­bil­kan dari sisa hasil usaha (SHU) diperoleh kope­rasi, ber­lang­sung hingga tahun 2004. Sete­lah itu, Syafrizal ter­pilih men­jadi ketua  pe­rio­de 2004/2009, hingga tahun 2015.

Berkat kepiawaian pengu­rus dan dukungan dari ang­gota, koperasi yang berawal dari modal nol besar, berjalan lancar dan berkembang hing­ga kini, meski belum pernah menerima bantuan dari pe­me­rintah. Jumlah anggota per Desember 2015 mencapai 354 orang, mengoperasikan lebih 300 unit truk, nilai aset Rp4,39 miliar dan  SHU tahun buku 2015 sebesar Rp1,2 miliar.

Dengan kondisi yang se­ma­kin mapan, bahkan seba­gian anggota yang dulunya hanya pengemudi, kemudian telah memiliki truk satu hing­ga delapan, bahkan lebih. Itu artinya, koperasi telah mam­pu meningkatkan perekono­mian anggotanya.

Kemajuan Kopanbapel Teluk Bayur ternyata juga menimbulkan minat sebagian anggota untuk duduk dalam kepengurusan. Hal ini sesuatu yang wajar. Yang tidak patut itu, adalah yang bukan ang­gota juga berminat untuk menjadi pengurus.

Keinginan pihak “luar” untuk menjadi pengurus ter­gam­bar dalam perdebatan yang terjadi dalam lanjutan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang berlangsung di Hotel Bumi Minang, Selasa, 19 April 2016.

Seperti diberitakan Ha­luan, edisi Rabu, 20 April 2016, dengan judul “RAT Kopanbapel Macet, Kadiskop Diamankan”. Perdebatan pa­nas yang ditandai dengan caci-maki dan fitnah ditujukan kepada pejabat Dinas Kope­rasi dan UMKM Padang, tatkala hendak melakukan pemilihan pengurus baru periode 2016-2020.

Panitia dan peserta rapat sepakat, sidang dipandu oleh Harry Prautama,S.H. didam­pi­ngi Asnam dari Dinas Ko­pe­rasi dan UMKM Pa­dang. Sambil mengutip AD/ART Kopanbapel, Harry menyam­paikan kriteria calon pengu­rus dan badan pengawas yang akan dipilih, antara lain, anggota Kopanbapel, telah menjadi anggota minimal dua tahun. Saat itu muncul inte­rupsi dari Zaimundanton dan Yarlis Goa. Keduanya me­ngu­sulkan  agar  bukan aggota Kopanbapel juga bisa dica­lon­kan. Kapan perlu divoting, ka­re­na RAT merupakan kekua­saan tertinggi di koperasi.

Harry kembali menje­las­kan pemahaman RAT kekua­sa­an tertinggi, dan mene­gas­kan bahwa bukan anggota ti­dak bisa dicalonkan, sesuai de­ngan AD/ART dan UU No. 25 Tahun 1992 tentang kope­rasi.

Mendengar penjelasan Harry, kelompok Yarlis Goa kembali bereaksi dengan ber­ma­cam tudingan, bahkan ada yang menghina. Yarlis dan Zaimundanton bergantian memegang mikrophon untuk menyampaikan argu­men­tasi­nya. Harry tak tahan, lalu turun meninggalkan sidang.

Peserta RAT kembali min­­ta penjelasan kepada Ka­dis­kop dan UMKM Padang Yunisman. Kemudian dite­gaskan kembali bahwa bukan anggota tidak bisa dicalonkan  untuk menduduki pengurus. Dalam pasal 29 UU No. 25 Tahun 1992 tentang koperasi, pada butir pertama dijelaskan bahwa pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam RAT.

Kemudian, pengurus la­ma yang dianggap “gugur” oleh kelompok Yarlis Goa, masih bisa dicalonkan kem­bali. “Pengurus kan sudah dibubarkan. Mereka masih anggota. Maka, boleh saja dicalonkan. Mereka punya hak memilih dan dipilih,” jelas Yunisman.

Mendengar penjelasan itu, satu per satu anggota yang protes  bergerak mengeru­bu­ngi Yunisman, sementara mi­grophon tetap dipegang Yarlis Goa bergantian dengan Zai­mun­danton. Di antara anggo­ta, mencak-mencak, ada pula mencaci-maki, menghardik dan seorang diketahui berna­ma Kartoni menghina Yunis­man. Suasana tak lagi kondu­sif. Yunisman terdesak, lalu petugas keamanan dan pengu­rus lama segera bertindak, lalu mengamankan Yunisman ke luar ruang rapat.

Dalam kegaduhan itulah, diantara anggota yang “me­mak­sakan kehendak” itu, mengapungkan nama seorang anggota DPRD Padang yang mereka calonkan untuk men­jadi pengurus. Bahkan mereka ingin mempertemukan wakil rakyat tersebut dengan Yunis­man, alasannya hanya sekedar berdiskusi. Target mereka, figure yang mereka usung bisa menjadi pengurus. Begitulah rumitnya menghadapi orang-orang yang tak memahami koperasi. Aturan diter­jemah­kan menurut jalan pikirannya sendiri.

Jauh hari sebelum RAT dilaksanakan, kelompok Yar­lis Goa juga sudah bereaksi. Bahkan ada pula Lembaga Swadaya Masyarakat yang menyurati pengurus Kopan­bapel dengan mengemukakan berbagai persoalan. Sebe­narnya LSM tersebut tidak ada urusan dengan Kopan­bapel, karena di koperasi ada badan pengawas. Kalau ada anggota yang merasa tidak pu­as, dapat disalurkan mela­lui atu­ran yang sudah disusun da­lam AD/ART.  Lagi pula, Kopanbapel belum pernah menerima bantuan dana dari pemerintah.

Tak mempan, lalu Yarlis Goa Cs mendatangi DPRD Padang, Walikota Padang, malah pengacara. Mengutip penegasan Sekretaris Kopan­bapel Ir. Barliusin dalam RAT lanjutan, target Yarlis Goa, adalah, memenjarakan pengurus Kopanbapel yang diketuai oleh Syafrizal alias Bujang dan Bendahara Kas­mir,S.H. Ternyata, belum berhasil.

Lantas, dalam RAT me­re­ka “mati-matian” untuk me­nga­jukan seorang anggota DPRD Padang untuk menjadi pengurus, meski jalan yang ditempuh menyimpang dari aturan dan perundang-unda­ngan yang berlaku. Sebab, dalam Pasal 29 butir pertama, bahwa pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam RAT.

Barangkali, niat anggota DPRD Padang untuk menjadi pengurus ingin memajukan Kopanbapel, tetapi jalan yang ditempuh sangat keliru. Seba­gai wakil rakyat yang ingin berkiprah di koperasi, sebaik­nya dikuasai dulu regulasinya. Kalau ada simpatisan yang ingin mengusung untuk jadi pengurus, disarankan agar jalur yang ditempuh sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Karena ini erat kai­tan­nya dengan kredibilitas seorang wakil rakyat.

Saya tidak tahu, apakah anggota DPRD yang mau diapungkan segenap anggota Kopanbapel tersebut menger­ti tentang koperasi, mema­ha­mi regulasinya. Tetapi, yang jelas, Kopanbapel terguncang, sekarang tidak lagi kondusif. Tentu ada yang jadi korban, kasihan mereka. Kalau dipak­sakan juga, akan sia-sia, bagai­kan punguk rindukan bulan.

Padahal, Kopanbapel di­ben­tuk oleh para pendirinya, 15 tahun lalu, bertujuan untuk mengatasi persoalan angku­tan pelabuhan kala itu sangat semraut, tak ada kepastian tarif sesama anggota  ekspe­disi muatan kapal laut (EM­KL), pembayaran ongkos truk sering terlambat. Akibatnya, kepastian angkutan barang dari dan ke pelabuhan tak terjamin, sehingga bongkar muat kapal selalu terlambat (gantung sling). Kondisi se­per­ti itu akan membawa dam­pak buruk terhadap Teluk Bayur, yang pada gilirannya pelabuhan internasional itu terancam sepi.

Dua Kali Raih Prestasi Nasional

Perjalanan Kopanbapel juga tak luput dari rintangan. Di tahun 2003, mendapat ancaman dari salah seorang petinggi di Pelabuhan Teluk Bayur hendak membubarkan Kopanbapel. Setahun kemu­dian muncul tuduhan bahwa Ko­panbapel melakukan prak­tek monopoli dan berlanjut ke Komisi Pemberantasan Persaingan Usaha (KPPU).

Tiga komisioner KPPU yang datang ke Padang adalah M. Iqbal, selaku ketua dan Dr. Raja Pande Silalahi dan Dr. Iwantono, mantan pejabat eselon I Kementrian Kope­rasi. Saya ketika itu, kapasitas sebagai ketua Dekopinwil Sumbar menerangkan seluk-beluk kegiatan Kopanbapel, mulai dari pembentukan hing­ga kondisi terakhir.

Pertemuan saya dengan tiga komisioner KPPU itu di kampus pasca sarjana Univer­sitas Ekasakti di Jl. Bandar Purus, Padang. Berlangsung lebih satu jam. Akhirnya, ketiga komisioner KPPU paham dan memakluminya. Esok harinya, ketiganya kem­bali ke Jakarta bersama tiga orang auditornya. Sekitar 10 hari kemudian, KPPU mener­bitkan surat bahwa tidak ada praktek monopoli di Ko­panbapel Teluk Bayur.

Sekedar diketahui, Ko­pan­bapel Teluk Bayur sa­tu-satunya koperasi di Indo­nesia yang mengandel ang­kutan barang pelabuhan di Indo­nesia, dan  dua kali meraih meraih predikat “Koperasi Berprestasi tingkat Nasional” tahun 2009, dan tahun  2013.

Karena itu, Kopanbapel Teluk Bayur Padang harus diselamatkan dari kehan­curan. Maka, pihak yang bertikai dituntut untuk berji­wa besar, saling introspeksi diri yang pada gilirannya mampu menghasilkan kepu­tusan yang terbaik. Sehingga pertikaian ini dapat dijadikan titik tolak untuk melangkah lebih maju lagi di kemudian hari. Amiin. (*)

 

RUSDI BAIS
(Wartawan Dan Pemerhati Koperasi)
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 03 Februari 2016 - 03:00:26 WIB

    Menyudahi Kisruh PSSI

    Menyudahi Kisruh PSSI Pergelaran Jendral Soedirman Cup telah berlalu. Partai Puncak turnamen ini mempertemukan tim Semen Padang ‘’kabau sirah’’ dengan tim Mitra Kukar ‘’naga mekes’’ di stadion utama Gelora Bung Karno (GBK) di Jaka.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]