Di Balik Kecelakaan Maut di Baso

Bocah Kecil itu Pintar dan Juara Kelas


Kamis, 28 April 2016 - 05:05:25 WIB
Bocah Kecil itu Pintar dan Juara Kelas BANGUNAN semi permanen di Nagari Guguak, Kecamatan Guguak Kabupaten Limapuluh Kota ini merupakan bengkel yang dikelola Iswandi. Sejak peristiwa naas di Baso, Kabupaten Agam itu, bengkel servis sepeda motor itu tak lagi buka. (DADANG)

Satu korban kecelakaan di Baso, Kabupaten Agam, Rita Desyandi(38) masih terbaring di RSAM Bukittinggi. Suaminya, Iswandi(40) serta dua anak mereka, Nuzurul Azwardi Ramadhan(7) dan Natasya(5) jadi korban tewas akibat kecelakaan pada Selasa (26/4) pukul 06.40 WIB itu.

Kepergiaan sa­tu keluarga ini jelas me­nyi­sa­kan rasa sedih yang mendalam. Duka ter­sebut, tak hanya dirasakan oleh pihak keluarga saja, melainkan turut dirasakan oleh orang  dekat serta  tetangga sekitar kediaman korban di Nagari Guguak, Kecamatan Guguak Kabu­paten Limapuluh Kota.

Seperti yang dirasakan oleh Amril (50) yang tinggal bersebelahan dengan satu keluarga tersebut. Amril yang memiliki usaha jahitan di sebelah bengkel korban itu, tidak menyangka Iswandi beserta keluarga akan me­ngalami kecelakaan maut.

"Saya sendiri turut berse­dih, apalagi kedua anaknya yang masih kecil ikut meninggal du­nia,"ucap Amril. Pria paruh baya ini, terakhir kali melihat Iswandi pada Minggu (24/4) kemarin. "Saat itu, mereka berempat akan pulang kampung ke Bukittinggi, berbon­cengan dengan sepeda motor," terangnya.

Diceritakannya, korban yang akrab disapa Iwan itu, baru dua bulan menetap di Jorong Guguak, Nagari Guguak. Mereka menetap di rumah kontrakan yang berada persis di pinggir jalan Tan Malaka, tidak jauh antara perbatasan Keca­matan Payakumbuh dengan Keca­matan Guguak.

"Kesehariannya, Iwan ini ber­bengkel. Rumah yang mereka kontrak, bagian depannya dija­dikan bengkel,"ucap Amril. Di rumah kontrakan itu, Iwan   membuka usaha   tambal ban serta servis sepeda motor. 

Setiap hari, sebelum membuka bengkel, Iwan disibukkan dengan mengantar anaknya ke sekolah yang masih duduk di bangku kelas I SD. Setelah itu, kembali dari sekolah yang berjarak sekitar 1 kilometer, barulah pria tersebut membuka bengkelnya hingga pukul 20.00 Wib.

Di dalam bengkel semi perma­nen tersebut, Iwan  juga melayani jual dan ganti oli sepeda motor. Sedangkan, istri Iwan, Rita Des­yandi kesehariannya merupakan tukang jahit pakaian sekolah. "Istrinya tukang jahit dengan mengambil orderan jahitan dari Bukittinggi,"kata Amril.

Di rumah kontrak 4 kali 6 meter tersebut, di sana mereka tinggal bersama empat orang  ang­gota keluarga.  Amril  pun tidak mengetahui banyak  tentang keluar­ga Iwan. "Mereka baru dua bulan tinggal di sini, saya pun tidak tahu banyak tentang mereka. Tetapi, selama dua bulan ini mereka sangat bergaul dengan masyarakat di sini,"katanya.

Pada Minggu sebelum mereka pulang kampung, ucap Amril, bengkel  terlihat ramai diban­dingkan dari hari biasanya. Meski ramai, tetapi Iwan tidak membuka bengkel  terlalu lama seperti hari biasanya. "Ternyata, itu hari ter­akhir berbengkel. Jam 14.00 Wib beng­kel sudah tutup. Biasanya sampai jam 20.00 Wib,"ucap Amril lagi.

Setelah menutup bengkel, se­kitar pukul 15.00 Wib, Iwan beserta istri dan kedua anaknya pamit untuk pulang kampung ke Bukittinggi. "Itu terakhir saya melihat mereka. Pada Selasa (26/4) siang, saya dapat kabar mereka kecelakaan di Baso dalam perja­lanan dari Bukittinggi ke Paya­kumbuh . Iwan dan kedua anaknya tewas dilokasi kejadian,"terangnya.

Sedangkan anak korban yang masih duduk di bangku kelas I SD bernama Nazurul tersebut, meru­pakan anak yang cerdas. Menurut Kepala SD tempat ia bersekolah, bocah tersebut sempat juara 1. "Nauzul anak yang cerdas. Dia sempat juara 1 pada semester 1 lalu. Kita tidak menyangka Nauzul pergi secepat ini, padahal dia anak yang aktif juga,"ucap Kamardi Kepala SD 01 Koto Baru.

 Suasana di kediaman korban terlihat sepi, tidak ada satupun aktifitas. Bengkel sekaligus rumah korban tertutup rapat.  Sebelum menetap di Jorong Guguak, keluar­ga tersebut juga sempat tinggal di Nagari Koto Baru Simalanggang Kecamatan Payakumbuh selama 2 tahun lebih. (*)

 

Laporan: DADANG ESMANA

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 18 Oktober 2017 - 12:40:43 WIB

    Tidak Punya Uang Bayar Tagihan, Bocah Miskin Tertahan di Rumah Sakit

    Tidak Punya Uang Bayar Tagihan, Bocah Miskin Tertahan di Rumah Sakit Maksud hati merantau ke Padang untuk mencari nafkah. Sam dan Yarni yang berasal dari Sumatera Utara pun membawa serta dua anak mereka. Salah satunya si bungsu Marsha, yang seminggu setelah berkenalan dengan Kota Padang, jatuh.
  • Selasa, 08 Agustus 2017 - 09:41:29 WIB

    Madan, Kisah Duka Bocah Pejuang dari Pesisir Selatan

    Madan, Kisah Duka Bocah Pejuang dari Pesisir Selatan Mereka butuh dorongan, butuh bantuan dari para dermawan. Agar dia tidak merasa sendiri di tengah masyarakat Minang, yang sejak dulu mengagungkan kebersamaan. Bantuan itu pula yang akan menyelamatkan hidup tujuh anak Ita lainn.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]