Menteri Khofifah Setuju Renovasi Makam Mahaputra M. Yamin


Kamis, 28 April 2016 - 05:07:12 WIB
Menteri Khofifah Setuju Renovasi Makam Mahaputra M. Yamin WALIKOTA Sawahlunto Ali Yusuf menyerahkan proposal renovasi makam dan pembangunan tugu Mohammad Yamin. (HUMAS)

JAKARTA, HALUAN — Meski berlangsung singkat, perte­muan Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf dengan Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa mem­­buahkan hasil. Proposal pembangunan tugu dan reno­vasi areal Makam Mohammad Yamin, menjadi kawasan wisata religius di­setujui.

Khofifah menyambut baik keinginan Pemerintah Sawah­lunto untuk membangun tugu penerima bintang Mahaputra RI itu, sekaligus dilakukannya renovasi terhadap kawasan makam, menjadi ruang ter­bu­ka hijau.

Dalam proposal yang dise­rah­kan langsung ke tangan Menteri Khofifah, baik reno­vasi kawasan makam maupun untuk pembangunan tugu Mo­hammad Yamin, Walikota Sawahlunto Ali Yusuf me­ngajukan anggaran biaya se­besar Rp2,2 miliar.

"Alhamdulillah, gayung bersambut. Proposal yang diajukan untuk renovasi kawa­san makam dan pembangunan tugu Mohammad Yamin disetu­jui Bu Menteri," ungkap Wali­kota Sawahlunto, Ali Yusuf, Rabu (27/4).

Bagi Khofifah keberadaan Makam Mohammad Yamin me­miliki nilai sejarah yang sangat berarti. Tidak hanya bagi Sawah­lunto atau Sumatera Barat saja. Namun, nilai sejarah itu bagi Indonesia secara keseluruhan.

Apalagi, ujar Menteri kela­hiran 19 Mei 1965 itu, Mo­hammad Yamin merupakan pah­la­wan nasional yang multi talen­ta, mulai dari pejuang kemer­dekaan, politik, hukum, sastra kesenian, hingga kebudayaan, yang memberikan warna tersen­diri bagi kemajuan Indonesia.

Khofifah sangat antusias de­ngan rencana pembangunan tugu serta kawasan ruang terbuka hijau di areal Makam Mahaputra Mo­hammad Yamin itu. Bahkan, Khofifah juga merencanakan akan datang ke Sawahlunto dalam waktu dekat.

"Insya Allah, jika tidak ada aral melintang, saya akan datang ke Sawahlunto usai idul fitri nanti, dalam kegiatan Jambore Kader PKK tingkat Sumbar, yang dipusatkan di Sawahlunto," ung­kap Khofifah.

Bagi Ali Yusuf, kehadiran tugu dan renovasi Makam Maha­putra Mohammad Yamin nanti­nya, dapat menumbuhkan rasa kebangsaan dan nasionalisme di tengah masyarakat. Salah satu jalannya dengan menghargai, mengenang jasa pahlawan yang telah mempersembahkan hidup­nya demi kemajuan bangsa.

Masyarakat Sawahlunto, lan­jut Bapak tiga anak itu, dapat memulainya dengan mengenang jasa pahlawan yang ada di Sawah­lunto sendiri, yakni pahlawan nasional, putra Sawahlunto pe­raih bintang mahaputra Muham­mad Yamin.

Ali Yusuf didampingi Kepala DPPKAD Buyung Lapau dan Kepala Dinas Kesehatan Sosial, Ambun Kadri, juga mengajak seluruh masyarakat Sawahlunto terus mengenang jasa besar, yang dipersembahkan Muhammad Yamin untuk generasi saat ini.

"Hasil perjuangan dan nilai kepahlawanan yang dimiliki seorang Mohammad Yamin, sa­ngat layak untuk ditiru generasi bangsa saat ini," ungkapnya.

Mohammad Yamin dilahir­kan di Talawi, Sawahlunto pada 23 Agustus 1903. Ia merupakan putra dari pasangan Usman Ba­ginda Khatib dan Siti Saadah yang masing-masing berasal dari Sawahlunto dan Padang Panjang.

Ayahnya memiliki enam be­las anak dari lima istri, yang hampir keseluruhannya menjadi inte­lektual yang berpengaruh. Saudara-saudara Yamin antara lain, Mu­hammad Yaman, seo­rang pendi­dik, Djamaluddin Adinegoro, seorang wartawan terkemuka, dan Ramana Usman, pelopor korps diplomatik In­donesia.

Selain itu sepupunya, Mo­ham­mad Amir, juga merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan Indo­nesia. Yamin mendapatkan pen­didikan dasarnya di Hol­landsch-Inlandsche School (HIS) Palem­bang, kemudian melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yog­yakarta.

Di AMS Yogyakarta, ia mulai mempelajari sejarah purbakala dan berbagai bahasa seperti Yu­nani, Latin, dan Kaei. Namun setelah tamat, niat untuk melan­jutkan pendidikan ke Leiden, Belanda harus diurungnya dika­re­nakan ayahnya meninggal dunia.

Ia kemudian menjalani ku­liah di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, yang kelak menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia), dan berhasil mem­peroleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.

Karier politik Yamin sendiri dimulai ketika ia masih menjadi mahasiswa di Jakarta. Ketika itu ia bergabung dalam organisasi Jong Sumatranen Bond, dan menyusun ikrah Sumpah Pe­muda yang dibacakan pada Kong­res Pemuda II.

Dalam ikrar tersebut, ia mene­tapkan Bahasa Indonesia, yang berasal dari Bahasa Melayu, sebagai bahasa nasional Indo­nesia. Melalui organisasi Indone­sia Muda, Yamin mendesak supa­ya Bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat persatuan. Ke­mu­dian setelah kemerdekaan, Bahasa Indonesia menjadi bahasa res­mi serta bahasa utama dalam kesusasteraan Indonesia.

Pada tahun 1932, Yamin memperoleh gelar sarjana hu­kum. Ia kemudian bekerja dalam bidang hukum di Jakarta hingga tahun 1942. Pada tahun yang sama, Yamin tercatat sebagai anggota Partindo.

Pada tahun 1945, ia terpilih sebagai anggota Badan Penye­lidik Usaha Persiapan Kemer­dekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam sidang BPUPKI, Yamin banyak memainkan peran. Ia berpendapat agar hak asasi ma­nusia dimasukkan ke dalam konstitusi negara.

Ia juga mengusulkan agar wilayah Indonesia pasca-kemer­dekaan, mencakup Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta semua wilayah Hindia Belanda. Soekar­no yang juga merupakan anggota BPUPKI menyokong ide Yamin tersebut. Setelah kemerdekaan, Soekarno menjadi Presiden Re­publik Indonesia yang pertama, dan Yamin dilantik untuk jaba­tan-jabatan yang penting dalam pemerintahannya.

Setelah kemerdekaan, jaba­tan-jabatan yang pernah dipang­ku Yamin antara lain anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951-1952), Men­te­ri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953-1955), Men­teri Urusan Sosial dan Budaya (1959-1960), Ketua Dewan Pe­ran­cang Nasional (1962), Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962) dan Menteri Pene­rangan (1962-1963).

Pada saat menjabat sebagai Menteri Kehakiman, Yamin membebaskan tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Tanpa grasi dan re­misi, ia mengeluarkan 950 orang tahanan yang dicap komunis atau sosialis.

Atas kebijakannya itu, ia dikritik oleh banyak anggota DPR. Namun Yamin berani bertanggung jawab atas tinda­kannya tersebut. Kemudian disa­at menjabat Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan, Yamin banyak mendorong pen­dirian univesitas-universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Di antara perguruan tinggi yang ia dirikan, yakni Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat.

"Pemerintah sangat berharap, lahirnya Yamin - Yamin muda di Kota Sawahlunto ke depan, yang mampu mengangkat dan mema­jukan bangsa dan negara Indo­nesia," pungkas Ali Yusuf. (h/dil)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]