Kampung Tanjuang Durian Butuh SD


Senin, 02 Mei 2016 - 17:52:31 WIB
Kampung Tanjuang Durian Butuh SD Kabupaten Pesisir, Selatan Hardiknas

Di Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016, Kampung Tanjung Durian di Nagari Lakitan Tengah Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan, ternyata masih jauh tertinggal. Meskipun posisinya berada dipinggir Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), beberapa pemukiman penduduk di sini ternyata jauh dari pusat kampung dengan jarak tempuh mencapai berjam-jam perjalanan.

Tanjung Durian, memang masih tertinggal dari kampung lain di Pesisir Selatan. Salah satu yang membuat kampuang tersebut tertinggal adalah tidak adanya sekolah di sana. Anak-anak Tanjuang Durian harus berangkat pagi buta ke kampung lain untuk bersekolah. 

Baca Juga : Dengarkan Aspirasi Masyarakat Kudu Gantiang Barat Padang Pariaman, Leonardy Harmainy: Ancaman Hama Harus Dicarikan Jalan Keluarnya

 

Sebuah kawasan hunian tersuruk di kenagarian Lakitan Tengah Kecamatan Lengayang Pesisir Selatan tersebut bernama Hulu Air Petai (Aie Patai-sebutan setempat). Sesudah subuh datang kanak - kanak yang sedang menuntut ilmu di SD sudah harus melepas selimut. Anak anak SD di sini harus berjuang keras akibat tidak ada sekolah dikampungnya.Mereka bersekolah di kampung tetangga yakni Aie Kalam.

Baca Juga : Pekan Pertama Jadi Bupati Pasaman, Benny Utama Kebut Pembangunan 

 

Riki, siswa kelas V SD Aie Kalam adalah salah satu siswa yang harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan, tentu masih banyak yang lainnya. Generasi penerus itu berkemas-kemas untuk segera pergi berangkat ke sekolah. Orang tuanya Asna (38) mempersiapkan rantang kecil berisi pisang dan ubi rebus untuk bekal Widia dan adiknya yang harus menempuh perjalanan kaki 6,5 Km pulang pergi.

Anak - anak Hulu Aie Patai Kampung Tanjuang Durian sudah harus berangkat ke "bawah" (Aie Kalam - red) Pukul 05.30 WIB jika tidak ingin terlambat mengikuti pelajaran. Pasalnya, medan yang harus ditempuh siswa dari sini sangat berat dan menantang untuk anak anak setingkat Sekolah Dasar.

Baca Juga : Akhir Pekan Hujan Diprediksi Guyur Sejumlah Objek Wisata Sumbar 


Para orang tua murid rupanya sudah bersepakat membagi jatah piket mengantar rombongan anak anak mereka untuk bersekolah. Artinya cukup satu atau dua orang dewasa saja yang pergi mengantar kelompok anak anak itu.

Hari tersebut merupakan giliran Simon (45) dan Asna mengantar anak anak ke bawah. Lalu pada Pukul 05.30 mereka telah memulai perjalanan. Simon berada di depan dan Asna di belakang. Anak anak berseragam merah putih dan sepatu dijinjing ditangan itu berangkat dengan penuh keceriaan dan wajah penuh semangat.

Jarak dari Hulu Aie Patai ke pusat Kampung Tanjuang Durian sekitar 1,7 KM dan perjalan dilanjutkan kekampung tetangga sekitar 2 Km lagi. Hulu Aie Patai sendiri berada dalam kungkungan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Maka tak pelak jalan yang dilalui anak anak untuk dapat bersekolah adalah hutan lebat dan semak belukar.

"Tantangan terbesar kami saat mengantar anak anak adalah ancaman hewan dari hutan. Kami melewati jalan setapak dimana pada sisi kiri dan kanan jalan setapak itu dedaunan pohon dan semak nyaris bertaut, dan sulit menduga adanya hewan berbahaya," kata Simon.

Menurutnya, siswa sering memergoki sejumlah babi hutan diperjalanan, bahkan ular. Soalnya pada pagi hari babi hutan tengah pulang ke "jumun" (sarang-red) setelah mencari makanan dari dalam kampung. "Tapi biasanya babi hutan itu tidak mengganggu sepanjang kita juga tidak mengganggu mereka," ungkap Simon. 

Tantangan selanjutnya menurut Simon adalah bila hari hujan. Mereka tidak bisa menebak kondisi air sungai pada sejumlah tempat penyeberangan. Biasanya, air sering meluap di hiliran Aie Patai yang berada di gerbang Kampung Tanjuang Durian. "Bila air disini besar maka anak anak terpaksa pulang saja, karena tidak ada jembatan untuk dilewati," katanya.
 
Pagi itu perjalanan mereka mulus. Tidak ada hewan buas yang menghalangi mereka di jalan. Tibalah mereka di gerbang Kampung Tanjuang Durian. Para orang tua itu hanya mengantar hingga gerbang itu lalu mereka kembali pulang, karena perjalan selanjutnya anak anak sudah melewati pemukiman penduduk dan mereka telah bergabung dengan anak anak Pusat Kampung Tanjuang Durian.

Perjalanan sepanjang 2 km dilanjutkan. Lalu, yang paling besar diantara mereka bertanggung jawab untuk mengontrol adik adiknya, baik saat di sekolah maupun saat dijemput kembali oleh orang tua mereka di gerbang kampung.

Mereka sudah terbiasa menempuh perjalan panjang dan berat itu untuk mendapat pelajaran. "Tapi pak, bila dapat bangunlah sekolah dikampung kami ini, biar kami bersekolah tidak terlalu jauh," celetuk Riki yang bercita cita menjadi tentara itu.

Terkait dengan sarana pendidikan di sana, Rafles, Kepala Kampung Tanjung Durian menyebutkan, dikampung yang dipimpinnya itu memang tidak ada Sekolah Dasar sehingga siswa harus belajar jauh ke Kampung Aie Kalam. Mungkin ini satu satunya kampung di Pessel yang tidak punya sarana pendidikan.

"Ada dua tempat siswa yang harus menempuh perjalan berat kese kolah, pertama mereka yang bermukim di Hulu Aie Patai dan anak anak dari Bukik Gadang. Dari kedua tempat, jarak tempuh sama yakni sekitar 6,5 Km pulang pergi," katanya.

Menurutnya, ia melalui pemerintah nagari telah sering mengajukan permohonan agar Kampung Tanjuang Durian dibangun Gedung Sekolah Dasar ke pemerintah kabupaten. "Awalnya kami diberikan soslusi yakni dengan membangun sekolah filial dengan dana swadaya. Tapi kampung kami tidak punya biaya untuk itu pak," kata Rafles.

Disebutkan Rafles, jumlah siswa baru yang mendaftar ke SD di kampung tetangga setiap tahun sekitar 30 siswa, bahkan lebih. "Kini jumlah anak anak kami yang menuntut ilmu di SD Aie Kalam tidak kurang dari 100 siswa. Oleh sebab itu, jika pemerintah berkenan bantulah kami dengan membangun sekolah disini," katanya penuh harap. ***

 

Baca Juga : Waspadalah! Gelombang Tinggi hingga 5 Meter Berpotensi Terjadi di Perairan Sumbar

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]