Tapian Janiah, Grup Randai Kaum Muda Sawahlunto


Selasa, 03 Mei 2016 - 02:54:53 WIB

SAWAHLUNTO, HALUAN — Kesenian tradisional sangat identik dengan mereka kaum tua, yang telah lanjut usia. Namun tidak untuk grup randai yang satu ini. Bahkan, tidak satupun anggota grup randai yang berada di Nagari Lunto Kota Sawahlunto ini berusia lebih dari 25 tahun.

Adalah grup Randai Tapian Janiah Nagari Lunto, yang berada di Kecamatan Lembah Segar ‘Kota Arang’, didirikan kaum muda nagari tepatnya 19 Oktober 2015 lalu. Awalnya hanya beranggotakan delapan personil.

Namun dalam hitungan satu semester saja, grup randai yang dimotori Seprisyam itu telah memiliki lebih dari 50 orang. Rata-rata semuanya masih remaja, mahasiswa, pe­lajar sekolah, bahkan ada yang masih duduk di sekolah dasar.

Sedikit berbeda dengan kesenian randai yang umum­nya, grup Tapian Janiah ini mengusung randai silat tradisi, yang menggabungkan beberapa unsur silat yang ada di mi­nangkabau. Sebut saja silat Pauh, silat Tuo, silat Kumango, Stralak dan silat Harimau.

Cerita yang mereka ba­wakan juga cerita klasik, di­antaranya cerita Zainuddin dan Pamenan Mato. Keduanya me­rupakan cerita lama, yang ma­sih tetap menarik untuk dice­ritakan di tengah gelanggang randai.

Pamenan Mato sendiri, menurut Seprisyam, meng­ungkapkan kisah hidup pe­muda Minangkabau yang me­rantau ke Malaka Malaysia. Sang pemuda dijodohkan de­ngan anak mamak.

“Cerita Pamenan Mato ini belum rampung, saat ini masih dalam tahap penyelesaian ke­lanjutan cerita, yang digarap dosen saya di Universitas An­dalas,” ungkap lulusan Sastra Daerah Universitas Andalas tahun 2015 itu.

Meski demikian, grup Ta­pian Janiah juga tidak menutup diri dengan cerita-cerita pe­sanan, yang diinginkan para pengundang mereka untuk tampil. Salah satunya cerita tentang kesehatan yang mereka tampilkan dalam lomba Pe­rilaku Hidup Bersih Sehat akhir 2015 lalu.

Cerita lainnya yakni Kaciak Timbago, yang mengisahkan tentang perjalanan hidup orang susah, yang kemudian berhasil dalam kehidupan, setelah ber­juang keras untuk mengikuti pendidikan.

Selain mendalami kesenian randai, grup Tapian Janiah ini juga mengembangkan kesenian nagari tersebut, dengan mem­berikan pelatihan kepada para pelajar. Belum lama ini, me­reka melatih para pelajar SM­AN 1 dan SMK 2 Sawahlunto.

Meski menyita waktu, bagi kaum muda Nagari Lunto itu, mendalami kesenian randai bukanlah fokus untuk men­dukung perekonomian ang­gota. Tujuan utama mereka, hanyalah untuk melestarikan kesenian daerah yang dimiliki. 

“Kami tidak fokus ke eko­nomi, pelestarian budaya dan kesenian yang dimiliki menjadi tujuan utama, yang harus diles­tarikan dari satu generasi ke generasi be­ri­kut­nya. Sehingga tidak pudar ditelah zaman,” ungkap Sep­risyam bersama beberapa ang­gota randainya.

Rata-rata dalam setiap pe­nam­pilan, dengan melibatkan setidaknya 18 personil itu, mereka yang ingin memboyong Tapian Janiah untuk tampil, bisa merogoh kantong hingga Rp2,5 juta, dalam pertunjukan yang bisa berjalan hingga enam jam itu.  (h/dil)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM