Memberangus ‘Pembudidayaan’ Kebudayaan Bisu Pendidikan


Selasa, 03 Mei 2016 - 03:22:33 WIB
Memberangus ‘Pembudidayaan’ Kebudayaan Bisu Pendidikan

Pendidikan diciptakan dan dibangun bersama, bukan untuk kaum tertindas, karena Pendidikan adalah proses untuk kemerdekaan, bukan untuk penjinakan sosial dan budaya (Paulo Freyre)”

Pendidikan yang meng­gunakan metode menghafal dan mendengarkan tenaga pendidik ceramah, cukup lah sampai SMP, dan sekurang-kurangnya ketika SMA itu diminimalisir. Karena, ketika kuliah itu tidak akan relevan lagi dengan situasi dan kon­disi lingkungan. Karena, ma­ha­siswa terutama- tidak lagi musti didik dengan meng­hafal bahan kuliah dan men­dengar. Tetapi hadapkan me­re­ka kepada fenomena social.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Mengkritisi metode pen­di­di­kan, terutama pembe­lajaran memang akan panjang rentetannya. Karena, selain sudah terbiasa, persoalan pribadi tenaga pengajar (ge­lar, ego dll) juga mem­pe­ngaruhi metode pendidik untuk mendidik. Dan yang terpenting adalah, peng­gu­naan pendidikan sebagai sara­na “penyelamatan kekua­saan” para penguasa, misalnya bagaimana mengatur pendi­dikan sedemikian rupa agar mengurangi daya kritis maha­siswa, mempercepat waktu kuliah, mengarahkan maha­siswa kepada wirausaha atau menyibukkan dengan tugas dan padatnya jadwal perku­liahan. Akibatnya, waktu mahasiswa –terutama- untuk mengenal lingkungan social dan kepekaan social dalam dunia orga­nisasi menjadi ber­kurang.

Karena dengan pendidikan, seseorang bisa keluar dari zona penindasan.  Bisa dibayangkan, se­kitar tahun 1960, jumlah penduduk yang bisa memilih (ikut pemilu) di Brazil adalah sekitar 34,5 juta jiwa, namun yang diperbolehkan memilih hanya sekitar 15,5 juta jiwa. Hal ini disebabkan salah satu syarat dari bolehnya ikut Pemilu adalah mampu menu­liskan namanya sendiri. Bisa kita asumsikan sebagian besar orang yang tidak ikut memilih adalah orang yang tidak pan­dai menulis dan buta aksara. Pendidikan lagi-lagi menjadi alat penindasan bagi pengua­sa, ketika hak seseorang diba­tasi lantaran kurangnya pendi­dikan yang dimiliki oleh orang tersebut. Pendidikan telah kehilangan hakikat kebera­da­annya sebagai sarana pencer­dasan, namun berubah men­jadi alat penindasan.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Pendidikan merupakan senjata utama untuk mem­pe­roleh kemerdekaan. Tidak hanya kemer­de­kaan dalam kon­teks berperang, namun da­­­lam ke­mer­de­kaan Intelektual pun juga harus merdeka. Pendidikan selalu dijadikan instrumen untuk melawan pembodohan penguasa. Karena pendidikan itu untuk mencerdaskan, su­dah tentu segala jenis pem­bodohan-pembodohan harus ditentang. Jika pada masa penjajahan dahulu pendidikan untuk menentang pembo­dohan oleh kolonial Belanda, kini tentu berguna untuk menentang pembodohan pe­ngua­sa. Karena konteks pen­di­dikan kini untuk mencer­daskan masyarakat, agar da­pat mengawal pemerintah.

Pendidikan bagi masya­rakat menjadi harapan untuk mendapatkan pencerdasan, guna sampai kepada kemer­dekaan. Tapi, pendidikan juga dapat digunakan sebagai alat penindasan oleh para pengua­sa. Misalnya, ketika hak sese­orang dibatasi lantaran ku­rang­nya pendidikan yang di­mi­liki oleh orang tersebut, maka pendidikan telah kehi­langan hakikat keberada­an­nya sebagai sarana pencer­dasan, namun berubah menja­di alat penindasan. Atau, bagi penguasa pun pendidikan dapat berubah menjadi komo­ditas dagang. Lewat pendi­dikan, penguasa bisa menge­ruk keuntungan, dan ketika itulah kapitalisasi pendi­dikan. Disaat masyarakat tidak ada uang, pendidikan itu hanya angan-angan. Yang boleh ikut pendidikan hanya­lah orang kaya. Adagium yang berlaku untuk Pendi­di­kan adalah “yang kaya makin pintar dan yang mis­kin makin  bodoh”.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Interaktif

Se­­ma­ngat maha­sis­wa da­lam menggali ilmu sudah se­layaknya diberi apresiasi. “Pe­nyalahan” argumentasi ma­hasiswa secara telak, me­ru­­pakan antitesis dari peng­har­gaan terhadap semangat ma­hasiswa dalam menuntut il­mu. Penghakiman “anda sa­lah” terhadap argumentasi ma­hasiswa oleh tenaga pe­nga­jar itu, sesungguhya hanya men­jadikan mahasiswa tidak krea­tif dan inovatif. Ke­krea­ti­fan mahasiswa di reduksi ji­ka hal itu bertentangan de­ngan argumentasi atau pen­da­pat tenaga pengajar. Dan aki­batnya, mahasiswa hanya men­jadi replika dari sang do­sen, atau fotocopy nya do­sen.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Dan berbicara pendi­dikan, maka sudah tentu kita tak “afdhol” jika tidak mem­bawa pemikiran Freyre, kare­na metode seperti demikian, pada dasarnya mirip dengan kritikan Freyre terhadap pen­di­dikan gaya tradisional. Da­lam metode tradisional ini, proses pembelajarannya ber­sifat Menggurui dan meng­hafal. Guru berada pada po­sisi orang yang berilmu, se­hing­ga memiliki kuasa lebih dalam hal wawasan dan ke­ilmuan. Sehingga lebih cen­de­rung memberi atau me­nyuap­kan daripada menggali potensi muridnya, lalu sang murid diberi metode hafalan sehingga mematikan daya analisisnya.

Metode pendidikan beri­kut­nya yang dikritik Freyre adalah metode pendidikan Gaya Bank. Pada metode ini, para guru ibarat seorang nasa­bah dan para murid adalah deposito. Guru menabung ilmunya kepada murid, ka­re­na para murid ha­nya men­­jadi wadah ba­gi gu­ru untuk me­­­nyalurkan ilmu­nya. Se­hing­ga, pa­­­ra mu­rid ha­nya men­jadi ce­takan da­ri para gu­runya. Ana­lo­gi­nya sama se­­perti sang gu­ru ada­­lah cerek be­risi air, la­­lu sang mu­rid ada­lah ge­las ko­song yang ha­rus diisi. Murid tentu menerima bulat-bulat apa yang di­beri sang guru, karena pro­ses ko­­mu­ni­ka­si­nya ber­­sifat satu arah, guru memberi dan mu­rid menerima.

Pendidik Terdidik, me­ru­pakan sebuah istilah yang diberikan untuk metode pen­didikan alternatif yang di­usulkan Freyre. Metode alter­natif Freyre dinamai Problem Posing Education  (baca: Pendidikan Hadap Masalah). Metode ini menitik fokuskan pada cara Dialog untuk pem­belajarannya, dimana guru belajar ke murid dan murid juga belajar kepada Guru. Guru dan murid sama-sama menjadi subyek dalam berfi­kir, namun disatukan dengan obyek yang sama. Dengan begitu, akan muncul metode berfikir yang konstruktif kare­na keduanya sama-sama meng­gali keilmuan dari ma­sing-masing pihak.

Dalam fokusnya dibi­dang pendidikan dan pem­be­basan, Freyre menja­lan­kan gerakan pemberantasan Buta Aksara dalam rangka memberikan pendidikan kepada kaum tertindas. Ka­re­na orang-orang tertindas tidak mendapat pen­di­dikan layaknya, sehingga banyak dari mereka yang tidak bisa membaca dan me­nu­lis. Frey­re telah berkelana ke bebe­rapa Negara, seperti Chili, Angola, Mozambik, Nika­ragua dan lain-lain un­tuk menjalankan gerakan pem­berantasan Buta Aksara ter­­se­but. Metode yang di­gu­­na­kan dalam gerakan ter­­se­but adalah Praksis, yaitu pro­ses dialektis tanpa henti an­tara aksi dan re­fleksi, dan ba­lik menjadi refleksi dan aksi.

Penutup

Pada dasarnya, tempat pendidikan (Sekolah dan PT) dapat dikatakan baik dan berkualitas apabila ditopang dengan suasana dan keadaan yang menarik minat peserta pendidikan untuk betah jika berada disana. Tempat pendi­dikan pun harus menjadi ru­mah kedua bagi peserta didik, sehingga dapat memberi ke­tentraman dan kenyamanan bagi mereka. Dan tentu saja iklim dari stakeholder disana akan begitu mempengaruhi kenyamanan disana –teru­tama metode pembelajaran-.Tempat pendidikan tidak lagi menjadi penjara, bukan lagi menjadi bui yang  membuat peserta didik tidak betah dan cepat ingin keluar dari sana, karena peserta didik merasa sumpek dan stres dengan kepadatan jam belajardan metode pembelajaran yang membosankan.

Dalam ajaran Ki Hadjar Dewantoro, pendidikan itu Ing Ngarsa Sungtulodo (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun karso (di tengah menjadi pelopor), Tut Wuri Handayani (di be­lakang memberi dorongan) akan selalu menjadi dasar pen­didikan di Indonesia. Sem­boyan Tut Wuri Han­dayani merupakan sem­bo­yan yang dipakai dalam du­nia pen­didikan di Indonesia. (*)

 

IKHSAN YOSARIE
(Anggota Penuh UKM Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]